Khutbah Idul Fitri 1431 H

KHUTBAH IDUL FITRI 1431 H

MENJADI KHAIRU UMMAH

DENGAN MENEGAKKAN SYARIAH DAN KHILAFAH

الله أكبر… الله أكبر… الله أكبر و لله الحمد

الله أكبر كبيرا و الحمد لله كثيرا و سبحان الله بكرة و أصيلا

لآإله إلا الله و لا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون

لآإله إلا الله وحده صدق وعده و نصر عبده و أعز جنده و هزم الأحزاب وحده

لآإله إلا الله الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

الحمد لله… الحمد لله الذي جعل امة سيدنا محمد خير امة من الامم, كقوله تعلى فى كتابه العزيز[1]:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

والصلاة والسلام على سيد المرسلين ، وإمام المتقين وعلى آله وصحبه ، ومن دعا بدعوته ، والتزم بطريقته ، وجعل العقيدة الإسلامية أساسا لفكرته ، والأحكام الشرعية مقياساً لأعماله ، ومصدراً لأحكامه وَمَنْ جاَهَدَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ حَقَّ جِهاَدِه

اَمَّا بَعْدُ,

أَيُّهَا النَّاسُ، إِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Allahu akbar (3X) walillahil hamd..

Ma’asyiral Muslim rahimakumullah…

Pada hari raya Idul Fitri ini, kita wajib bersyukur kepada Allah, Rabb semesta alam, yang telah menganugrahkan pada kita nikmat yang luar biasa dan tiada tara. Pertama, nikmat bertemu dengan bulan yang penuh berkah, bulan Ramadhan 1431 H. Kedua, kita diberi kekuatan dan kemampuan untuk menjalankan ibadah selama ramadhan dengan sebaik-baiknya.

Semoga semua amal kita di bulan yang mulia, mubarak, lagi istimewa ini diterima oleh Allah Ta’ala; kita digolongkan sebagai hamba-Nya yang bertakwa, dan kelak kita dimasukkan ke dalam surga-Nya. Amin.

Hari ini adalah hari sebagaimana sabda Rasulullah SAW[2]:

«يَا أَبَا بَكْرٍ إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا»

“…Wahai Abu Bakar sesungguhnya untuk setiap kaum ada hari raya dan ini adalah hari raya kita..”.

Idul Fitri adalah hari raya yang di dalamnya kita disunnahkan menampakkan rasa suka cita, gembira, senang, dan ceria.

Allahu akbar 3X walillahil hamd..

Ma’asyiral Muslim rahmatullahi alaikum..

Sayangnya, kegembiraan dan sukacita kita pada hari ini… terasa kurang sempurna, bahkan akan segera berubah menjadi pilu dan sedih ketika kita menatap kondisi obyektif kaum Muslim, saudara-saudara kita. Kondisi mereka sungguh menyedihkan dan memilukan.

Kaum Muslim di Palestina tiap hari menghadapi teror, pembunuhan, dan pengusiran oleh bangsa yang paling pengecut di dunia, bangsa keturunan kera dan babi, yaitu Yahudi Israel. Kondisi yang tidak kalah menyedihkan juga terjadi di Irak, Afganistan, Kasymir, Asia Tengah, Philipina Selatan, Pattani dan masih banyak yang lain.

Keadaan kaum Muslim di negeri ini pun tak jauh berbeda. Negeri yang luar biasa kaya-rayanya, namun karena salah urus, kekayaan yang melimpah itu tak mampu mensejahterakan rakyat. Alih-alih dapat mensejahterakan rakyat, negeri ini justru terlilit utang mencapai sekitar Rp. 2000 triliun[3]. Lebih menyedihkan lagi utang yang demikian besar itu tidak termanfaatkan secara produktif dan banyak dikorup. Sementara Penduduk miskin per Maret 2010 masih 31.02 juta jiwa[4].

Masalah lain yang tidak kalah seriusnya adalah biaya pendidikan dan pelayanan kesehatan, yang makin hari makin tak terjangkau. Di tambah dengan terus naiknya TDL dan LPG, kebobrokan moral yang sudah demikian komplek, rasa aman semakin mahal dan langka, dan masih banyak lagi sederet masalah lainnya…

Allahu akbar( 3X) walillahil hamd..

