Konferensi Remaja Muslimah 2009 “Saatnya Remaja Selamatkan Indonesia dengan Syariah dan Khilafah”
HTI Press-Sekitar 1600 remaja muslimah DKI Raya menghadiri acara Konferensi Remaja Muslimah yang bertemakan “Saatnya Remaja Selamatkan Indonesia dengan Syari’ah dan Khilafah” yang diselenggarakan oleh Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia. Peserta yang terdiri dari siswi se-Jakarta, Tangerang dan Bekasi ini memadati Auditorium Sport Center Ragunan Minggu (26/7).
Acara ini lahir atas inisiatif kaum remaja, setelah mencermati kerusakan dan degradasi pada kualitas akhlak dan intelektualitas remaja pada saat ini. Pada kesempatan ini hadir dari Dinas Olah Raga dan Pemuda Pemprov DKI, Firmansyah membuka acara.
Beliau memberikan apresiasi pada Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia yang berhasil menyelenggarakan acara ini. Dinas Olah Raga dan Pemuda Pemerintah Provinsi DKI menyatakan siap bekerjasama dengan MHTI untuk menyelenggarkan kegiatan serupa di masa-masa datang. Beliau berharap ke depan acara dapat diselenggarakan di Istora Senayan Jakarta. Dalam sambutannya, beliau memaparkan peran pemuda Islam dalam masyarakat pada masa Rasulullah.
Acara dilanjutkan penampilan para orator dari kalangan remaja yaitu perwakilan siswa dari Madrasah Aliyah Citra Cendekia dan Madrasah Aliyah Yapis Pidi Jakarta Selatan, serta perwakilan mahasiswa berprestasi dari Institut Teknologi Bandung. Mereka menggugah para peserta agar peduli dengan kondisi remaja saat ini dan meminta pemerintah untuk melindungi remaja Indonesia dari kerusakan yang timbul akibat seks bebas. Orator lainnya adalah perwakilan dari KPAI, dinas kesehatan, dan guru.
Hadir juga pembicara-pembicara muda perwakilan mahasiswa dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Universitas Negeri Jakarta. Pembicara pertama memaparkan mengenai penolakan liberalisasi seks dan legalisasi aborsi melalui program Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) di bawah garis Internasional Conference Population Development (ICPD) tahun 1994 lalu di Kairo, Mesir.
”Setelah 15 tahun program KRR ini diimplementasikan, justru remaja lebih terperosok lebih dalam pada pergaulan bebas. Pada tahun 1992, sebelum diterapkannya program KRR, pelaku seks pranikah di 12 kota besar di Indonesia adalah sebesar 10-13%. Namun pada tahun 2008 (setelah 14 tahun diterapkannya KRR), Komisi Nasional Perlindungan Anak (KNPA) menemukan bahwa pelaku seks pranikah naik menjadi 62,7% di 33 provinsi di Indonesia, yang berarti sekitar 26 juta remaja hidup bergelimang syahwat. Yang menyedihkan lagi, berdasarkan survey KPA tahun 2008, dari remaja-remaja yang melakukan seks bebas tersebut, jumlah remaja yang melakukan aborsi adalah sekitar 7 juta remaja. Jumlah ini meningkat lebih dari 50% dibanding jumlah aborsi remaja sebelum diterapkannya program Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR), yaitu ”baru” sekitar 3 juta kasus.” begitu pemaparan dari Nadiya Rayhan, perwakilan mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, selaku pembicara pertama.
Setelah itu, Nur Aulia dari Universitas Negeri Jakarta memaparkan bahwa remaja muslim harus mempelajari tsaqofah Islam yang dapat membentuk kepribadian Islam mereka, sehingga remaja mampu mengendalikan naluri seksualnya dan menguasai sains dan teknologi. Selain itu, pembicara pun memberikan motivasi agar remaja muslim segera bangkit dan segera mempersiapkan diri memimpin dirinya, keluarga, bangsa, dan dunia.
Setelah itu dibacakan surat seruan remaja muslimah kepada pemimpin bangsa Indonesia. Surat itu menyeru pemerintah agar melindungi remaja Indonesia dari kerusakan yang timbul akibat seks bebas, penyakit menular seksual dan aborsi. Mereka mengingatkan penguasa agar melakukan langkah-langkah agar remaja terlindungi, diantaranya pemerintah harus memfasilitasi pembentukan kepribadian Islam yang kokoh pada remaja. Pemerintah pun harus menghentikan penyampaian propagandan megenai kebebasan reproduksi yang semakin membuat remaja tidak lagi merasa berdosa melakukan perzinahan.
Nampak peserta begitu antusias mengikuti konferensi dari awal hingga akhir rangkaian acara. Acara diakhiri dengan teaterikal yang menggambarkan kondisi remaja yang berada dalam keterpurukan, ditampilkan gambaran hedonisme remaja, pergaulan dan seks bebas, serta perilaku remaja yang terperosok dalam jeratan narkoba. (MHTI DKI Raya)
Cetak halaman ini


























29 July 2009 pada 16:10
29 July 2009 pada 18:59
30 July 2009 pada 06:37
30 July 2009 pada 06:48
30 July 2009 pada 10:28
30 July 2009 pada 12:32
30 July 2009 pada 20:05
31 July 2009 pada 06:24
31 July 2009 pada 14:28
2 August 2009 pada 16:53
3 August 2009 pada 14:41
4 August 2009 pada 10:24
9 August 2009 pada 13:57
19 September 2009 pada 01:46