Bangkitlah Indonesiaku dari Keterpurukan dengan Konsep Syariah
HTI Press. Dalam rangka memperingati 100 Tahun Kebangkitan Nasional, maka DPD II HTI Kabupaten Bogor bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor, Kantor Departemen Agama Kabupaten Bogor dan Majlis Ulama Indonesia Kabupaten Bogor, pada hari Ahad kemarin (11/5), bertempat di Gedung Serba Guna II Pemda Kabupaten Bogor Jl. Raya Tegar Beriman Cibinong Bogor, mengadakan acara Diskusi Panel “Indonesia Menuju Kebangkitan Hakiki”. Hadir sebagai pembicara Dr. Hendri Saparini (Anggota Tim Indonesia Bangkit), Dr. Maman Kh., MSi. (Pengamat Sejarah Islam, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta), dan Ustadz M. Rahmat Kurnia (Ketua Lajnah Siyasiyah dan Direktur Pusat Kajian Politik Islam Dewan Pimpinan Pusat Hizbut Tahrir Indonesia). Acara ini dibuka dengan sambutan dari ustadz Didik Suhermanto SSi., Ketua DPD II HTI Kabupaten Bogor, kemudian turut memberikan sambutan perwakilan dari Diknas dan Kandepag. Alhamdulillah, tidak kurang dari 400 peserta undangan mengikuti diskusi dari kalangan guru sejarah, guru agama, institusi, ormas, dan masyarakat umum.
Ibu Hendri menyoroti betapa ekonomi Indonesia demikian lemah dengan melihat indikator tingkat kesejahteraan rakyat, rapuhnya struktur industri manufaktur, adanya penguasaan berbagai sektor strategis oleh asing, dan ketergantungan pemerintah terhadap pembiayaan luar negeri yang sangat tinggi. Sementara itu meskipun Pemerintah memiliki anggaran pengentasan kemiskinan yang semakin besar, namun jumlah penduduk miskin tidak berubah [data BPS tahun 2004 - 2007]. Kepemilikan asing di instrumen finansial Indonesia juga meningkat tajam. Total pertumbuhan porsi asing di sektor saham, SUN dan SBI adalah meningkat 33% dalam kurun waktu 1 tahun (2006-2007). Pendapatan per kapita Indonesia juga paling lemah di Asia. Pada tahun 1960-an, GNP Indonesia, Malaysia, Thailand, Taiwan, China nyaris sama yakni kurang dari US$ 100 per kapita. Namun pada tahun 2004, Indonesia tertinggal jauh. GNP per kapita Indonesia US$ 1000, Malaysia US$ 4520, Korea Selatan US$ 14.000, Taiwan US$ 14.590 dan China 1500 US$.
Arah kebijakan ekonomi Pemerintah saat ini dapat dilihat dari beberapa faktor. Pertama, tanggung jawab Pemerintah untuk melindungi dan mensejahterakan rakyat semakin berkurang. Hal ini karena kebijakan bersifat neoliberal. Kedua, kebijakan ekonomi sekadar menjadi kepanjangan tangan kepentingan asing bukan kepentingan nasional. Ketiga, strategi dan kebijakan ekonomi dibiarkan untuk disandera oleh lembaga multilateral (Washington Consencus lewat utang luar negeri), korporasi raksasa (lewat investasi, berbagai issue a.l HAM, lingkungan, dll) dan para komprador (lewat undang-undang dan kebijakan. Keempat, ukuran keberhasilan pembangunan ekonomi didasarkan pada tercapainya indikator antara sesuai ukuran-ukuran global yang digunakan oleh lembaga multilateral (pertumbuhan ekonomi, inflasi, nilai tukar, dll) bukan kesejahteraan individu. Kelima, sektor riil dan non- riil dinilai sama sehingga banyak pilihan kebijakan justru lebih mendorong perkembangan sektor non-riil sehingga sektor riil tidak lagi menjadi prioritas.
Ibu Hendri, kemudian menyatakan bahwa untuk menuju Kebangkitan Indonesia maka perlu diperhatikan beberapa hal. Pertama, adanya kesepakatan tentang tujuan pembangunan ekonomi dan indikator pengukurannya. Kedua, adanya kesepakatan tentang kewajiban-kewajiban negara dalam memenuhi hak dasar masyarakat (pangan, papan, pendidikan, kesehatan, pekerjaan) dan cara pemenuhannya. Ketiga, adanya kesepakatan tentang jalan menuju kemandirian ekonomi (cara pembiayaan, penguasaan sektor strategis).