Ma’asyiral Muslim rahimakumullah…

Kondisi ini bukanlah kondisi yang wajar (thabi’i) dan alamiah bagi kita. Sifat dan karakter yang thabi’i bagi kaum Muslim adalah sebagai khairu ummah, hamba Allah yang mulia, para khulafa. Di mana dengan keberadaan mereka, menjadikan negeri-negeri tersebut menjadi baik, bahkan menjadi yang terbaik. Kaum Muslim adalah penguasa dunia. Hal tersebut ditegaskan oleh Asy-syaari’ baik pada Kitabullah maupun sunnah Nabi-Nya. Allah Ta’ala berfirman[5]:

]وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ […

Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa…(QS. An-Nur [24]: 55)

Ma’asyiral ‘aa’idin wal ‘aa’idat rahimakumullah…

Tentang ayat tersebut al-Hafidz Ibn Katsir[6] berkata:

…ini adalah janji dari Allah untuk Rasul-Nya SAW, bahwa Allah akan menjadikan umat beliau sebagai khulafa’, yakni para imam bagi manusia dan para wali bagi mereka. Dengan merekalah negeri-negeri akan menjadi baik, dan manusia pun akan tunduk kepada mereka.

Allahu akbar (3X) walillahil hamd..

Tentang masa depan kaum Muslim, SAW bersabda[7]:

«إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِي الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا… »

Sesungguhnya Allah menghimpun bumi untukku lalu aku melihat timur dan baratnya dan sesungguhnya kekuasaan ummatku akan mencapai yang dihimpunkan untukku,…

Syeikhul Islam al-Imam Al-Hafidz An-Nawawi berkata[8]:

“…Di dalam hadits tersebut ada isyarat bahwa kekuasaan umat ini sebagian besar membentang di dua arah, arah timur dan barat. Dan (memang) begitulah yang telah terjadi.”

Ma’asyiral ‘aa’idin wal ‘aa’idat rahimakumullah…

Jelaslah, bahwa Allah SWT telah menjadikan kaum Muslim sebagai khulafa, para wali serta penguasa dunia, yang akan menjadikan negeri-negeri di dunia ini menjadi baik, tentram, penuh dengan keadilan.

Sungguh kaum Muslim sebelum kita khususnya generasi shahabat RA telah membuktikan hal tersebut. Selama 13 abad khilafah Islam, kaum Muslim menjadi marcusuar peradaban, ketika bangsa Eropa masih primitive. Kaum Muslim hidup dengan penuh kedamainan dan keadilan ketika Eropa masih hidup di bawah kesewenang-wenangan dan kebengisan para Raja.

Selama kurang lebih 13 abad futuhat… wilayah kaum Muslim membentang luas mencapai hampir 2/3 dunia.

Ketika itu kaum Muslim bersatu di bawah naungan khilafah Islam, bukan berdasarkan warna kulit, atau nasionalisme, juga bukan karena semangat kekerabatan atau keluarga, suku atau ras.. Tapi kaum Muslim disatukan oleh akidah yang sama, oleh dien yang sama dan oleh semangat jihad dan dakwah yang sama …

Allahu akbar(3X) walillahil hamd…

Ma’syiral Muslim rahimakumullah..

Itulah kita, kaum Muslim. Itulah karakter dan sifat thabi’i kita sebagai umat terbaik . Generasi Islam sebelum kita telah membuktikan janji Allah dan Rasul-Nya SAW tersebut. Lalu, bagaimana dengan kita?

Ma’asyiral ‘aa’idin rahimakumullah..

