Harapan Umat Kepada Nahdlatul Ulama (NU)

“Umumnya, pertahanan yang didasarkan kepada keyakinan agama akan sangat kuat, karena menurut ajaran Islam orang hanya boleh mengorbankan jiwanya untuk ideologi agama.” (KH. A. Wahid Hasyim)

Salah satu organisasi massa terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU), baru saja melaksanakan Muktamar Nasional yang ke-32 . Hasilnya, KH Sahal Mahfudz terpilih kembali sebagai Rais Aam PBNU 2010-2015. Sedangkan Ketua Umum PBNU terpilih Prof Dr Said Agil Siradj. Seperti biasa Muktamar NU selalu mendapat perhatian berbagai pihak, baik dalam negeri maupun luar negeri. Kehadiran Presiden SBY membuka Muktamar kali ini menunjukkan posisi penting NU secara politik. Bisa dimengerti kalau berbagai kekuatan politik, baik langsung atau tidak bermain setiap kali muktamar.

NU pun tidak lepas dari perhatian kekuatan asing. Sebagai organisasi massa keagamaan terbesar di Indonesia, sikap NU dan massanya tentu sangat berpengaruh terhadap kondisi perpolitikan maupun kenegaraan Indonesia. Corak Islam Indonesia pun sering disandarkan kepada pemikiran NU. Suara yang mengatasnamakan NU-pun menjadi sangat penting untuk dijadikan alat legitimasi berbagai kepentingan. Tentu saja mereka ingin memastikan garis pemikiran maupun kebijakan NU tidak bertentangan dengan kepentingan-kepentingan mereka.

Tidak heran upaya keras untuk meliberalkan NU sangat tampak, lewat infiltrasi pemikiran maupun lewat orang-orang tertentu yang dikenal dibina oleh Barat. Kelompok liberal ini-yang bukan mustahil melakukan infiltrasi ke tubuh NU-berusaha keras untuk menghalangi penegakan syariah Islam secara kaffah (menyeluruh) . Mereka menginginkan Indonesia menjadi negara sekuler yang berpaham liberal dan pluralisme. Hal-hal yang jelas melenceng dari garis pemikiran utama NU seperti dalam Anggaran Dasar NU Pasal 2 ayat 2 tentang tujuan berdirinya NU disebutkan: “Menegakkan Syari’at Islam menurut haluan Ahlussunnah wal Jamaah”.

Sikap istiqomah dari NU menjadi sangat penting agar tidak menjadi alat kekuatan politik asing untuk menghancurkan umat Islam dan mengokohkan kepentingan penjajahan asing di Indonesia. Bukankah NU tidak bisa dipisahkan dari perjuangan melawan penjajahan? Bukan tidak mungkin NU digunakan oleh kekuatan-kekuatan asing justru untuk menghancurkan dan menghalangi perjuangan penegakan syariah Islam yang mengancam penjajahan asing .Karena itu, umat sangat berharap ada sikap tegas dari NU untuk menolak segala bentuk pemikiran sepilis (sekulerisme-pluralisme-liberalisme) yang akan menghancurkan umat dan bangsa ini.

Tentu saja kuncinya, NU harus tetap berpegang tegung pada posisi keulamaannya yang sangat mulia. Para ulama adalah pewaris para nabi. Kita tahu tugas utama para nabi termasuk Rasulullah SAW adalah untuk menegakkan tauhid dan hukum -hukum Allah SWT (syariah Islam). Hal yang sama tentu menjadi tugas para ulama saat ini .

Peran, tugas, fungsi, dan tanggung jawab para ulama dalam upaya membangkitkan umat menuju tegaknya kembali izzul Islam wal muslimin sangatlah besar. Untuk membangkitkan umat adalah penting bagi kita semua untuk menyadari bahwa seluruh problem berbagai bidang yang dihadapi umat sekarang, berpangkal pada tidak adanya kehidupan Islam di mana di dalamnya diterapkan syariah di bawah kepemimpinan seorang khalifah yang dapat melindungi umat dari berbagai serangan dan gangguan.

