Persoalan Ideologi Belum Selesai

Dalam sebuah dialog di sebuah TV nasional, seorang petinggi partai Islam mengatakan bahwa persoalan ideologi sudah selesai. Karena itu,  menurutnya yang penting adalah bagaimana kita memberikan solusi terhadap persoalan-persoalan bangsa ini.  Pernyataan seperti itu  sering kita dengar sebagai bentuk penolakan halus  terhadap pemikiran tentang wajibnya diterapkan  ideology Islam, syariah Islam  atau negara Islam (Khilafah). Dengan menganggap persoalan ideology telah selesai , tidak perlu lagi dipersoalkan masalah ideology. Ada juga yang mengatakan  membahas masalah ideology , bentuk negara , apakah khilafah atau tidak, hanya buang-buang waktu dan energi. Karenanya perdebatan ini harus dihentikan , yang penting sekarang adalah memberikan solusi bagi bangsa ini. Namun benarkah ?

Ideologi dalam pengertian pandangan hidup yang menjadi asas mendasar dalam berbagai aspek kehidupan (ekonomi, politik, pemerintahan dll) adalah sangat penting dalam sebuah negara. Sebab ideologi ini akan menentukan dasar negara, aturan seperti apa yang akan diterapkan untuk menyelesaikan berbagai persoalan  yang dihadapi oleh negara dan kearah mana negara itu akan dibawa.  

Dalam pandangan  syekh Taqiyuddin an Nabhani ,ideologi (mabda) adalah pemikiran mendasar yang melahirkan sistem aturan (nidzom) seperti  ekonomi, politik, hukum dll). Warna dan corak ideologi tentu saja akan ditentukan oleh pemikiran mendasarnya (aqidah) . Dimana aqidah ini akan mengarahkan fungsi ideologi sebagai qo’idah fikriyah (kaedah berpikir)  yang menjadi landasan berpikir yang dibangun diatasnya pemikiran lain. Dan juga sebagai qiyadah al fikriyah  (kepemimpinan berpikir) yang akan menentukan misi dan tugas apa yang wajib diemban oleh negara.   

Masih menurut Syekh Taqiyuddin, ideologi (mabda) ini akan menentukan bagaimana sebuah negara memecahkankan persoalan kehidupanya berikut tata cara praktisnya. Ideologi ini juga akan diemban oleh negara itu keseluruh penjuru dunia dan sekuat tenaga akan dipertahankan oleh negara itu.   Karena itu sangatlah mengherankan kalau ada pihak yang menyatakan persoalan ideologi sudah selesai dan yang penting kita memberikan solusi. Sebab solusi apa yang akan kita berikan terhadap negara itu tergantung pada dasar ideologinya.  

Kita tahu kebijakan yang diambil di Indonesia sangat dipengaruhi ideologi apa yang diadopsi negara ini. Saat awal orde baru, ketika Indonesia mengalami banyak persoalan seperti kemiskinan, pengangguran, konflik militer dan politik, Suharto hadir memimpin Indonesia. Solusi yang dia berikan adalah merujuk kepada ideologi Kapitalisme. Mulailah Suharto dengan tim ekonominya  melakukan liberalisasi ekonomi dan pasar. Indonesia pun terikat pada IMF dan Bank Dunia yang memberikan pinjaman hutang. Di sisi lain, Indonesia harus membuka pasar dan kekayaan alamnya untuk diekploitasi oleh asing atas nama investasi dan pembangunan ekonomi.  Bahwa Indonesia semakin kapitalistik sangat terasa justru pada pasca reformasi. Keluarlah berbagai undang-undang yang sangat pro liberal. Seperti UU Migas, UU Sumber Daya Air, UU Penanaman Modal, UU Kelistrikan dan sebagainya. Berdasarkan UU yan pro liberal inilah berbagai kebijakan ekonomi dibangun sebagai solusi terhadap persoalan bangsa.  Karena itu solusi apa yang akan diberikan sangat ditentukan oleh ideologi apa yang diantut oleh sebuah negara.   Mempersoalkan ideologi apa yang dianut negara menjadi sangat penting. Sebab akan menentukan arah kebijakan negara.