Allah SWT berfirman:

]كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ[

Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah… (QS. Ali ‘Imran [3]: 110)

Dalam tafsir Fathul Qadir al-hafidz Asy-syaukani menjelaskan[9]:

“…Kalian adalah sebaik-baik umat selama keadaan kalian menyeru (pada yang makruf), melarang (kemungkaran). Kalian beriman pada Allah dan kepada hal-hal yang Allah wajibkan atas kalian untuk beriman di dalamnya, yaitu kitab-kitab-Nya, Rasul-Nya serta hal-hal yang Allah syariatkan untuk hamba-Nya. Sungguh tidak sempurna keimanan pada Allah kecuali beriman pada perkara-perkara ini…”

Ma’asyiral Muslim rahimakumullah…

Ketika Rasulullah SAW ditanya manusia yang mana yang paling baik? Beliau menjawab[10]:

«خَيْرُ النَّاسِ أَتْقَاهُمْ، وَآمَرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ، وَأَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَأَوْصَلُهُمْ لِلرَّحِمِ»

Manusia yang paling baik adalah yang paling bertaqwa, yang paling banyak melakukan amar makruf dan melarang kemungkaran serta yang paling banyak melakukan silaturrahmi

Dengan demikian jelas bagi kita … ayyuhal ikhwah… bahwa karakter khairu ummat tersebut tergantung pada sejauh mana umat ini melakukan aktivitas amar makruf nahi munkar dan sejauh mana keimanan dia pada Allah SWT. Dan kwalitas aktivitas amar makruf nahi munkar itulah yang akan menentukan sejauh mana kwalitas khairu umah kita , Umat Islam.

Allahu akbar (3X) walillahil hamd..

Ma’asyiral ‘aa’idin rahimakumullah…

Tentang amar ma’ruf dan nahi munkar, Imam An-nasafi menyatakan, yang makruf adalah hal-hal yang dipandang baik oleh syara’ dan akal, dan yang munkar adalah hal-hal yang dipandang buruk oleh syara’ dan akal. Maka yang disebut makruf adalah yang sejalan dengan al-Kitab dan As-Sunah, sedang munkar adalah hal-hal yang menyalahi keduanya. Singkat kata, makruf itu adalah ketaatan (pada-Nya) sedangkan munkar adalah maksiat (pada-Nya)[11].

Ma’asyiral Muslim rahimakumullah…

Bertahkim pada hukum Allah dalam seluruh aspek kehidupan adalah kewajiban yang termasuk dalam maklum min ad-din bi adz-dzarurah; baik hukum yang berkaitan dengan kehidupan pribadi, bermasyarakat, maupun bernegara. Syariat Islam telah menjelaskan pada kita bahwa penerapan hukum syara’ tersebut ada yang bersifat individu, kolektif atau jama’ah, ada juga yang harus melalui negara.

Pelakasanaan shalat fardhu, tentu bersifat pribadi. Berbeda dengan hukum syara’ yang mengatur kehidupan bernegara dan bermasyarakat, misalnya hukum yang terkait dengan sistem ekonomi, sistem pemerintahan, monoter, dll; tentu negaralah yang menerapkan, bukan hanya individu atau jamaah atau kelompok. Negara yang disebut oleh Rosulullah saw sebagai Khilafah.

Allahu akabar (3) walillahil hamd..

Tentang kewajiban adanya khilafah untuk menerapkan syariah-Nya dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat adalah suatu yang telah disepakati para Ulama tanpa ada perselisihan. Begitu pula wajibnya mengangkat khalifah, ketika khalifah tersebut tidak ada di tengah-tengah umat.

Allahu akbar (3X) walillahil hamd…

Ma’asyira ahbabillah rahimakumullah..

Untuk mengembalikan jati diri kita sebagai khairu ummah, selain keimanan kita yang mutlak pada Allah SWT, kita wajib melakukan amar makruf nahi munkar. Dan di antara aktivitas amar makruf nahi munkar, aktivitas yang paling penting saat ini adalah mengajak dan menyeru umat untuk menerapkan syariat Allah dengan menegakkan khilafah Islam, sekaligus mengganti sistem hukum yang tidak Islami di negeri-negeri Islam.

Mengapa demikian? Karena sumber berbagai kemungkaran adalah diterapkannya sistem kufur, dan sumber berbagi hal yang makruf adalah diterapkannya hukum Allah dalam seluruh kehidupan di bawah naungan Khilafah Islam.

