<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Sistem Jaminan Sosial yang Tidak Mensejahterakan</title>
	<atom:link href="http://hizbut-tahrir.or.id/2011/07/22/sistem-jaminan-sosial-yang-tidak-mensejahterakan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hizbut-tahrir.or.id/2011/07/22/sistem-jaminan-sosial-yang-tidak-mensejahterakan/</link>
	<description>International Political Party</description>
	<pubDate>Sat, 26 May 2012 13:54:14 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.5</generator>
		<item>
		<title>By: HTI KEPRI</title>
		<link>http://hizbut-tahrir.or.id/2011/07/22/sistem-jaminan-sosial-yang-tidak-mensejahterakan/#comment-73442</link>
		<dc:creator>HTI KEPRI</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 28 Jul 2011 00:55:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hizbut-tahrir.or.id/?p=30655#comment-73442</guid>
		<description>Mbak Dina, mungkin harus paham dulu apa tugas negara dalam pandangan Islam dan apa tugas individu atau jamaah. Ketika hal tersebut belum dipahami, maka sangat wajar pandangan dan pendapat anda seperti itu. Justeru apa yang dilakukan oleh Penulis adalah "perjuangan" untuk memahamkan dahulu masyarakat tentang penting nya tugas negara dalam menjamin kebutuhan primer warga negaranya. Hanya Negara Khilafah lah yang akan menjamin kebutuhan primer warga negara nya, baik Muslim maupun non-Muslim. Hal ini sudah terbukti, baik sevara fakta empirik mapun historis. Silahkan mbak Dina membaca kembali, bagaimana Islam mensejahterakan umat.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mbak Dina, mungkin harus paham dulu apa tugas negara dalam pandangan Islam dan apa tugas individu atau jamaah. Ketika hal tersebut belum dipahami, maka sangat wajar pandangan dan pendapat anda seperti itu. Justeru apa yang dilakukan oleh Penulis adalah &#8220;perjuangan&#8221; untuk memahamkan dahulu masyarakat tentang penting nya tugas negara dalam menjamin kebutuhan primer warga negaranya. Hanya Negara Khilafah lah yang akan menjamin kebutuhan primer warga negara nya, baik Muslim maupun non-Muslim. Hal ini sudah terbukti, baik sevara fakta empirik mapun historis. Silahkan mbak Dina membaca kembali, bagaimana Islam mensejahterakan umat.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: salman</title>
		<link>http://hizbut-tahrir.or.id/2011/07/22/sistem-jaminan-sosial-yang-tidak-mensejahterakan/#comment-73372</link>
		<dc:creator>salman</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 Jul 2011 03:54:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hizbut-tahrir.or.id/?p=30655#comment-73372</guid>
		<description>kembalikan rakyat/umat ini kepada jaminan Allah dalam Al-Qur'an Surat Al-A'raf 96. tidak usah percaya kepada jaminan kosong sistem demokrasi.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kembalikan rakyat/umat ini kepada jaminan Allah dalam Al-Qur&#8217;an Surat Al-A&#8217;raf 96. tidak usah percaya kepada jaminan kosong sistem demokrasi.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ratno al Fatih</title>
		<link>http://hizbut-tahrir.or.id/2011/07/22/sistem-jaminan-sosial-yang-tidak-mensejahterakan/#comment-73326</link>
		<dc:creator>Ratno al Fatih</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 Jul 2011 02:06:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hizbut-tahrir.or.id/?p=30655#comment-73326</guid>
		<description>Pemecahan problematika kesejahteraan rakyat ala kapitalis oleh pemerintah hanya beputar-putar dalam lingkaran setan, suber daya alam yg mustinya untuk rakyat malah diberikan asing, giliran untuk kesejahteraan rakyat alasannya ngga punya dana, akhirnya rakyat wajib menaggung kesejahteraannya sendiri ala asuransi. sungguh kesalahan yang kasat mata (sangat jelas)namun mereka buta dan tuli akan sistem yg sangat mulia dan pasti berpahala yaitu SISTEM ISLAM yg tidak salah lagi yaitu NEGARA KHILAFAH ROSYIDAH AL ISLAMIYAH (NKRI)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pemecahan problematika kesejahteraan rakyat ala kapitalis oleh pemerintah hanya beputar-putar dalam lingkaran setan, suber daya alam yg mustinya untuk rakyat malah diberikan asing, giliran untuk kesejahteraan rakyat alasannya ngga punya dana, akhirnya rakyat wajib menaggung kesejahteraannya sendiri ala asuransi. sungguh kesalahan yang kasat mata (sangat jelas)namun mereka buta dan tuli akan sistem yg sangat mulia dan pasti berpahala yaitu SISTEM ISLAM yg tidak salah lagi yaitu NEGARA KHILAFAH ROSYIDAH AL ISLAMIYAH (NKRI)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Dina</title>
		<link>http://hizbut-tahrir.or.id/2011/07/22/sistem-jaminan-sosial-yang-tidak-mensejahterakan/#comment-73323</link>
		<dc:creator>Dina</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 Jul 2011 01:12:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hizbut-tahrir.or.id/?p=30655#comment-73323</guid>
		<description>RUU BPJS &#38; Jaminan Sosial yg kami usung adalah bersifat Wali Amanah. 

