Agama Tidak Sekedar Intervensi

Negara tidak pula mencampuri urusan keyakinan warganya, negara tidak boleh intervensi dalam masalah keyakinan. Argumentasi seperti ini sering terdengar dari kelompok sekuler-liberal  yang membela keberadaan Ahmadiyah. Lebih jauh, sering dikatakan , kalau agama campur tangan , negara berarti memihak pada kelompok tertentu, padahal negara harus diatas semua golongan.

Berbagai pernyataan diatas pada dasarnya muncul dari cara pandang sekulerisme. Ide yang menjadi dasar dari sistem kapitalisme ini pada intinya menolak agama dijadikan dasar negara. Agama dalam pandangan sekulerisme , hanya sekedar mengatur urusan-urusan individual, moralitas, dan ritual. Agama dilarang untuk mencampuri urasan politik, ekonomi, pendidikan dan bidang sosial lainnya.

Karena agama merupakan urusan pribadi, maka negara tidak boleh mencampuri keyakinan seseorang. Seseorang atas dasar kebebasan berkeyakinan tidak boleh dilarang untuk mengimana suatu agama , keluar dari agama itu, bahkan tidak boleh beragama sekalipun. Negara pun dikatakan tidak boleh menghakimi keyakinan rakyatnya.

Pandangan sekulerisme diatas jelas ditolak oleh Islam dan sekaligus berbahaya. Sebab, akan mengkerdilkan agama Islam hanya sebagai urusan individual, ritual dan moralitas. Sebaliknya, dalam aspek yang lain seperti ekonomi, politik, sosial, pendidikan Islam kemudian tidak dipakai sama sekali. Aspek yang dikenal sebagai aspek mu’amalah (yang mengatur kehidupan manusia dengan manusia yang lain) ini kemudian diatur oleh aturan diluar Islam, yakni kapitalisme-liberal. Pandang sekulerisme akan menjadi dasar liberalisasi segala aspek kehidupan.  

Padahal Kapitalisme-liberal ini yang menjadi pangkal dari bencana manusia. Dalam aspek ekonomi, Kapitalisme-liberal dengan karakter materialisme nya yang rakus telah menimbulkan penjajahan  negara-negara maju dunia ketiga . Kapitalisme telah menimbulkan kesenjangan antara utara-selatan, kemiskinan yang meluas  , dan perampokan kekayaan alam negara dunia ketiga.  

Sejarah buruk kolonialisme merupakan fakta yang tak terbantahkan dari bahaya kapitalisme ini . Negara-negara Barat menjajah negara lain, merampok kekayaan alamnya dengan cara memerangi penduduk setempat yang melakukan perlawanan. Indonesia adalah negara yang mengalami sejarah panjang kolonialisme yang mengerikan itu. Kedatangan Belanda, Portugal, Inggris di bumi Nusantara telah menumpahkan darah jutaan penduduk. Dengan sistem tanam paksa,  rakyat Indonesia  dipaksa untuk menanam komiditi yang dibutuhkan oleh negara penjajah, setelah itu menjualnya dengan sangat murah bahkan terkadang tanpa dibayar.

Rakyat miskinpun diperas tenaganya dalam kerja paksa, membangun infrastruktur untuk kepentingan penjajahan seperti jalan raya, rel kereta api, gedung-gedung dan lain-lain. Merekapun menjadi buruh-buruh murah di perkebunan-perkebunan yang kehidupan yang penuh derita.

Meskipun mengklaim sudah merdeka, penjajahan ekonomi ini sebenarnya masih berlangsung. Kalau dulu dengan militer, sekarang negara-negara Kapitalisme liberal menjajah dan merampok kekayaan alam kita atas nama investasi asing, pasar bebas, privatisasi dan mekanisme ekonomi kapitalisme lainnya. Kapitalisme ini juga membuat jebakan dan jeratan ekonomi seperti hutang luar negeri dan rezim mata uang dolar.