Pentingnya menjadikan syariah Islam sebagai dasar negara ini dengan gamblang dinyatakan oleh KH A.Wahid Hasyim ,salah satu tokoh NU yang terkemuka “Kalau presiden adalah seorang Muslim, maka peraturan- peraturan akan mempunyai ciri Islam dan hal itu akan besar pengaruhnya. Tentang Islam sebagai agama negara, hal ini akan penting artinya bagai pertahanan negara. Umumnya, pertahanan yang didasarkan kepada keyakinan agama akan sangat kuat, karena menurut ajaran Islam orang hanya boleh mengorbankan jiwanya untuk ideologi agama.”, tegas KH. A. Wahid Hasyim (BJ. Boland, “Pergumulan Islam di Indonesia” (1985)

Dalam perjuangan ini ulama sebagai pewaris para nabi (waratsatul anbiya) yang memiliki tanggung jawab yang sangat besar dalam meneruskan risalah nabiyullah Muhammad SAW, semestinya mengambil peran aktif dalam membimbing dan mengarahkan umat hingga cita-cita perjuangan tersebut benar-benar dapat diujudkan. Adalah besar harapan umat kepada ulama-ulama yang ada di NU untuk bersama-sama umat siap menjadi garda terdepan dalam perjuangan menegakkan syariah dan khilafah serta membela para pejuangnya.

Sesungguhnya, kedudukan para ulama dalam Islam merupakan kedudukan yang agung. Sungguh, al-Qur’an telah memuji ulama  dengan mengatakan: “Yang takut kepada Allah dari para hamba-Nya itu hanyalah para ulama” (TQS. Fâthir [35] : 28). Para ulama merupakan pewaris para nabi, dimana di pundak mereka ada tanggung jawab mengemban risalah Islam kepada semua manusia; mengoreksi para penguasa; melakukan amar makruf nahi munkar; dan mendampingi tentara melakukan penaklukan (futuhat) .Dan demikianlah keberadaan ulama salaf (ulama generasi awal). Mereka menolak untuk berdiri-apalagi mengemis-di depan pintu penguasa. Akan tetapi, para penguasalah yang mendatangi para ulama untuk meminta nasihat dan mengambil pendapatnya.

Nasehat Imam al-Ghazali (Ihya ‘Ulumuddin, juz 7, hal. 92). penting untuk kita perhatikan: “Dulu tradisi para ulama mengoreksi dan menjaga penguasa untuk menerapkan hukum Allah SWT. Mereka mengikhlaskan niat. Pernyataannya pun membekas di hati. Namun, sekarang terdapat penguasa yang zhalim namun para ulama hanya diam. Andaikan mereka bicara, pernyataannya berbeda dengan perbuatannya sehingga tidak mencapai keberhasilan. Kerusakan masyarakat itu akibat kerusakan penguasa, dan kerusakan penguasa akibat kerusakan ulama. Adapun kerusakan ulama akibat digenggam cinta harta dan jabatan. Siapapun yang digenggam cinta dunia niscaya tidak akan mampu menguasai kerikilnya, apalagi untuk mengingatkan para penguasa dan para pembesar” (Farid Wadjdi)

Print Friendly

Baca juga :

  1. Syariah Harapan Umat, Ulama Purbalingga Siap Memperjuangkannya!
  2. Milad ke 36 Majelis Ulama Indonesia, Ikhlas Berkhitmat Melayani Umat
  3. Masa Depan Syariah dan Partai Harapan Umat
  4. Pemimpin Harapan Umat
  5. Masa Depan Syariah dan Partai Harapan Umat
     

Comments

  1. kapan semua ormas & orpol islam Bersatu tegakkan KHILAFAH??????

  2. Kami semua menanti ulama ulama mereka untuk berdiri di garda terdepan untuk perjuangan ini…………..Kami siap menyambut ulama ulama pejuang Syariah…………..Ya…Alloh Kabulkan harapan kami……

  3. INgatlah Wahai Para Ulama Engkau Adalah Pewaris Nabi. Engkau adalah Pejuang Syariah Islam bukan pejuang Liberal dan Pluralisme. Allahu Akbar!

