Perdamaian dan Diplomasi Bukan Solusi Krisis Gaza
Perdamaian dan Diplomasi tidak akan menyelesaikan krisis Gaza. Pandangan ini disampaikan Farid Wadjdi dari DPP Hizbut Tahrir Indonenesia dalam acara Polemik Trijaya yang bertema Konflik Palestina-Israel di Warung Daun, Jalan Pakubuwono, Jakarta, Sabtu (3/1/2008). Acara yang disiarkan secara langsung oleh radio Trijaya FM keseluruh Indonesia ini menghadirkan pembicara Farid Wajdi (Hizbut Tahrir Indonesia), Aco Manafe (wartawan Senior), dan Happy Bone Zulkarnaen anggota Komisi I DPR/F-Golkar).
Menurut Farid Wadjdi berkali-kali jalan diplomasi maupun perdamaian sudah ditempuh , tapi Israel tetap saja tidak peduli, Israel tetap saja melakukan pembantaian terhadap rakyat Palestina. Perdamaian bukan solusi karena bersandarkan pada tiga actor yakni AS dan Eropa, PBB, dan Negara-Negara Timur Tengah. Masalahnya,semua actor ini pro kepada AS dan Israel.
Apalagi, perdamaian yang dimaksudkan oleh Amerika Serikat dan Israel selama ini mensyarakatkan tiga hal. Pertama, pengakuan terhadap eksistensi Israel sebagai negara. Kedua pelucutan senjata pejuang Palestina, dan yang ketiga penghentian perlawanan dari pihak Palestina. “Perdamaian seperti ini jelas tidak adil, sebab disatu sisi pejuang Pelestina diminta untuk menghentikan perlawanannya dan senjatanya dilucuti, sementara senjata negara Israel tidak dilucuti dan tetap legal menggunakan senjatanya dengan alasan membela diri”, jelas Farid Wadjdi
Perdamaian yang mengarah pada pengakuan eksistensi Israel tidak akan menghentikan konflik, sebab justru akar konfik di Palestina justru keberadaan negara Israel itu sendiri. Negara Israel merupakan penjajah dan aggressor yang merampas tanah Palestina dan mengusir rakyat Palestina dari tanahnya. Karena itu lanjut Farid, satu-satunya solusi menghentikan krisis ini adalah menghilangkan penjajahan Israel dengan menghapuskan eksistensi Israel sebagai sebuah negara illegal disana.
Untuk itu HTI menyerukan pengiriman pasukan tentara Indonesia dan juga tentara-tentara negeri Islam lainnya tanpa menunggu instruksi PBB. Organisasi Internasional itu tidak bisa diharapkan karena dibawah bayang-bayang Amerika Serikat. Demikian juga pengiriman sekedar obat-obatan atau bantuan pangan tidak akan menghentikan agresi Israel. “Israel hanya bisa dihentikan dengan perang, Israel tidak mengenal bahasa diplomasi dan perdamaian, Israel hanya mengenal bahasa perang “, tegas Farid Wadjdi.
Farid juga meminta supaya pemerintah tidak melarang relawan jihad untuk berperang disana sebagai bentuk solidaritas muslim . Pelarangan relawan jihad membuktikan kebijakan yang inkonsistensi dari pemerintah. Disatu sisi , mengecam kebiadaban Israel, disisi lain melarang perlawanan terhadap Israel. ” Kecendrungan seperti itu menunjukkan pemerintah tidak sungguh-sungguh menyelesaikan persoalan Palestina, pemerintah hanya melakukan ‘make-up’politik menyenangkan hati umat Islam “,ujarnya. (AF; Tabloid Media Umat)
Cetak halaman ini























3 January 2009 pada 18:52
3 January 2009 pada 20:58
3 January 2009 pada 21:49
4 January 2009 pada 07:12