Kebijakan kapitalisme-liberal ini menyebabkan penderitaan masyarakat. Atas nama privatasi pendidikan dan kesehatan menjadi mahal dan semakin tidak bisa dijangkau. Orang miskin seakan tidak boleh sakit dan tidak boleh pintar. Sehat dan pintar hanya untuk orang kaya yang memiliki modal yang kuat.  Pengurangan subsidi yang  menjadi ciri dari kebijakan liberal ini pun telah menyebabkan BBM menjadi mahal  karena mengikuti harga internasional. Dampaknya pun luar biasa, biaya hidup menjadi tinggi, harga-harga melambung tinggi, para pekerja terancam PHK, kemiskinan pun meningkat.    

 

Kebijakan kapitalisme-liberal ini pun secara sistematis menjadi sarana  merampok kekayaan alam kita. Tambang minyak dan gas Indonesia menurut pakar ekonomi Econit 80 % nya dikuasai asing. Emas, perak, batu bara juga sama. Padahal kalau kalau semua itu dikelola langsung oleh pemerintah dengan baik, profesional, jujur, transparan, akan memberikan pendapatan yang luar biasa kepada negara. Dana ini pun bisa digunakan untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan, dan papan masyarakat. Pendidikan dan kesehatan gratis juga bukan mimpi.

Kebijakan kapitalisme-liberal ini juga telah menimbulkan kehancuran sosial yang tak terperikan. Liberalisme telah meningkatkan kriminalitas karena  kesulitan ekonomi. Kekerasan dalam rumah tangga juga meningkat karena tingkat stress yang tinggi. Liberalisme berdampak pada gaya hidup yang penuh dengan kemaksiatan. Kebebasan seksual, pornograpi, lesbianisme , homoseksual, pelacuran pun berkembang. Semua ini terjadi karena Kapitalisme-Liberal yang meminggirkan peran Islam dalam aspek ekonomi dan sosial. Inilah bahaya dari pandangan sekulerisme.

Dalam pandangan Islam, agama bukan saja boleh melakukan intervensi terhadap urusan negara. Lebih jauh dari itu, Islam harus menjadi dasar negara. Karena itu, negara harus menjadi Al Qur’an dan Sunnah sebagai sumber hukum. Berdasarkan hal ini, syariah Islam harus mengatur segala aspek kehidupan. Bukan hanya masalah individual, moral, atau ritual. Tapi juga aspek ekonomi, politik, sosial, dan budaya.

Negara dalam pandangan Islam wajib campur tangan dalam masalah aqidah. Bukan dalam pengertian memaksa warga non muslim untuk memeluk agama Islam. Sebab, Islam dengan gamblang mengatakan tidak ada paksaan dalam memeluk agama Islam. Bukan pula dalam pengertian yang non muslim tidak boleh beribadah, sebab Islam membolehkan non muslim beribadah menurut agamanya masing-masing.  Campur tangan dalam pengertian, Negara harus menjaga aqidah Islam untuk tetap eksis dan kuat menjadi individu muslim dan negara.

Dalam konteks ini negara harus bersikap tegas dari segala hal yang mengancam aqidah Islam. Rosulullah Saw dengan tegas memberikan sanksi hukuman mati bagi orang yang murtad, sebagaimana sabdanya : “Man baddala dinahu fa qatuluhu” (Barang siapa yang mengganti agamanya (murtad dari Islam) maka bunuhlah”.  Abu Bakar ra saat menjadi Kholifah juga memerangi Musailamah al Kadzdzab yang mengaku Nabi. Kenapa negara hirau dalam masalah aqidah ini ? Sebab aqidah adalah dasar  dan fondasi setiap muslim dan negara. Kalau fondasi ini lemah, makan ketaqwaan individu akan lemah. Negara juga akan lemah.

