Amerika dan Obama: Musuh Umat Islam
Obama memang terus menuai kontroversi. Bahkan patung Obama kecil pun di Taman Menteng dipersoalkan. Sejarahwan Anhar Gonggong menilai berlebihan pembuatan patung Barack Obama yang dipasang di Taman Menteng, Jakarta Pusat. Anhar heran mengapa Obama didewakan di Indonesia. Menurutnya, apakah karena Obama pernah sekolah di sini? Dia mempertanyakan apa jasa Obama untuk Indonesia, sementara banyak pahlawan nasional yang menurutnya lebih layak dihargai.
Pendirian patung Obama memang patut dipertanyakan, apalagi bagi seorang Muslim. Kita tentu tidak mempersoalkan Obama kecil seperti apa. Yang kita persoalkan adalah Obama yang sekarang menjadi presiden dari sebuah negara imperialis yang menjajah negeri Islam. Atas komando Obama sang Presiden, dikirim 30 ribu pasukan tambahan untuk memperkuat penjajahan Amerika di Afganistan. Dipastikan jumlah umat Islam yang terbunuh akan bertambah. Data PBB menyebutkan, sepanjang tahun 2008 saja jumlah warga sipil Afganistan yang tewas meningkat 40 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Menurut data PBB, jumlah warga sipil yang tewas akibat aksi-aksi kekerasan di Afganistan pada tahun 2008 sekitar 2.100 orang.
Sementara itu, di Irak hingga saat ini ribuan pasukan penjajah masih bercokol. Ratusan ribu umat Islam terbunuh. Konflik horisontal antarkelompok masyarakat pun meluas. Ledakan bom yang menewaskan rakyat sipil menjadi pandangan biasa terjadi di masjid, pasar dan tempat-tempat umum lainnya. Masih di era Obama, negara Zionis Israel terus menerus membunuhi kaum Muslim di Palestina. Semua itu berlangsung dengan dukungan penuh Amerika Serikat.
Amerika juga terlibat dalam berbagai konflik di negeri Islam. Di Pakistan, dengan menggunakan CIA dan tentara bayaran Blackwater, Amerika melakukan politik adu domba antara tentara Pakistan dan Mujahidin dengan menjadikan rakyat sipil sebagai tumbalnya. Berbagai konflik di Sudan, Yaman, Somalia, Negeria dan negeri Islam lainnya tidak bisa dilepaskan dari campur tangan Amerika dengan menggunakan antek-anteknya.
Masih di era Obama Penjara Guantanamo, Abu Ghraib dan penjara rahasia lainnya masih menjadi tempat penyiksaan dan pelecahan terhadap tahanan Muslim dengan tuduhan terorisme.
Jadi sangat mengherankan dan sekaligus menyedihkan kalau ada negeri Islam seperti Indonesia yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia memuji Obama, bahkan sampai membangun patungnya. Dimana keimanan kita semua, dengan membiarkan ini terjadi? Padahal Obama adalah komandan pasukan tertinggi pembunuh umat Islam di berbagai kawasan dunia!
Seharusnya kita merasa terhina dengan keberadaan patung Obama tersebut. Sungguh memalukan anggapan Ketua Yayasan Friends of Obama, Ron Muller, yang mengatakan patung Obama dibuat semata-mata untuk menceritakan bahwa salah seorang pemimpin dunia, Barack Obama, dulu pernah tinggal di Indonesia; apalagi menyatakan patung ini memberikan inspirasi bagi para pemuda. Apa bangganya memiliki pemimpin dunia yang menjadi komandan pasukan penjajah?
Di sisi lain, banyak pihak yang mengecam Obama, termasuk pemberian hadiah Nobel perdamaian kepadanya. Harian Inggris The Times yang berhaluan konservatif mengomentari pemberian Hadiah Nobel Perdamaian kepada Presiden AS Barack Obama dengan skeptis, “Sungguh ironis, seorang presiden yang pekan lalu memutuskan pengiriman 30.000 tentara ke kawasan perang minggu ini dianugerahi Penghargaan Nobel Perdamaian.”