Apakah Penulis sudah berjuang mengenai hal tersebut ?

Burhanudin nyaris kehilangan semuanya. Ia menderita penyakit kulit aneh. Usianya baru 10 tahun, tapi penyakit yang dideritanya telah merampas keceriaan masa kecilnya. Dia teriak kesakitan acap kali kulitnya kena cahaya. Kulitnya mengelupas, bahkan kedua matanya sudah tak mampu menangkap cahaya. Sudah sembilan tahun Burhan menderita penyakit aneh itu. Namun, baru sekali saja Ita, ibunya, mampu membawa Burhan ke rumah sakit. Ayahnya, Adi, sehari-hari hanyalah seorang buruh angkut barang di pelabuhan penyeberangan Punggur-Tanjunguban.

 

”Saya tidak punya uang untuk bawa ke dokter. Selama ini kami bawa ke dukun saja,” kata Ita, warga Pulau Ngenang, Kecamatan Nongsa, Batam, ini. Sebagai ibu, Ita hanya punya mimpi sederhana, suatu saat kelak melihat Burhan berlarian di bawah matahari pagi dan bermain bersama teman sebayanya.


Jaminan Sosial adalah HAK!


Burhan tidak sendirian, masih ada Bilqis yang akhirnya harus mengakhiri rasa sakitnya dengan kehilangan nyawanya. Masih ada Fikri yang mengidap penyakit serupa dengan Bilqis, dan kini hanya bisa pasrah dirumahnya menunggu maut datang menjemput. Penghasilan ayah Fikri, Abdul sebagai pegawai toko bunga di Jakarta Barat tidak memungkinkan untuk membiayai pengobatan Fikri.


Semua kisah mereka ramai dibahas di media massa. Inilah juga realitas kepedihan yang harus ditanggung oleh sebagian besar rakyat Indonesia akibat tidak adanya jaminan sosial terutama jaminan kesehatan. Ketika sakit, siap-siap jatuh miskin. Jika memang sudah miskin, siap-siap mati bagai anjing. 

Apakah Penulis sudah berjuang mengenai hal tersebut ?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>RUU BPJS &amp; Jaminan Sosial yg kami usung adalah bersifat Wali Amanah. </p>
<p>Apakah Penulis sudah berjuang mengenai hal tersebut ?</p>
<p>Burhanudin nyaris kehilangan semuanya. Ia menderita penyakit kulit aneh. Usianya baru 10 tahun, tapi penyakit yang dideritanya telah merampas keceriaan masa kecilnya. Dia teriak kesakitan acap kali kulitnya kena cahaya. Kulitnya mengelupas, bahkan kedua matanya sudah tak mampu menangkap cahaya. Sudah sembilan tahun Burhan menderita penyakit aneh itu. Namun, baru sekali saja Ita, ibunya, mampu membawa Burhan ke rumah sakit. Ayahnya, Adi, sehari-hari hanyalah seorang buruh angkut barang di pelabuhan penyeberangan Punggur-Tanjunguban.</p>
<p>”Saya tidak punya uang untuk bawa ke dokter. Selama ini kami bawa ke dukun saja,” kata Ita, warga Pulau Ngenang, Kecamatan Nongsa, Batam, ini. Sebagai ibu, Ita hanya punya mimpi sederhana, suatu saat kelak melihat Burhan berlarian di bawah matahari pagi dan bermain bersama teman sebayanya.</p>
<p>Jaminan Sosial adalah HAK!</p>
<p>Burhan tidak sendirian, masih ada Bilqis yang akhirnya harus mengakhiri rasa sakitnya dengan kehilangan nyawanya. Masih ada Fikri yang mengidap penyakit serupa dengan Bilqis, dan kini hanya bisa pasrah dirumahnya menunggu maut datang menjemput. Penghasilan ayah Fikri, Abdul sebagai pegawai toko bunga di Jakarta Barat tidak memungkinkan untuk membiayai pengobatan Fikri.</p>
<p>Semua kisah mereka ramai dibahas di media massa. Inilah juga realitas kepedihan yang harus ditanggung oleh sebagian besar rakyat Indonesia akibat tidak adanya jaminan sosial terutama jaminan kesehatan. Ketika sakit, siap-siap jatuh miskin. Jika memang sudah miskin, siap-siap mati bagai anjing. </p>
<p>Apakah Penulis sudah berjuang mengenai hal tersebut ?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