Pandangan sekuler jelas berbahaya. Dengan alasan kebebasan beragama, seorang muslim dengan seenaknya murtad (keluar dari Islam). Sikap negara yang diam dalam masalah ini, jelas menjadikan aqidah menjadi persoalan remeh. Padahal aqidah inilah yang menjadi dasar dari kuatnya negara. Dengan alasan kebebasan berkeyakinan, orang dibiarkan membuat keyakinan yang aneh-aneh, mengaku Nabi, mengaku jibril, sholat dua bahasa , ibadah haji tidak perlu ke Makkah. Bukan tidak mungkin dengan alasan kebebasan berkeyakinan, sah-sah saja orang sholat sambil telanjang dan kiblatnya ke Monas (Na’udzubillah mindzalik)

Bahwa negara harus menjaga hal yang mendasar ditengah masyarakat yang menjadi asas, sebenarnya wajar saja. Negara-negara Kapitalis juga akan sekuat tenaga menjaga ideologi Kapitalis tetap eksis.Bedanya, kalau negara Islam akan sekuat tenaga mempertahankan aqidah Islam sebagai dasar negara. Negara Kapitalisme akan sekuat tenaga mempertahankan sekulerisme sebagai dasar negara.  Tidak heran kalau Bush berulang-ulang menyatakan bahwa nilai-nilai kapitalisme seperti demokrasi, HAM, pluralisme adalah harga mati untuk kepentingan Amerika Serikat.

Negara Kapitalis  tidak menginginkan ada kelompok yang ingin menumbangkan ideologi Kapitalisme. Tidak heran kalau Perancis melarang pemakain kerudung, di beberapa tempat di Eropa membangun masjid dilarang. Di Australia, pendirian sekolah Islam ditolak. Sebab mereka melihat hal ini akan mengancam ideologi kapitalisme. Jadi adalah keliru, kalau negara Kapitalism dikatakan tidak mengintervensi atau menghukum ideologi yang merupakan keyakinan yang dianggap mengancam negara. Dalam konteks menjaga negara inilah kepada Islam menjaga aqidah umat.

Selanjutnya, berdasarkan aqidah Islam ini negara mengatur masyarakat dengan menerapkan syariah Islam. Syariah Islam akan menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok tiap individu masyarakat sandang, pangan dan papan. Syariah Islam juga mengatur bahwa pendidikan dan kesehatan harus gratis untuk warga negara. Dan perlu dicatat hal ini bukan hanya berlaku bagi umat Islam atau juga warga negara daulah Islam yang non muslim.

Syariah Islam juga akan menjamin keamanan siapapun rakyatnya baik muslim atau non muslim. Non muslim yang disebut sebagai Ahlul Dzimmah wajib dijaga oleh negara, sampai-sampai Rosulullah saw mengatakan siapa yang menyakiti Ahlul Dzimmah berarti menyakitiku.

Syariah Islam juga akan menjadikan kekayaan alam yang merupakan milik umum (milkiyah ‘amah) seperti minyak, emas, batu bara, timah, menjadi milik rakyat yang tidak boleh diserahkan kepada individu atau perusahan asing. Negara akan mengelolanya dengan baik dan hasilnya diserahkan untuk kepentingan masyarakat.

Walhasil, kami menegaskan sekali lagi. Menjadikan Islam sebagai asas negara dan syariah Islam sebagai aturan yang mengatur masyarakat  akan memberikan kebaikan bagi semua pihak termasuk Indonesia, muslim maupun non muslim. Islam akan memberikan kebaikan bagi semua kelompok.  

Sebaliknya, sekulerisme yang menjadi dasar liberalisasi dalam segala aspeklah yang telah menghancurkan negeri-negeri Islam termasuk Indonesia. Jadi umat Islam harus bersatu melawan siapapun yang ingin mengeksiskan negara sekuler yang menyebarluaskan ideologi kapitalisme. Sebaliknya, umat Islam harus bersungguh-sungguh untuk memperjuangkan negara yang berdasarkan Islam. Sebab hanya dengan itulah aqidah umat terjaga, masyarakat sejahtera, keamanan terjamin, kesatuan negara kokoh.(Farid Wadjdi)     

 

 

19 comments

  1. negeri ini adalah negeri bukan-bukan, sehingganya pemimpinnya mengeluarkan aturan yang bukan-bukan pula, olehnya kepada warga negara untuk bangkit dan menyadari bahwa hanya dengan syariah islam negeri dan ummatnya bisa terselamatkan. Semoga mata hati anda sekalian tiak tertutup bahwa sistem ini tidak bisa menjamin keselamatan baik dunia apalagi akherat.