  4. namun perlu dicatat juga bahwa :
    menegakkan yang ma’ruf itu juga harus dengan cara yang ma’ruf……
    menegakkan syariat islam dengan cara ahlu sunnah wal jama’ah..
    semangat islam itu harus disertai dengan ilmu dan penghayatan yang dalam..
    dan setiap orang sy pikir harus mengetahui nafsu mutmainnah dan nafsu lawwamah..mana yang nafsu mutmainnah mana yang nafsu lawwamah…
    NU adalah organisasi islam terbesar di asia tenggara. tentu harapan padanya sangatlah tinggi..
    juga harus dcatat bahwa kita harus membuka mata, meluaskan pandang, melebarkan cakrawala pikir kita, agar semangat islam kita itu tidak hanya terkungkung pada sekedar “nafsu”.
    dan ingatlah bahwa menebar keyakinan itu beda dengan menyebarkan kebencian..
    bacarlah Epigrafi pada batu nisan raja-raja Samudra Pasai abad ke-13 dan 14 M. Pad salah satu batu nisan akhir abad ke-14/awal abad ke-15 terdapatt pahaatan ayat dari Surat al-Baqarah Qur’an yg bunyinya. “Tidak ada paksaan dalam agama. Sesungguhnya jelas mana yg benar dan mana yg batil”
    Cikal-bakal Kesultanan Islam pertama dan pintu gerbang masuknya pendiri seluruh Kesultanan Islam di Nusantara. Tak ada paksaan dalam agama….. Tapi karena peradaban dan kebudayaan yang dibawakan Islam itu tertinggi di dunia pada masa itu, yang diajarkan adalah ilmu-ilmu cinta bersama perdagangan lurus dan jujur yang menggairahkan, maka dengan sendirinya jadi ikutan yang bermanfaat.
    maka, “kesadaran beragama”, ya, kita harus menumbuhkan itu semua, melalui ilmu, kebudayaan dan peradaban…

  5. Bukan Ulama

    Hanya orang yang takut kepada Allah saja yang pantas disebut ulama. Kalau ada orang yang mengaku ulama tapi masih takut kepada penguasa, takut fasilitas yang diberikan penguasa dicabut, takut kedekatan dengan penguasa yang berantakan gara-gara mengingatkan penguasa untuk melaksanakan kebajikan dan mencegah kemunkaran. Maka tergabung ke organisasi apapun, mau nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, atau Hizbut Tahrir sekalipun, maka dia tidak pantas disebut sebagai Ulama.

  6. Kembalikan NU yang asli kepadaku…
    Apa yang akan kalian katakan (wahai liberalis) jika KH> Wahab Hasbullah, KH. Hasyim Asy’ari kelak hari Kiamat menanyakan kepada kalian “Apa yang kalian perjuangkan dengan organisasi yang telah aku dirikan?… lupakah kalian bahwa NU berdiri untuk menegakkan Syariat Islam Ahlus Sunnah Wal Jamaah??”
    Ya Allah kembalikanlah NU ke tangan orang-orang Sunny yang sejati seperti istiqomahnya KH. Hasyim Asy’Ary

  7. tenang insyaALlah masih banyak kyai yang berpegang mantap dengan ahlusunnah waljamaah sebagaimana amanat dari Hadrotussyaikh KH Hasyim Asy’ary…

  8. majulah tak gentar Ulama… dukung Syariah & Khilafah dengan Ilmu, Harta, Umur, kesempatan & kemuliaan yang diberikan oleh Allah SWT.

  9. Bismillahirrohmanirrohim..
    semoga allah mengabulkan permintaan kita semua. amiin
    dengan adanya persatuan dan kesatuan diantara umat islam
    maka kebangkitan umat islam tidak akan lama lagi….
    NU,Muhammadiyah,Persis,Syarikat Islam,FPI dan Ormas” islam yang lainnya, mari rapatkan barisan satukan tekad… tegakkan syariat islam di indonesia kita ini… agar tidak adalagi kedzhaliman penguasa kuffar,ketidak adilan dan kerusakan yang lainnya yang sudah timbul di indonesia bahkan dunia…
    ya allah munculkanlah, sosok pemimpin seperti rosulullah saw dan para sahabatnya…