Dalam konteks inilah Hizbut Tahrir mengkritik ideologi kapitalisme yang diterapkan oleh Indonesia. Sebab Hizbut Tahrir melihat berbagai persoalan bangsa yang dihadapi saat ini justru berpangkal dari penerapan ideologi kapitalisme oleh negara, apapun kemudian bungkus dan istilah untuk ideologi itu.  

Bagi Hizbut Tahrir, persoalan ideologi belum selesai. Sebab saat ini negara masih mengadopsi ideologi Kapitalisme. Hal ini  harus terus menerus harus dipersoalkan karena mensengsarakan masyarakat. Bagaimana mungkin kita mengatakan persoalan ideologi sudah selesai, sementara di depan mata kita kebijakan liberal yang bersumber dari kapitalisme ini telah membawa penderitaan masyarakat. Persoalan ideologi baru selesai, kalau Indonesia mencampakkan ideologi kapitalisme dan menggantikannya dengan Islam.  

Dalam konteks inilah kenapa Hizbut Tahrir menawarkan solusi syariah dan Khilafah bagi bangsa ini. Sebagai cermin kepedulian yang mendalam terhadap rakyat yang menderita akibat penerapan ideologi kapitalisme . Juga tentu sebagai cerminan dari ketaqwaan kepada Allah SWT yang mewajibkan seorang muslim untuk menegakkan hukum Allah SWT. Sebab, adalah persoalan iqtiqodi (keimanan), bahwa setiap kali manusia berpaling , tidak mau tunduk terhadap hukum Allah SWT, akan menuai bencana dan penderitaan manusia.  Penerapan syariah Islam oleh Khilafah akan menggantikan sistem ideologi Kapitalisme yang bobrok itu. Khilafah akan menerapkan syariah Islam yang rahmatan lil ’alamin, bukan hanya bagi muslim tapi juga non muslim. Dalam syariah Islam, negara wajib menjamin kebutuhan pokok tiap individu rakyat (sandang, pangan, dan papan) muslim maupun non muslim. Negara tidak boleh membiarkan ada rakyatnya yang lapar, tidak punya rumah, dan tidak punya pakaian. Masih berdasarkan syariah Islam, negara menjamin kesehatan gratis, pendidikan gratis dan transportasi murah.  

Untuk mendanai semua itu, negara mendorong setiap muslim untuk  bekerja keras memenuhi kebutuhan pokoknya, negara hanya akan membantu kalau setelah bekerja keras kebutuhan pokoknya masih belum terpenuhi dan keluarga dekatnya tidak bisa membantunya. Negara juga akan mengambil zakat dari orang-orang kaya yang digunakan untuk mensantuni orang-orang miskin.

Sumber penting lain dari dana negara adalah pemilikan umum seperti tambang emas, perak, minyak, hutan, yang merupakan milik rakyat . Negara akan mengelolanya dengan baik, dimana keuntungannya diberikan kepada rakyat  bukan untuk asing.  

Dalam pandangan Hizbut Tahrir, selama persoalan ideologi ini belum  selesai, selama negara masih menerapkan ideologi kapitalisme maka persoalan bangsa ini pun tidak akan pernah selesai. Lihatlah sejak masa orde lama, orde Baru di era Suharto (30 tahun lebih) hingga kini , solusi-solusi yang diberikan tidak bisa menyelesaikan masalah masyarakat. Alih-alih menyelesaikan,  malah menambah persoalan masyarakat. Sudah seharusnya negara dan bangsa ini kembali kepada syariah Islam yang akan menjadi solusi.   Karena kesadaran akan kewajiban menyelesaikan persoalan masyarakat, tanggung jawab agar Indonesia dan negeri Islam lainnya serta dunia menjadi lebih baik, dan kecintaan kepada rakyat yang diperintahkan oleh Allah SWT Hizbut Tahrir dengan gigih memperjuangkan tegaknya syariah dan Khilafah. Inilah pulalah yang membuat kenapa Hizbut Tahrir selalu memperdebatkan persoalan ideologi kapatalisme ini dan selalu berdiskusi tentang wajibnya Khilafah. Perdebatan, diskusi adalah bagian dari pergolakan pemikiran untuk mencari kebenaran yang sejati.   Dan ini bukanlah pekerjaan sia-sia apalagi menghabiskan energi tanpa arti . Pekerjaan ini adalah sangat mulia di sisi Allah SWT karena tegaknya syariah dan Khilafah diperintahkan oleh Allah SWT. Pekerjaan ini juga mulia karena akan menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat. Bukan pula buang-buang energi, karena Hizbut Tahrir secara sistematis, serius dan konsepsional bersama rakyat sedang menegakkan kembali syariah dan Khilafah yang menjadi solusi bagi  penderitaan dan persoalan masyarakat. (Farid Wadjdi)   