  2. Wahai umat Islam
    tiada kenmuliaan tanpa Islam
    tiada Islam tanpa penerapan syari’ah dalam semua aspek kehidupan
    tiada syari’ah tanda adanya negara (daulah) yang menerapkan dan menjaganya.
    Tegakkan negara Islam (khilafah Islamiyah) karena dengannya aqidah umat akan terlindungi…

  3. Masalah keyakinan memang tak bisa dipaksakan. Itulah tantangan dakwah untuk jadikan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Tapi segenggam kekuasaan memang memudahkan jalannya cita-cita mulia itu. Sayangnya petunjuk Allah belum/tidak menerangi hati sebagian pemimpin kita. Sabar dalam berjuang dan terus belajar serta berketetapan hati yang kuat sebagaimana para Nabi ulul ‘azmi semoga selalu menyertai kita. Amien.

  4. inilah bukti Islam adalah rahmatan lil ‘alamin

  5. Abah Odang ti Cigadung

    Alhamdulillah … ayeuna mah abah teh parantos melek, geuningan Kapitalis jeung Sekuler tah jahat pisan lur. {Hanya orang bodoh yang masih mengagung-ngagungkan Sekulerisme}

  6. Saya setuju saja jika negara mengintervensi agidah dan mu’amalah Agama dalam cakupan aspek yang seluas-luasnya… jika negara tersebut berdiri atas landasan dan Sistem satu agama… namun jika negara tidak berdiri dengan sistem itu (justru sistem konvensional), maka bagaimana negara dapat mengambil peran menjernihkan aqidah seseorang atau kelompok? sedangkan Negara sendiri tidak tidak jernih dan memiliki visi dibawah pandu agama. Bagaimana kita bisa memahami bahwa Islam dapat dijernihkan oleh sistem diluarnya? bagaimana negara memberi tauladan bagi warganya?

  7. Saya ingin bertanya apakah ada hak org lain memaksakan Islam kepada orang lain ? bila kita menganggap orang lain murtad. Bagaimana tindakan kita? apakah orang murtad tersebut harus di pukuli atau harus di bunuh?

  8. setuju dengan mas farid.. perjuangkan terus tidak hanya pada masyarakat, tp juga pejabat & penguasa negeri ini. yg mayoritas islam tapi akidahnya kaya yahudi

  9. Membongkar Jaringan AKKBB (Bag.1)

    Nama Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) menjadi buah bibir setelah peristiwa rusuh di silang Monas pada hari ahad siang, 1 Juni 2008. Sebelumnya, aliansi ini sering kali diidentikan dengan gerakan pembelaan terhadap kelompok sesat Ahmadiyah, sebuah kelompok yang mengaku bagian dari Islam namun memiliki kitab suci Tadzkirah—bukan al-Qur’an—dan Rasul Mirza Ghulam Ahmad, bukan Rasulullah Muhammad SAW.

    Jika menilik perjalanan historis dan ideologi kelompok sesat Ahmadiyah dengan AKKBB, maka akan bisa ditemukan benang merahnya, yakni permusuhan terhadap syariat Islam, pertemanan dengan kalangan Zionis, mengedepankan berbaik sangka terhadap non-Muslim dan mendahulukan kecurigaan terhadap kaum Muslimin.