Dalam sesi diskusi Ibu Hendri menegaskan bahwa konsep ekonomi yang diajarkan di sekolah kepada anak didik, adalah murni ekonomi kapitalis. Seharusnya yang diajarkan adalah konsep ekonomi Islam sebagai alternatif. Menyinggung rencana Pemerintah menaikkan harga BBM, ekonom Indonesia Bangkit ini melihat bahwa Pemerintah hanya menghitung dampaknya secara finansial bukan ekonomi, dengan konsep BLT (Bantuan Langsung Tunai).
Padahal rencana kenaikan harga BBM ini tidak semata-mata karena naiknya harga minyak mentah dunia, tetapi juga diakibatkan salah pengelolaan sumber daya alam migas. Sebagai contoh adalah sistem pembelian minyak mentah yang harus melalui Singapura, meskipun produksi kilang minyak ada di daerah. Sistem pembelian ini tentu lebih mahal karena adanya margin distribusi dan biaya lainnya. Seharusnya Pemerintah bisa membeli langsung dari daerah yang memproduksi minyak mentah tersebut, meskipun yang mengelola adalah pihak asing. Ini adalah contoh betapa Pemerintah tidak memiliki kemandirian dan sangat tergantung kepada pihak asing [baca: Konsensus Washington].
Pembicara kedua, Dr. Maman Kh, MSi. menyoroti kilas balik sejarah Islam di Indonesia. Ada tiga pertanyaan penting disini. Pertama, mengapa terjadi marginalisasi peran Islam dalam kebangkitan nasional? Kedua, bisakah Islam menjadi pendorong kebangkitan nasional? Ketiga, bagaimana optimalisasi peran Islam dalam kebangkitan?
Budi Utomo yang selalu menjadi referensi kebangkitan nasional sebenarnya didirikan untuk menciptakan hubungan yang harmoni dengan priyayi birokratis, khususnya di Jawa. Sebaliknya Syarikat Islam yang lahir lebih dahulu, mempunyai orientasi yang lebih luas yakni untuk kebangkitan Islam dan Indonesia Raya, bukan hanya Jawa-Madura saja seperti Budi Utomo.
Dengan peran penjajah Belanda yang berhasil mengembangkan budaya sekuler kepada bangsa Indonesia dalam kurun waktu ratusan tahun, maka tidak heran pemahaman Islam menjadi demikian lemah. Hasilnya adalah banyak kelompok terpelajar yang sekular, anti agama. Juga banyak pihak yang menguasai Islam tetapi lemah dalam kemampuan ilmu-ilmu duniawi. Sementara kelompok yang berkuasa (dominan) pada saat kemerdekaan Indonesia berhasil menghapus Piagam Jakarta yang menjadi dasar kebangkitan Islam. Karena itu, terjadilah marginalisasi Islam.
Dengan demikian, tegas Wakil Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah ini, maka untuk menuju Kebangkitan yang hakiki adalah berupa kebangkitan pemikiran yang akan berpengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan. Kemudian perlu dikembangkan pemikiran, sikap, dan perilaku yang dibangun di atas landasan Islam.
Pembicara terakhir, Ustadz Muhammad Rahmat Kurnia (Ketua Lajnah Siyasiyah Hizbut Tahrir Indonesia dan Direktur Pusat Kajian Politik – HTI), menyatakan bahwa Barat bangkit karena ideologinya, yakni sekulerisme – liberalisme; sementara Islam bangkit dengan ideologinya, yakni Islam. Kebangkitan atas dasar sekulerisme liberalisme hanyalah kebangkitan semu. Kebangkitannya hanya sekedar maju secara sains dan teknologi, tapi jauh dari hakikat kemanusiaan. Kebangkitan yang hakiki adalah kebangkitan yang didasarkan kepada mabda yang benar, yaitu akidah dan aturan/syariat Islam.
Pada hakekatnya, manusia akan tetap dalam keterpurukan hingga syariat Islam kembali ditegakkan. Dalilnya adalah al-Qur’an, surat Al-Baqarah, ayat 143): “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu“.
Indonesia menyatakan bukan negara sekuler, tapi juga bukan negara agama (Islam). Jadi, wajar tidak bangkit-bangkit karena landasan kebangkitannya tidak ideologis. Hanya setengah-setengah!
Mengapa Indonesia terpuruk? Hal ini disebabkan beberapa faktor. Pertama, ekonomi amblas dan dikuasai oleh konglomerat dan asing. Kedua, akidah tidak terjaga. Masalah Ahmadiyah saja dapat diintervensi oleh seorang anggota wantimpres dan tekanan AS, Kanada, Inggris, Australia. Ketiga, generasi muda menuju jurang kehancuran dengan pergaulan bebas, narkoba, dll. Sebagai contoh di Jakarta, Bandung, Medan, dan Surabaya ada 50% remaja usia 15-24 tahun mengaku pernah berhubungan seksual sejak usia 13-18 tahun, astaghfirulah!. Keempat, pihak asing bebas berkeliaran. Contoh, kasus Namru 2 di Departemen Kesehatan, yang merupakan unit Angkatan Laut Amerika Serikat, beroperasi sejak tahun 1970 dengan memiliki kekebalan diplomatik. Meskipun Menteri Pertahanan, Menteri Kesehatan dan Menteri Luar Negeri sudah menyatakan tidak setuju terhadap keberadaan Namru di Indonesia, tetapi MOU antara Pemerintah RI dan Pemerintah Amerika Serikat terus berjalan.