Baca juga :

  1. Problem Ideologi Belum Selesai
  2. Konflik Ideologi Belum Berakhir
  3. Ridge: Kami Telah Membunuh Bin Laden, Tapi Kami Belum Membunuh Ideologi Islam
  4. Kenapa Ideologi Islam Dianggap Asing, Sedangkan Kapitalisme Tidak?
  5. KH. Muhammad Shiddiq Al-Jawi : Ideologi Negara Tidak Jelas

18 comments

  1. Dengan menganggap persoalan ideology telah selesai , tidak perlu lagi dipersoalkan masalah ideology.

    Ada juga yang mengatakan membahas masalah ideology , bentuk negara , apakah khilafah atau tidak, hanya buang-buang waktu dan energi.

    Karenanya perdebatan ini harus dihentikan , yang penting sekarang adalah memberikan solusi bagi bangsa ini.

    komentar:
    yang benar adalah problematika umat gak slesai-slesai dengan ideologi yg dianggap dah slesai. Nyoba2 solusi yg telah ada telah memakan waktu yg sangat panjang, memakan energi yg banyak, bahkan telah memakan korban.

    Apa sih susahnya duduk sebentar mendengarkan sebuah konsep ideologi baru dan solusi baru? takut tertarik ya? Takut umat percaya ya?

  2. SETUJU……BANG….

  3. iman ti bandung

    Benarlah apa yang dikatakan Kang Farid Wadjdi ini, bahwa selama persoalan ideologi ini belum selesai, selama negara masih menerapkan ideologi kapitalisme maka persoalan bangsa ini pun tidak akan pernah selesai.

    Cik atuh baleg weh saeutik, ngan Islam nu bisa nyalameutkan urang2, dunia-akhirat!

  4. Persoalan yang sering di dengung-dengungkan oleh pejuang Ideologi Islam tentang penyelesaian masalah dengan solusi Syariah dan Khilafah adalah perkara keimanan; bukan perkara membuang-buang energi apalagi perkara yang bukan-bukan.

    So, perkara Syariah dan Khilafah adalah perkara harga mati.
    Dan perkara NKRI (Negara Khilafah Rasyidah Islamiyah) sudah final.

  5. Lihatlah maksud baik kita yang ingin ikut menyelesaikan problematika negri ini.

    Kalo benar ideologi Anda sudah final, dah selesai, berarti sangat kekar dong, ketika hanya harus berdiskusi dengan ideologi baru. Namanya juga telah final.. pasti sangat remeh menghadapi ideologi baru yg “belum berpengalaman” menyelesaikan masalah negeri ini.

    Buang2 waktu?
    faktanya hanya perlu waktu yang sedikit dalam diskusi untuk membuktikan bobroknya ideologi sekuler.
    Memerlukan waktu sedikit untuk merenung, hingga menyadari bahwa telah banyak waktu dan korban yg terbuang percuma untuk terus mempertahankan ideologi ini.

    Tidak memerlukan intelegensi yg tinggi untuk paham bahwa problem terus berlarut2 walau dengan segala konsep dari ideologi sekuler ini telah dicoba.

    kami siap menyisihkan waktu yg sedikit (tidak buang2 waktu), dan Anda perlu sedikit menyisihkan kesombongan bahwa hanya Anda yg peduli.