    Ketika Ahmadiyah lahir di India, Mirza Ghulam Ahmad mengeluarkan seruan agar umat Islam India taat dan tsiqah kepada penjajah Inggris, dan mengharamkan jihad melawan Inggris. Padahal saat itu, banyak sekali perwira-perwira tentara Inggris, para penentu kebijakannya, terdiri dari orang-orang Yahudi Inggris seperti Jenderal Allenby dan sebagainya. Dengan kata lain, seruan Ghulam Ahmad dini sesungguhnya mengusung kepentingan kaum Yahudi Inggris.

    Bagaimana dengan AKKBB? Aliansi cair ini terdiri dari banyak organisasi, lembaga swadaya masyarakat, dan juga kelompok-kelompok “keagamaan”, termasuk kelompok sesat Ahmadiyah. Mereka yang tergabung dalam AKKBB adalah:

    * Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP)
    * National Integration Movement (IIM)
    * The Wahid Institute
    * Kontras
    * LBH Jakarta
    * Jaingan Islam Kampus (JIK)
    * Jaringan Islam Liberal (JIL)
    * Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF)
    * Generasi Muda Antar Iman (GMAI)
    * Institut Dian/Interfidei
    * Masyarakat Dialog Antar Agama
    * Komunitas Jatimulya
    * eLSAM
    * Lakpesdam NU
    * YLBHI
    * Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika
    * Lembaga Kajian Agama dan Jender
    * Pusaka Padang
    * Yayasan Tunas Muda Indonesia
    * Konferensi Waligereja Indonesia (KWI)
    * Crisis Center GKI
    * Persekutuan Gereja-gereeja Indonesia (PGI)
    * Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci)
    * Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI)
    * Gerakan Ahmadiyah Indonesia
    * Tim Pembela Kebebasan Beragama
    * El Ai Em Ambon
    * Fatayat NU
    * Yayasan Ahimsa (YA) Jakarta
    * Gedong Gandhi Ashram (GGA) Bali
    * Koalisi Perempuan Indonesia
    * Dinamika Edukasi Dasar (DED) Yogya
    * Forum Persaudaraan antar Umat Beriman Yogyakarta
    * Forum Suara Hati Kebersamaan Bangsa (FSHKB) Solo
    * SHEEP Yogyakarta Indonesia
    * Forum Lintas Agama Jawa Timur Surabaya
    * Lembaga Kajian Agama dan Sosial Surabaya
    * LSM Adriani Poso
    * PRKP Poso
    * Komunitas Gereja Damai
    * Komunitas Gereja Sukapura
    * GAKTANA
    * Wahana Kebangsaan
    * Yayasan Tifa
    * Komunitas Penghayat
    * Forum Mahasiswa Syariahse-Indonesia NTB
    * Relawan untuk Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (REDHAM) Lombok
    * Forum Komunikasi Lintas Agama Gorontalo
    * Crisis Center SAG Manado
    * LK3 Banjarmasin
    * Forum Dialog Antar Kita (FORLOG-Antar Kita) Sulsel Makassar
    * Jaringan Antar Iman se-Sulawesi
    * Forum Dialog Kalimantan Selatan (FORLOG Kalsel) Banjarmasin
    * PERCIK Salatiga
    * Sumatera Cultural Institut Medan
    * Muslim Institut Medan
    * PUSHAM UII Yogyakarta
    * Swabine Yasmine Flores-Ende
    * Komunitas Peradaban Aceh
    * Yayasan Jurnal Perempuan
    * AJI Damai Yogyakarta
    * Ashram Gandhi Puri Bali
    * Gerakan Nurani Ibu
    * Rumah Indonesia

    Menurut data yang ada, AKKBB merupakan aliansi cair dari 64 organisasi, kelompok, dan lembaga swadaya masyarakat. Banyak, memang. Tapi kebanyakan merupakan organisasi ‘ladang tadah hujan’ yang bersifat insidental dan aktivitasnya tergantung ada ‘curah hujan’ atau tidak. Maksudnya, kelompok atau organisasi yang hanya dimaksudkan untuk menampung donasi dari sponsor asing, dan hanya bergerak jika ada dana keras yang tersedia.