Maka sebagai solusi menuju kebangkitan, harus dilakukan dua hal penting. Pertama, melakukan perubahan secara aktif. Kedua, perubahan diawali dengan apa yang ada didalam diri manusia, yaitu pemikiran dan perasaan. Cara mengubah pikiran dan perasaan:
- Kita adalah mukmin, hamba Allah; kita lemah, Allah Zat Maha Besar; kita hidup untuk beribadah kepadaNya (adz-Dzariyat:56)
- Orang beriman adalah tinggi kedudukannya di mata Allah SWT (‘Ali Imran:139). Karenanya, tidak inferior terhadap Barat sehingga menganggap yang baik hanyalah yang berasal dari sana. Umat Islam punya banyak orang hebat.
- Islam adalah agama paripurna sehingga memiliki berbagai solusi bagi kehidupan manusia, membawa petunjuk, mendatangkan rahmat, dan kabar gembira bagi kaum Muslim (an-Nahl:89). Cari solusi dari Islam bukan dari yang lain.
- Kita adalah umat terbaik yang dipilih Allah SWT untuk umat manusia (Ali ‘Imran:110). Dunia membutuhkan kita. Syaratnya: (1) kita sebagai melakukan yang ma’ruf dan menjauhi yang munkar; (2) kita sebagai umat menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari yang munkar yang dilakukan umat/bangsa/negara lain. Ini berarti, negara harus menerapkan syariat Islam dan negara tersebut disegani oleh negara lain.
- Indonesia adalah negeri Muslim terbesar baik dari luas daerah, penduduk, kekayaan, dll. Umat Islam di Indonesia memiliki tanggung jawab terbesar terhadap umat Islam dunia. Jadi, kebangkitan Indonesia harus menjadi lokomotif kebangkitan umat Islam dunia.
Kita ingin Indonesia menjadi negara besar dan kuat, bebas dari penjajahan dan menjadi pemimpin dunia Islam yang mampu menyatukan umat Islam dunia. Ada pihak yang berteriak tentang kebangkitan Indonesia tetapi menjual kekayaan alam kepada asing. Ada pihak yang lantang meneriakkan kebangkitan Indonesia tetapi meloloskan undang-undang yang menjadikan AS mencengkeram leher kita. Ada pihak yang menyuarakan kebangkitan tetapi membiarkan rakyat dirusak moralnya oleh pornografi dan pornoaksi. Ada pihak yang kesana sini berbicara kebangkitan tetapi membiarkan disintegrasi. Karena itu, maka Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menghendaki kebangkitan yang hakiki, yang lepas dari cengkeraman dan penjajahan asing.
Peran penting Hizbut Tahrir Indonesia dalam membangkitkan umat adalah meningkatkan taraf berpikir hingga masyarakat sadar dan bergerak bersama menuju kebangkitan berdasarkan akidah dan syariat Islam. Dengan kata lain, peran utamanya terletak pada bidang fikriyah (pemikiran/intelektualitas) dan siyasiyah (politik/pengurusan urusan rakyat). Nampaklah bahwa Hizbut Tahrir Indonesia berjuang untuk menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan dan keterjajahan serta berupaya menjadikannya negara besar dan kuat yang mampu menyatukan dunia Islam dalam kekhilafahan. Akhirnya, Hizbut Tahrir Indonesia mengajak berbagai komponen umat untuk berjuang bersama menuju kebangkitan hakiki.
[IS - Humas DPD II HTI Kabupaten Bogor].
Foto-foto:
Ketua DPD II HTI Kabupaten Bogor, ustadz Didik Suhermanto menyampaikan kata pengantar.
Cetak halaman ini






























12 May 2008 pada 06:36
12 May 2008 pada 07:34
12 May 2008 pada 08:07
12 May 2008 pada 10:11
12 May 2008 pada 11:31
12 May 2008 pada 15:44
12 May 2008 pada 16:56
12 May 2008 pada 18:06
12 May 2008 pada 22:28
13 May 2008 pada 12:48
14 May 2008 pada 08:50
14 May 2008 pada 18:10
15 May 2008 pada 17:15
16 May 2008 pada 20:45
29 December 2008 pada 08:42
8 November 2009 pada 00:40