    (atas nama Tuhan, atas nama cinta, atas nama kepedulian pada sesama, bahkan kepedulian pada Anda)

  6. Mencermati pandangan tokoh-tokoh pro demokrasi yang mengatakan persoalan ideologi telah selesai dan menyatakan NKRI dengan dengan sistem / ideologi pancasila & demokrasinya telah final dan tidak bisa diganti dengan ideologi lain lagi. Kemudian ketika ada kelompok lain (HTI) yang menawarkan sistem syariah & khilafah para tokoh pro demokrasi tersebut rame-rame mencari dalil apakah pendirian khilafah itu ada atau tidak dalilnya dalam al quran.
    Sungguh menggelikan ketika kita melihat fakta tersebut, para tokoh pro demokrasi itu rame-rame nyari dalil tentang khilafah padahal dalil tentang khilafah itu sudah sangat jelas ada dan juga khilafah sudah pernah berdiri selama 14 abad (kalau pendapat mereka 30 tahun,*itu juga namanya khilafah pernah ada) :). Dan juga mereka rame-rame nyari ulama2 terdahulu yang menolak sistem khilafah sedangkan yang mendukung khilafah ga mereka cari, anehh:). Terus juga yang lebih anehnya mereka ga terlalu bersemangat banget mencari dalil apakah demokrasi itu haram atau wajib diterapkan di Indonesia.

    ” Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”. (QS.Al Maa’idah: 50).

  7. pengawalrevolusi

    mau tau negara dengan ideologi gado-gado? buka mata semuanya hanya ada di Indonesia….

  8. abee ramadhani

    Masalah utama bangsa ini sebenarnya keyakinan/kepercayaan…
    ketika keyakinan dan keimanan thd Allah SWT itu luntur, yang dipilih adalah solusi kesejahteraan dunia dengan kriteria kapitalisme….yang jelas acuan dan jalannya harus kapitalisme….(aneh juga standard kesejahteraan kapitalisme tapi dilaksanakan dengan aturan yang lain…ah lieur)
    dan semakin jelas pula makin berpisahnya peran negara dan manusianya dengan keimanan…
    rasa rindu dan sanggup terhadap aturan Allah mangkin menjauh karena tidak dijadikan sebagai
    dasar pemikiran,
    dasar pijakan dan
    pegangan dalam mengarungi kehidupan…
    Hidup yang hanya sesaat ini sebetulnya harus dijadikan manfaat akhirat…
    karena dengan menggunakan manfaat akhirat, dunia akan bermanfaat…
    Masalah ideologi adalah masalah keimanan….
    tidak mau melaksanannya,
    atau merasa kurang mampu melaksanakannya
    bahkan meragukan thd aturan dan petunjuk Nya…
    tinggal balasan…
    Wallahu ‘alam bishowab

  9. Boro-boro mikirin ideologi, mikirin gimana cara bayar sekolah anak, entar makan apa, gimana cara biar dapet kerja aja susahnya bukan main……..

  10. bayaran sekolah mahal, bingung entar mau makan apa, cari kerja susah, itu mungkin terjadi karena situ gak pernah mikirin ideologi

  11. Ahmad Ibnu Hadi -- Depok

    …maka jika kita merasa susahnya hidup dalam sistem sekuler yang kapitalistik saat ini, harus segera kita akhiri kondisi ini dengan kita berjuang bersama mewujudkan berlangsungnya kembali kehidupan Islam…yang aqidah Islam adalah dasar negaranya…

  12. Akar permasalahannya :
    Mereka selalu berpikir dangkal
    Takut tdk bisa maksiyat lagi
    TAkut tdk bisa KKN lagi
    Apakah mereka malas masuk surga?atau rindu akan neraka?