    Namun ada beberapa yang memang memiliki ideologi yang jelas dan bergerak di akar rumput. Walau demikian, yang terkenal hanya ada beberapa dan inilah yang menjadi motor penggerak utama dari aliansi besar ini.

    Keseluruhan organisasi dan kelompok ini sebenarnya bisa disatukan dalam satu kata, yakni: Amerika. Kita tentu paham, Amerika adalah gudang dari isme-isme yang “aneh-aneh” seperti gerakan liberal, gerakan feminisme, HAM, Demokrasi, dan sebagainya. Ini tentu dalam tataran ide atau Das Sollen kata orang Jerman.

    Namun dalam tataran faktual, yang terjadi di lapangan ternyata sebaliknya. Kalangan intelektual dunia paham bahwa negara yang paling anti demokrasi di dunia adalah Amerika, negara yang paling banyak melanggar HAM adalah Amerika, negara yang merestui pasangan gay dan lesbian menikah (di gereja pula!) atas nama liberalisme adalah Amerika, dan sebagainya. Dan kita tentu juga paham, ada satu istilah yang bisa menghimpun semua kebobrokkan Amerika sekarang ini: ZIONISME.

    Bukan kebetulan jika banyak tokoh-tokoh AKKBB merupakan orang-orang yang merelakan dirinya menjadi pelayan kepentingan Zionisme Internasional. Sebut saja Abdurrahman Wahid, ikon Ghoyim Zionis Indonesia. Lalu ada Ulil Abshar Abdala dan kawan-kawannya di JIL, lalu Goenawan Muhammad yang pada tahun 2006 menerima penghargaan Dan David Prize dan uang kontan senilai US$ 250, 000 di Tel Aviv (source: indolink.com), dan sejenisnya. Tidak terhitung berapa banyak anggota AKKBB yang telah mengunjungi Israel sambil menghujat gerakan Islam Indonesia di depan orang-orang Ziuonis Yahudi di sana.

    Mereka ini memang bergerak dengan mengusung wacana demokrasi, HAM, anti kekerasan, pluralitas, keberagaman, dan sebagainya. Sesuatu yang absurd sesungguhnya karena donatur utama mereka, Amerika, terang-terangan menginjak-injak prinsip-prinsip ini di berbagai belahan dunia seperti di Palestina, Irak, Afghanistan, dan sebagainya.

    Jelas, bukan sesuatu yang aneh jika kelompok seperti ini membela Ahmadiyah. Karena Ahmadiyah memang bagian dari mereka, bagian dari upaya pengrusakkan dan penghancuran agama Allah di muka bumi ini.

    Bagi yang ingin mengetahui ideologi aliansi ini maka silakan mengklik situs-situs kelompok mereka seperti libforall.com, Islamlib.com. dan lainnya.

    Walau demikian, tidak semua simpatisan maupun anggota AKKBB yang sebenarnya menyadari ‘The Hidden Agenda’ di balik AKKBB, karena agenda besar ini hanya diketahui oleh pucuk-pucuk pimpinan aliansi ini, sedangkan simpatisan maupun anggota di tingkat akar rumput kebanyakan hanya terikat secara emosionil kepada pimpinannya dan tidak berdasarkan pemahaman dan ilmu yang cukup.(bersambung/rz)

  10. Daulah khilafah sebagai penjaga akidah umat. segala bentuk kompromi yang justru akan mempengaruhi akidah umat akan dengan mudah diatasi. untuk itu nyok kita same-same rame-rame mendirikan khilafah sebagai kewajiban kite kepade ALLAH SWT…
    Mari2…
    ALLAHUAKBAR3..!!!

