<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Kapan Penguasa Tidak Boleh Ditaati?</title>
	<atom:link href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/</link>
	<description>International Political Party</description>
	<pubDate>Thu, 17 May 2012 09:00:50 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.5</generator>
		<item>
		<title>By: abumalcolm</title>
		<link>http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#comment-12982</link>
		<dc:creator>abumalcolm</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 Aug 2008 03:00:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hizbut-tahrir.or.id/?p=2851#comment-12982</guid>
		<description>pertanyyan selanjutnya...
apakah dengan kesimpulan seperti di atas berarti para penguasa telah jatuh menjadi kafir??? jadi bingung saya..lantas bagaimana jika penguasa tersebut mengakui bahwa sistem islam adalah lebih baik tapi tetap saja menggunakan sistem kufur kayak demokrasiii...lalu bagaimana jika penguasa kita sekarang ini mencanangkan program yang baik-baik???</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>pertanyyan selanjutnya&#8230;<br />
apakah dengan kesimpulan seperti di atas berarti para penguasa telah jatuh menjadi kafir??? jadi bingung saya..lantas bagaimana jika penguasa tersebut mengakui bahwa sistem islam adalah lebih baik tapi tetap saja menggunakan sistem kufur kayak demokrasiii&#8230;lalu bagaimana jika penguasa kita sekarang ini mencanangkan program yang baik-baik???</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Jangan Dulu Taat pada Penguasa, kecuali &#8230; &#171; Menuju Harapan</title>
		<link>http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#comment-12784</link>
		<dc:creator>Jangan Dulu Taat pada Penguasa, kecuali &#8230; &#171; Menuju Harapan</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 Aug 2008 17:25:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hizbut-tahrir.or.id/?p=2851#comment-12784</guid>
		<description>[...] “Ayat ini menunjukkan bahwa taat kepada para pemimpin adalah wajib, jika mereka sejalan dengan kebenaran. Apabila ia berpaling dari kebenaran, maka tidak ada ketaatan bagi mereka. Ketetapan semacam ini didasarkan pada sabda Rasulullah saw, “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiyatan kepada Allah.”[HR. Ahmad]. Dituturkan bahwa Maslamah bin Abdul Malik bin Marwan berkata kepada Abu Hazim,” Bukankah engkau diperintahkan untuk mentaati kami, sebagaimana firman Allah, “dan taatlah kepada ulil amri diantara kalian..” Ibnu Hazim menjawab, “Bukankah ketaatan akan tercabut dari anda, jika anda menyelisihi kebenaran, berdasarkan firman Allah, “jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah, yakni kepada Rasul pada saat beliau masih hidup, dan kepada hadits-hadits Rasul setelah beliau saw wafat..”[1] [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] “Ayat ini menunjukkan bahwa taat kepada para pemimpin adalah wajib, jika mereka sejalan dengan kebenaran. Apabila ia berpaling dari kebenaran, maka tidak ada ketaatan bagi mereka. Ketetapan semacam ini didasarkan pada sabda Rasulullah saw, “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiyatan kepada Allah.”[HR. Ahmad]. Dituturkan bahwa Maslamah bin Abdul Malik bin Marwan berkata kepada Abu Hazim,” Bukankah engkau diperintahkan untuk mentaati kami, sebagaimana firman Allah, “dan taatlah kepada ulil amri diantara kalian..” Ibnu Hazim menjawab, “Bukankah ketaatan akan tercabut dari anda, jika anda menyelisihi kebenaran, berdasarkan firman Allah, “jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah, yakni kepada Rasul pada saat beliau masih hidup, dan kepada hadits-hadits Rasul setelah beliau saw wafat..”[1] [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Kapan Penguasa Tidak Boleh Ditaati? &#171; Lembaga Dakwah Fakultas Majelis Ta&#8217;lim Al-marjan FPIK IPB</title>
		<link>http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#comment-12769</link>
		<dc:creator>Kapan Penguasa Tidak Boleh Ditaati? &#171; Lembaga Dakwah Fakultas Majelis Ta&#8217;lim Al-marjan FPIK IPB</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 Aug 2008 18:02:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hizbut-tahrir.or.id/?p=2851#comment-12769</guid>
		<description>[...] “Ayat ini menunjukkan bahwa taat kepada para pemimpin adalah wajib, jika mereka sejalan dengan kebenaran. Apabila ia berpaling dari kebenaran, maka tidak ada ketaatan bagi mereka. Ketetapan semacam ini didasarkan pada sabda Rasulullah saw, “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiyatan kepada Allah.”[HR. Ahmad]. Dituturkan bahwa Maslamah bin Abdul Malik bin Marwan berkata kepada Abu Hazim,” Bukankah engkau diperintahkan untuk mentaati kami, sebagaimana firman Allah, “dan taatlah kepada ulil amri diantara kalian..” Ibnu Hazim menjawab, “Bukankah ketaatan akan tercabut dari anda, jika anda menyelisihi kebenaran, berdasarkan firman Allah, “jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah, yakni kepada Rasul pada saat beliau masih hidup, dan kepada hadits-hadits Rasul setelah beliau saw wafat..”[1] [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] “Ayat ini menunjukkan bahwa taat kepada para pemimpin adalah wajib, jika mereka sejalan dengan kebenaran. Apabila ia berpaling dari kebenaran, maka tidak ada ketaatan bagi mereka. Ketetapan semacam ini didasarkan pada sabda Rasulullah saw, “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiyatan kepada Allah.”[HR. Ahmad]. Dituturkan bahwa Maslamah bin Abdul Malik bin Marwan berkata kepada Abu Hazim,” Bukankah engkau diperintahkan untuk mentaati kami, sebagaimana firman Allah, “dan taatlah kepada ulil amri diantara kalian..” Ibnu Hazim menjawab, “Bukankah ketaatan akan tercabut dari anda, jika anda menyelisihi kebenaran, berdasarkan firman Allah, “jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah, yakni kepada Rasul pada saat beliau masih hidup, dan kepada hadits-hadits Rasul setelah beliau saw wafat..”[1] [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