Harian Perancis L’Independant juga menulis, “Dengan memberikan Penghargaan Nobel Perdamaian kepada Obama, Komite Nobel turut melengserkan Obama dari takhtanya. Mengapa? Karena komite ini salah paham dan memahami niat sebagai tindakan nyata. Komite Nobel menganugerahkan penghargaan yang paling bergengsi kepada seseorang yang belum berhasil membuktikan apa-apa.”
Pidato Obama yang berusaha membenarkan proyek perangnya di Afganistan tidak mengubah fakta bahwa Obama adalah pemimpin negara penjajah. Dalam pidatonya saat menerima Hadiah Nobel Presiden Barack Obama mengatakan Amerika Serikat tetap memegang teguh standar moral ketika melancarkan perang. Pernyataan ini pantas dipertanyakan. Standar moral apa yang dilakukan oleh Pasukan AS ketika membunuh warga sipil berulang-ulang di Afganistan dan kemudian hanya sekadar minta maaf dan mengatakan semua itu tidak bisa dihindarkan?
Dalam pidato ini Obama membela peran AS di Afganistan dengan alasan pengerahan pasukan bisa mewujudkan perdamaian. Menurutnya, perang memiliki peran untuk menjaga perdamaian. Obama juga membenarkan logika perangnya dengan alasan perundingan tidak akan bisa meyakinkan para pemimpin al-Qaida untuk meletakkan senjata. Lagi-lagi Obama mengikuti pemimpin negara imperialis sebelumnya. Dia selalu membenarkan penjajahan dan pembunuhan atas rakyat jajahannya dengan berbagai alasan kebaikan seperti perdamaian, menegakkan demokrasi dan HAM, membangun peradaban dunia dan banyak lagi. Pertanyaannya, sudah sejak tahun 2003 AS menduduki Irak, apakah tercipta perdamaian di sana?
Logika perang yang digunakan Obama justru menjadi legitimasi perlawanan balik terhadap AS dan sekutunya. Para Mujahidin tentu sah-sah menggunakan logika yang sama dengan Obama, bahwa mereka berperang untuk menciptakan perdamaian di negara mereka sendiri. Mereka berperang untuk mengusir penjajah yang menyebabkan ketidakadilan dan pembunuhan terhadap rakyat Afganistan. Tentu sah juga kalau para Mujahadin terus berperang dan tidak mau berdamai dengan pasukan AS, dengan alasan, jalan anti kekerasan tidak akan menghentikan tentara AS.
Sikap mengidolakan AS dan pemimpinnya seperti Obama tentu akibat umat Islam tidak lagi melihat dari cara pandang Islam. Seharusnya seorang Muslim harus melihat segala perkara dari kacamata akidah dan syariah Islam. Dalam pandangan Islam, Amerika adalah negara yang masuk dalam kategori muhârib[an] fi’l[an], yaitu negara kafir yang melakukan konfrontasi dan peperangan secara nyata terhadap negara Khilafah atau negeri-negeri Islam. Terhadap mereka, negara Khilafah memperlakukannya sebagai musuh. Seluruh penduduknya tidak dibolehkan memasuki Negara Khilafah Islam, karena mereka dianggap musuh. Contoh negara seperti ini adalah Amerika Serikat, Israel dan Inggris. Walhasil, tidak boleh ada hubungan apapun dengan negara mereka baik ekonomi, politik ataupun militer. Inilah sikap Islam yang jelas! [Farid Wadjdi]
Cetak halaman ini























6 January 2010 pada 10:37
8 January 2010 pada 17:52
10 January 2010 pada 16:02
10 January 2010 pada 16:04
14 January 2010 pada 04:17
15 January 2010 pada 16:51
18 January 2010 pada 22:08
24 January 2010 pada 00:47
30 May 2010 pada 04:20
14 October 2011 pada 19:20