  11. raisyah al-azizah

    Aneh…
    Orang Kapitalis itu selalu punya standar ganda
    Mereka bilang klo kebebasan beragama, berpendapat, termasuk berideologi itu adalah hak asasi,jgn dipaksain
    Tapi koq mereka maksain pendapat, isme, dan ideologi mereka, dengan menghalalkan segala cara
    Trus, koq mau-maunya ‘Intelektual Muslim’ itu bela-belain
    orang yang telah menginjak-injak kepercayaan (agama) mereka
    Emang apa yang dicari?
    Kebahagiaan? Popularitas? Kekayaan?
    Berdasarkan pengalaman dan sejarah
    Orang-orang seperti itu hanya dimanfaatin untuk kepentingannya sendiri
    Setelah tugas selesai,
    Endingnya : Dibuang n masuk black list sejarah

  12. amir hizb-ut-tabattul

    Hancurkan demokrasi, tegakkan Khilafah. Allahu Akbar!!!

  13. PRIMA (PRIa MAbda'iy)

    Jika memang kelompok sekuler memandang bahwa negara tidak berhak mengintervensi masalah keyakinan warganya dengan alasan hal itu bisa membuat negara berpihak hanya pada satu kelompok, maka seharusnya negara dilarang mengadopsi sekulerisme karena hal ini membuat negara berpihak hanya pada satu kelompok tertentu, yakni kelompok sekuler. Bukankah di negeri ini banyak kelompok berkeyakinan lain selain kelompok berkeyakinan sekuler?
    Selain itu, bagaimana mungkin Islam sebagai ideologi dapat tumbuh subur tanpa peran negara yang membakukannya serbagai azas kehidupan?
    Seperangkat aturan hanya akan terlaksana secara sempurna jika ada insitut bersifat legal-formal yang mengadopsinya. Ibarat peraturan atau tatatertib sekolah, hanya bisa terlaksana bila diadopsi perangkat sekolah seperti kepala sekolah, tata usaha, BP, staf guru, beserta perangkat lain yang bersifat legal-formal dalam tubuh sekolah. Mustahil tata tertib sekolah dapat terlaksana tanpa diadopsi perangkat sekolah dan hanya diserahkan kepada kesadaran masing-masing individu siswa atau setiap yang berkepentingan di sekolah. Mengapa siswa SMA memakai seragam putih-abu2 secara rutin ketika bersekolah?Tentu saja karena pihak sekolah mengadopsi aturan berpakaian putih-abu2 dan dengan kekuasaannya yang mengikat memberlakukan aturan tersebut kepada para siswa.
    Begitu pula Islam. Jika sekedar tata tertib sekolah saja butuh institut untuk menyempurnakan pelaksanaannya, apalagi Islam yang lebih dari sekedar tata tertib sekolah, atau lebih dari sekedar agama biasa. Islam adalah ideologi, yakni sebuah keyakinan yang dapat melahirkan berbagai solusi bagi problem yang dihadapi manusia. Untuk level ideologi, hanya negara yang layak dan mampu menyempurnakan dan mengembannya. Tiada alternatif lain. Ketika sebuah ideologi ditinggalkan peran negara, maka ideologi tersebut pasti ditimpa kehancuran. Sejarah mencatat, komunisme hancur ketika Uni Soviet tumbang. Begitu pula Islam, kesempurnaan pelaksanaannya sirna ketika Khilafah Utsmaniyah dibubarkan pada 1924.
    Bagaimana jika saya katakan, “sekulerisme dan liberalisme dapat tumbuh subur tanpa peran negara.” Tentu saja, mereka-orang2 seluler- menolak pendapat tersebut. Mereka paham bahwa keyakinan mereka hanya bisa berkembang jika negara mengembannya. Karena itu, mereka juga harus paham bahwa Islam -sebagaimana sekulerisme- hanya bisa sempurna pelaksanaannya jika negara mengembannya. JIka mereka menginginkan adanya toleransi bagi kelompok Ahmadiyah atas dasar HAM,lalu bagaimana hak asasi kita dalam menyempurnakan pelaksanaan Islam dalam bingkai negara? Bukankah penyelenggaraan negara untuk melaksanakan Syari’ah adalah bagian dari hak asasi kita dalam beragama?Maka tidak perlu lagi mereka -kelompok sekuler-liberal- merecoki umat Islam yang menginginkan kembalinya kehidupan Islam dalam naungan negara. Wahai kaum sekuler-liberal, mana konsistensi kalian dalam penegakkan HAM? Untuk apa kalian mengibarkan bendera kebebasan jika masih merecoki kami yang menginginkan adanya negara pengemban Syari’ah? Tunjukkan toleransi kalian kepada kami! Tanamkan toleransi dalam diri kalian sebelum menyuruh pihak lain untuk bersikap toleran!!