  13. Dalam membicarakan masalah ideologi, emang susah kalo yang diajak omong udah antipati dahulu. bukannya denger yang kita omongkan, malah udah nuduh bahwa kita gak ngerti apa itu demokrasi. yang lebih lucu lagi, mereka bilang demokrasi itu sesuai dengan Islam. ada musyawarah,dsb. mereka gak pernah mikir kalo demokrasi yang sebenarnya justru melenceng jauh dari Islam dengan men-dewa-kan rakyat (or wakil rakyat) dan membiarkan mereka membuat undang-undang seenak udele dewek!
    ketika kita bilang, demokrasi itu gak sesuai fitrah manusia, yang emang gak mampu bikin hukum, mereka menganggap kita ini penghina umat manusia. lho, kalo omong kenyataan, apa iya bisa dibilang menghina, karena keyataannya kita toh gak pernah bisa bikin hukum. manusia terlalu bodoh dan sarat dengan kepentingan pribadi dan kelompoknya ketika diminta membuat hukum.
    ada lagi yang bilang, khilafah itu gak lepas dari kesalahan juga. sejarah membuktikan bahwa di masa khilafah, umat Islam saling bunuh.
    ini lagi, menyamaratakan sejarah dengan kemurnian ideologi. membicarakan sejarah, mereka gak pernah sekalipun membicarakan bahwa khalifah anu sukses membuat tidak ada satu rakyatpun yang berhak menerima zakat, khalifah itu sukses menyebarkan Islam hingga eropa, khalifah ini berhasil mendirikan pusat ilmu pengetahuan dengan ribuan buku perpustakaannya, dsb, karena itu akan menghalangi kepentingan mereka untuk tetap berkubang dalam kepentingannya dengan demokrasi kapitalisme.
    mereka bilang kita harus jujur dengan sejarah, tetapi mereka sendiri gak jujur blas dengan sejarah.
    coba sebutkan pemimpin dunia mana yang sukses menggunakan ideologi kapitalisme demokrasi untuk mensejahterakan rakyatnya, hingga rakyatnya semua mampu hidup layak dan tidak ada pendiskriminasian dengan negara lain. jawabnya, Gak ada ! soalnya kalau satu negara sukses, itu dikarenakan mereka sukses menjajah negara lain. nah loh, mana HAM yang diagungkan itu ? masukin aja kekotak sampah!!!
    pake otak dong, jangan cuma hawa nafsunya aja yang diumbar! OK?!!!!
    Wassalam.

  14. Kalo menurut saya begini, pernyataan2 yang dilontarkan petinggi partai Islam itu wajar2 aja karena memang di lingkungan partai mereka itu sendiri memiliki Mindset yang Nyaris hampir sama tentang Ideologi yang seharusnya diterapkan di Indonesia. So, Don’t Take it Too Seriously Brother..Itulah seninya merubah cara pandang seseorang, Ngga bisa langsung “Mak Ces Pleng” langsung setuju dengan Syariah & Khilafah yang didengungkan Hizbut Tahrir. Segala sesuatu adalah Proses, segala sesuatu yang bukan proses adalah Mati, sekalipun seseorang harus mati untuk bisa memulai sebuah proses.

  15. woooii…ideologi belum selesai bung. selama islam belum diterapkan. buang tu kesombongan. bergabunglah dengan hizb-Allah dan jauhkan hizbussyaiton. sambutlah datangnya khilafah, Allahu Akbar.

  16. Kalau ideologi yang diadopsi Indonesia ini dianggap sudah final, alangkah menderitanya saya sebagai salah seorang yang hidup di negeri ini. Bagaimana tidak, negara yang carut marut begini, dikatakan ideologinya sudah final. Semua solusi yang diberikan selama ini tidak lepas dari ideologi yang embannya. Orang yang mengatakan ideologiyang diadopsi Indonesia sudah final, berarti setuju dengan kelaratan, kesengsaraan yang dialami rakyat Indonesia. Mestinya, kalau selama ini INDONESIA tidak bisa menyelesaikan problematika rakyatnya dengan baik, sekalipun presidennya sudah berganti-ganti seharusnya menyadarkan rakyat negeri ini untuk segera mencari ideologi baru sebagai landasan dalam menyelesaikan semua problem yang ada.

  17. Permasalahan ideologi adalah permasalahan ridho Allah. kenapa mereka tidak mau diridhoi Allah?

  18. yang mengatakan kalau “persoalan ideologi telah selesai dan tidak usah diperdebatkan lagi” adalah orang yg utopis dan memiliki pemikiran yang -stuck-, alias dah mentok, sehingga kita wajib mengasihani dan mendakwahi mereka agar mereka tersadar dan ikut bangkit bersama kita mengusung ideologi islam untuk memimpin dunia. Allahu Akbar!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


8 − 3 =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Switch to our mobile site