Allahu akbar (3X) walillahim hamd..

Ma’asyira haarisil Islam rahmatullahi alakum..

Kewajiban untuk menerapakan hukum Allah di dalam seluruh aspek kehidupan dengan menegakkan khilafah Islam adalah aktivitas kolektif, bukan aktivitas individu. Aktivitas kolektif (amal jama’i) artinya bahwa pelaksanaan kewajiban tersebut harus melalui Jama’ah atau Hizb yang memang didirikan dan berjuang untuk melaksanakan kewajiban tersebut.

Ma’asyiral Muslim rahimakumullah..

Insyaallah dengan keimanan kita kepada Allah, dan aktivitas amar makuf nahi munkar dengan berjuang, berdakwah untuk menerapkan syariah-Nya di bawah naungan Khilafah Islam; semua itu akan mengantarkan kaum Muslim kembali pada karakter dan tabiatnya sebagai khairu ummah sebagaimana generasi-generasi Islam yang sebelumnya. Insyaallah.

صلى الله على سيد المرسلين ، وإمام المتقين وعلى آله وصحبه ، ومن دعا بدعوته ، والتزم بطريقته ، وجعل العقيدة الإسلامية أساسا لفكرته ، والأحكام الشرعية مقياساً لأعماله ، ومصدراً لأحكامه وَمَنْ جاَهَدَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ حَقَّ جِهاَدِه…ِ

أَللّهُمَّ اغْفِرْلَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، أَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ

اَللَّهُمَّ ارْحَمْ اُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَحْمَةً عَامَّةً تُنْجِيْهِمْ بِهَا النَّارَ وَتُدْخِلْهُمْ بِهَا الْجَنَّةَ.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا اْلإِسْلاَمَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَ اجْعَلْناَ مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ بِإِقَامَتِهَا

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَسُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، كُلُ عَامٍ وَ أَنْتُمْ بِخَيْرٍ


[1] Al Qur’an surah ali Imran ayat 110

[2] akhrajahu al-imam Ibn Majah, Sunan ibn Majah, juz 6, hal 94

[3] Kompas.com, jum’at 16 april 2010

[4] Republika.co.id, 21 Agustus 2010

[5] Al Qur’an Surah An nur ayat 55

[6] Imam al-hafidz Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’anul Adzim, 6/77

[7] Akhrajahu al-imam Muslim, shahih Muslim, 4/2215

[8] syeikhul Islam al-imam al-hafidz An-nawawi, syarah shahih Muslim, 9/268)

[9] Al-hafidz asy-syaukani, Fathul Qadir 2/11

[10] Akharajahu Ath-thabarani, al-Mu’jamul Kabir, 17/495

[11] Imamm an-Nasafi, Tafsir an Nasafi, 1/174

Baca juga :

  1. Khutbah Idul Adha 1431 H: Membangkitkan Jiwa Berkorban untuk Menegakkan Khilafah Islamiyyah
  2. KHUTBAH IDUL FITRI 1428 H
  3. Khutbah Idul Fitri 1429 H: Kapitalisme di Ujung Tanduk, Khilafah di Depan Mata
  4. Khutbah Idul Fitri dari Al Quds : Berhari Raya Diatas Aliran Darah Kaum Muslim
  5. Khutbah Idul Fitri 1432H: Raih Hidup Sejahtera dengan Syariah dan Khilafah

8 comments

  1. dengan semangat amar maruf nahi munkar pasti akan datang masa tegaknya syariah dan khilafah

  2. mhon di muat juga untuk Khutbah id adha pad tahun ini,,syukron

  3. syukron atas teks khutbahnya,

  4. salam da’wah mudah-mudahan bermanfaat bagi seluruh ummat, syukron katsir

  5. Assalamualaikum, mohon ijin untuk mencopy khutbahnya, syukron.

  6. mhn ijin utk copy khutbahnya….smoga bermanfaat

  7. mohon segera tampilkan khutbah idul fitri 1432 h

  8. Ijin copy khutbahnya, jazaakalloh bil khoir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


+ 8 = 9

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Switch to our mobile site