Hip XI Jatim : Keliru Besar ketika Kini dan Mendatang tidak Memakai Khilafah, Khilafah adalah Kebutuhan
HTI Press. Ahad (25/7) Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) DPD Jatim kembali menggelar agenda bulanan Halqah Islam dan Peradaban (HIP) ke XI, di aula Bir Ali Asrama Haji Sukolilo Surabaya. Tema yang diusung pun tidak terlepas dari sejarah panjang kegemilangan Islam di bawah Khilafah Islamiyyah.
Ustadz Muhammad Ihsan Abadi, HTI DPD Jatim dalam Opening Speech menegaskan adanya dua peristiwa besar pada bulan Rajab, pertama peristiwa Isro’ Mi’roj, yang diperingati sebagian besar kaum muslimin. Peristiwa yang kedua adalah peristiwa runtuhnya Khilafah, yaitu pada tanggal 28 Rajab 1342 H. Khilafah yang tegak diatas manhaj kenabian ini merupakan sistem pemerintahan Islam yang dipraktekkan Rasulullah SAW di Madinah. Berdirinya negara Islam pertama ini diawali pula dengan peristiwa besar yakni hijrahnya Rasulullah SAW dari makkah ke Madinah. Hijrah Rasulullah SAW terjadi setelah Isra’ Mi’raj. Peristiwa ini penting karena merupakan tonggak berdirinya negara Islam pertama yang langsung di pimpin oleh Rasulullah SAW. Sistem Pemerintah Islam ini terus berlanjut. Ketika beliau wafat digantikan Khulafaur Rasyidin, Umayah, Abasiyah, dan digantikan dengan era Ustmaniyah. Sayang khilafah Ustmaniyah diruntuhkan oleh antek Inggris mustafa kemal attartuk, 28 Rajab 89 tahun yang lalu.
HIP Jatim bertajuk “Refleksi 89 Tahun Runtuhnya Khilafah : Benarkah Khilafah Solusi Masa Depan Indonesia?” menghadirkan tiga narasumber Syaiful Islam, ST, MT , dosen Universitas Negeri Malang, KH. Zawawi, pimpinan Ponpes Subulussalam sekaligus pen-taskhih Bahtsul Masail Kabupaten Malang, Drs. H. Akhmad Munir , Kepala LKBN Antara Biro Jatim serta Ust. Hisyam Hidayat , HTI DPD Jawa Timur.
Didepan 700 an peserta HIP yang hadir, Ustadz Fikri A. Zudiar yang berperan sebagai host mengawali dengan menunjukkan fakta nasib kaum muslimin diseluruh dunia yang terdzalimi, seperti anak ayam kehilangan induk bahkan kehilangan kandangnya. Oleh karena itu hadirnya kembali Khilafah suatu keniscayaan yang ditunggu. Bahkan, para pemikir barat telah membicarakan tentang Khilafah. Pemerintah Negeri Belanda menyampaikan kesiapannya untuk bekerjasama dengan Khilafah ketika berdirinya nanti.
Pentingnya dan keniscayaan hadirnya kembali khilafah dalam kehidupan ini ditegaskan oleh para ulama’ Imam Ghozali mengatakan, “Kita tidak boleh menetapkan suatu perkara ketika negara tidak lagi memiliki Imam (Khalifah) dan peradilan telah rusak.” Menurut Imam Ahmad bin Hambal,” Akan ada fitnah yang sangat besar jika tidak ada Imam (Khalifah ) yang mengurusi urusan umat.” dan masih banyak ulama yang nenegaskan hal senada.
Hangatnya acara HIP yang dikemas apik mendapatkan apresiasi peserta. Terlebih setelah mendengar uraian nara sumber yang dipandu host, Benarkah Khilafah Solusi Masa Depan Indoensia? Saiful Islam menyatakan Khilafah merupakan solusi bukan hanya untuk masa depan bahkan merupakan solusi masa kini. Namun bagaimana jika banyak yang masih belum paham ? Kiai Zawawi menjelaskan karena masyarakat ada yang salah menafsirkan pada kata khilafah disamakan dengan khilaf, kedua karena ketidaktahuan, dan ketiga karena pendidikan yang didapatkannya dari barat (AS). Keliru besar ketika kita saat ini dan yang akan datang tidak memakai khilafah, tegas beliau.
Sementara itu, Akhmad Munir menyampaikan umat Islam yang besar di bangsa ini kalah dalam kualitasnya. Bangsa ini menjadi sasaran untuk menjadi bangsa sekuler. Dididik untuk menjadi sekuler, dengan UU dan pemimpin, presiden, menteri-menteri sekuler, tanpa sengaja kita telah sekuler. Hal ini terjadi karena kita dalam hegemoni sekulerisme dan kapitalisme. Perjuangan Khilafah bisa berhasil apabila perjuangan umat Islam konsisten. Beliau menambahkan Hizbut Tahrir Indonesia sebagai salah satu gerakan dapat didukung oleh media ketika konsisten untuk kepentingan ummat.
Menjawab perjuangan khilafah, ustadz Hisyam Hidayat menguraikan keberadaan Khilafah merupakan kepemimpinan umum untuk melayani ummat, benteng ummat dari masalah yang mereka hadapi, sekaligus pemersatu ummat. Khilafah untuk menegakkan Syariah Islam. Khilafah adalah janji Allah (Wa’dun) sekaligus ini merupakan kewajiban (fardhun) dari Allah sebagaimana kewajiban-kewajiban lainnya.
Terkait dengan itu dipenghujung acara yang dikemas dengan talkshow ini, Saiful Islam menegaskan “tidak ada alasan untuk tidak bergabung pada gerakan yang memperjuangkan Syariah dan Khilafah”. Hal senada disampaikan Akhmad Munir, “Khilafah sebagai kebutuhan”. Media akan memberikan dukungan dalam perjuangan untuk kebutuhan umat. Kebenaran dan keadilan pasti menang tambah beliau. Kyai Zawawi memberikan pesan jangan pernah jemu dan menyerah jika yang disampaikan adalah kebenaran dari Al Quran. Ulama akan memberikan dukungan.
Sementara itu ustadz Hisyam mengingatkan Perjuangan syariah dan Khilafah bukan hanya tugas Hizbut Tahrir saja tetapi tugas umat Islam semua. Ibaratnya HTI merupakan lokomoti penggerak, dan masih banyak gerbong umat yang harus digerakan untuk turut dalam perjuangan. Nah, disinilah peran ulama, media, intelektual dan militer sangat diperlukan untuk menggerakan umat. Benar, mereka merupakan pilar pembangkit umat. Diakhiri dengan penyerahan cindera mata dan do’a, Halqah yang diwarnai dengan kalimah Takbir ini tepat menjelang dhuhur diakhiri. (lijatim)
Cetak halaman ini


