  14. Teruskan Perjuangan kalian,,, Terus Semangat!!!
    ALLAHU AKBAR…

  15. Kalau melihat kondisi saat ini-dalam cengkeraman rezim Kapitalisme, pemerintah tidak akan pernah bisa bertindak tegas dalam mengambil keputusan untuk pengaturan kehidupan masyarakatnya, apalagi untuk menyelamatkan aqidah ummat muslim di negeri ini. Wahai ummat muslim saatnya kita bersatu, berjuang untuk meruntuhkan rezim kufur ini dan menggantinya dengan rezim yang rahmatan lil alamin. reformasi telah mati, revolusi islam pasti ! Takbir ! Allahu Akbar !

  16. Abu Fahri Rizal

    Selama negeri ini dibawah jajahan negara kapitalis pasti memiliki ciri anti terhadap Islam, pemerintahannya tunduk dibawah bayang2 negara kapitalis, dan menyerahkan semua kekayaan alam kepada negara kapitalis.

    Wahai pemimpin negeri pemegang amanah ummat, berpihaklah kepada ummat yang menjadi amanahmu supaya selamat dunia-akhirat !

    ALLAHU AKBAR!

  17. Ridwan Mas'ud

    Semakin ditempa oleh berbagai masalah kerukunan beragama/toleransi beragama, Insya Allah negara ini akan semakin mantap menuju terwujudnya masyarakat yang madani. Mudah2an Allah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya khususnya bagi para pemimpin kita saat ini untuk bisa menempatkan demokrasi, kehidupan politik, hukum pada proporsi yang benar sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah SAW dan para Sahabatnya.

  18. Kita harus melek dan sadar bahwa tidak ada Sebuah Sistem Pengatur yang Luar Biasa,kecuali Islam dengan Syariahnya.Kita juga harus bangkit untuk memperjuangkan Sebuah Mesin Penegak Kesejahteraan dan Kemakmuran Umat,yang tiada lain kecuali Islam dengan Khilafahnya,yang akan disetir oleh Sang Khalifah.

    Perjuangkan Islam,Syariah,dan Khilafah!

    Hancurkan Kapitalisme-Liberal,Sekularisme,dan Batu-batu Penghalang Pejuang Islam.

    Jangan Takut pada Apapun dan Siapapun!Ingat!Allah tetap bersama kita.

    Allahu Akbar!!!

  19. Dulu sudah pernah ada khilafah islamiyah, kalau benar benar berpegang pada Qur’an mustinya sampai sekarang masih eksis. Kenapa kilafah Islamiyah di Andalusia lenyap?, kenapa Kilafah Islamiyah Ustmani juga lenyap? kalau mereka berpegang teguh pada Qur’an mustinya tidak demikian.

    Sekarang ada nggak ya negara yang benar benar berdasar Islam yang bisa kita contoh, kalau ada mestinya ia merupakan negara super power, adil makmur dan sejahtera. Saya berharap kilafah yang diimpikan betul betul berdasarkan Qur’an sehingga tidak mudah lenyap ditelan masa seperti yang sudah sudah. Al-Qur’an tetap akan abadi sampai akhir zaman, siapa yang berpegang teguh padanya tidak akan pernah dikalahkan.

    Orang yang berpegang teguh pada al Qur’an pun tidak akan pernah dikalahkan selama hidupnya, bebas dari rasa sedih, duka , jengkel. Al-Qur’an memberinya rasa damai dan bahagia sepanjang hayat. Mari kita berpegang teguh pada Qur’an yang Agung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>