HTI

Fokus

Ironi Ramadhan dan Idul Fitri

Rarhaban Ya Ramadhan, Marhaban Ya Syahr ash-Shiam,” Hadad Alwi bersenandung riang diiringi para penyanyi cilik yang juga berekspresi girang. Kegembiraan itu bukan hanya milik Haddad Alwi. Seluruh umat juga merasa gembira dengan kehadiran Ramadhan; bulan puasa; bulan yang meletupkan euforia bagi umat meski hanya sekejap.

Mesjid kembali terisi penuh dengan ritual tarawih, sms ucapan selamat Ramadhan ber-sliweran. Para ustadz juga sibuk dengan beragam agenda ceramah; mulai dari kuliah subuh, kultum berbuka puasa, hingga menjadi imam tarawih dan memimpin itikaf. Mereka menyambut umat yang selama Ramadhan menjadi luar biasa dahaga dengan tawjih dan taushiyah para ustadz.

Para pedagang, pemilik mal dan hampir semua pengusaha juga bergairah dengan kehadiran Ramadhan; seolah menyambut janji Nabi saw. bahwa Ramadhan adalah ‘bulan yang ditambahkan rezeki’ oleh Allah. Para pengusaha sudah hapal, pada bulan Ramadhan pengeluaran rumah tangga masyarakat juga meningkat. Berapapun harga barang ditawarkan, akan dibeli. Itu berarti tambahan keuntungan bagi mereka.

Pemerintah juga belagak sigap menyambut Ramadhan; menyerukan penutupan tempat-tempat hiburan, merazia dan memusnahkan miras serta narkoba. Tidak lupa mereka beranjangsana kepada para alim ulama serta melakukan tarawih keliling atau buka bersama masyarakat; seolah menunjukkan bahwa mereka juga gemar beribadah dan bisa dekat dengan masyarakat kecil serta para santri.

Pada penghujung Ramadhan, menjelang Idul Fitri, umat pun bersemangat untuk pulang kampung. Mudik. Itulah ritual tahunan umat Islam, khususnya di Tanah Air; bertemu orangtua, sanak-saudara, bermaaf-maafan. Kadang ada tetesan air mata meski lebih sering tertutup dengan berlimpah-ruahnya hidangan dan gemerlap pakaian baru saat itu.

Ramadhan memang seperti keajaiban. Ia bisa mengubah suasana sekular yang carut-marut menjadi atmosfer keimanan. Sayang, keindahan ini serba sesaat.


Artifisial dan Profan

Pentolan Jaringan Islam Liberal, Ulil Abshar Abdalla pernah berkomentar bahwa sekularisme adalah pemikiran yang paling cocok di Indonesia. Alasannya? “Ia dapat menampung enerji kesalehan dan enerji kemaksiatan sekaligus.”

Ucapan Ulil berlaku saat ini karena umat Islam memang masih berkubang di dasar jurang sekularisme. Di dalamnya agama tidak dibunuh, tetapi hanya menjadi asesoris kehidupan, bukan pijakan. Sebagai asesoris, agama dapat disandingkan dengan apa saja, siapa saja dan kapan saja. Berislam nyaris menjadi artifisial dan profan, penuh kepura-puraan dan kepalsuan. Bahkan agama pun dapat dikomersilkan seperti aneka tayangan di bulan Ramadhan.

Selama Ramadhan, pemilik stasiun televisi merasa sah saja menyandingkan keilmuan ustadz dengan keliaran para selebritis dalam aneka acara selama Ramadhan. Selebritisnya tidak merasa malu. Para ustadznya pun tidak merasa luntur kadar ‘iffah dan muru’ah-nya. Sebagian ustadz berdalih bahwa berdakwah adalah untuk siapa saja dan di mana saja. Yang terjadi, para ustadz sudah menjadi tontonan ketimbang tuntunan bagi umat; menjadi bagian dari entertainment komersial dalam sebuah industri pertelevisian yang kapitalistik.

Demi keuntungan pula, para pemilik stasiun televisi memunculkan para seleb bahkan banci yang kesehariannya jauh dari kesalihan sebagai ikon acara Ramadhan. Inikah bentuk ta’zhim (memuliakan) bulan agung dan penuh barakah itu? Semua semata demi mereguk keuntungan sebesar-besarnya di bulan Ramadhan. Nabi saw. bersabda:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوعُ

Berapa banyak orang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain lapar belaka (HR Ahmad).


Sabda Rasulullah saw. adalah benar. Banyak orang menempatkan Ramadlan hanya sebagai kegiatan ibadah yang terpisah dari kehidupan. Nafsu makan dan minum mungkin dikekang, tetapi berbagai larangan Allah SWT mungkin pula tetap dijalankan. Ada sebagian orang yang tetap merasa malu makan atau minum di siang hari selama Ramadhan. Mereka berusaha istiqamah menahan lapar dan dahaga hingga waktu berbuka. Namun, kaum prianya tidak menahan diri dari memandang aurat wanita, dan wanitanya juga tidak menahan diri dengan menutup aurat mereka menggunakan busana Muslimah. Padahal bukankah tujuan puasa adalah untuk mendapatkan gelar muttaqqin?

Perbuatan mesum juga tetap terjadi selama Ramadhan. Banyak pasangan yang belum menikah tetap mendekati perbuatan zina, semisal ber-khalwat bahkan berpelukan di muka umum. Seolah menjadi kelaziman di kalangan muda-mudi, selama Ramadhan, muncul aktivitas ‘asmara subuh’ atau berbuka puasa bersama. Bukankah puasa juga seharusnya mengendalikan syahwat dari perkara yang haram?

Di mimbar-mimbar taklim pada bulan Ramadlan sering disampaikan bahwa rasa lapar dan haus yang dirasakan mereka yang berpuasa adalah sebagai bentuk kesetiakawanan sosial; turut merasakan derita si papa yang rutin kelaparan berhari-hari. Lagi-lagi, semua seruan itu tidak sanggup menghentikan mental konsumtif dan hedonis umat pada hari ini. Si lemah tetap kelaparan dan telanjang pada bulan Ramadhan. Si kaya yang telah terasuki hedonisme tetap bergaya hidup boros. Makanan berlimpah-ruah di rumah-rumah mereka dan foodcourt di berbagai mal tetap ramai meski menawarkan menu dengan tarif yang aduhai, yang mungkin cukup untuk makan si fakir selama 2-3 hari.

Saat hari-hari menjelang lebaran tiba kembali mal dan pasar-pasar dibanjiri pengunjung. Alih-alih mengencangkan ikat pinggang, menjauhi keluarga dan beritikaf layaknya Nabi saw., umat lebih konsentrasi memburu tiket mudik, pakaian untuk berlebaran dan asesoris rumah tangga. Lalu dimanakah keteladanan Nabi saw. yang rajin dikumandangkan di majelis-majelis zikir dan oleh orang-orang yang mengaku mahabbah kepada Nabinya?

Yang menggelikan, saat lebaran tiba, justru kawasan wisata juga ramai diserbu warga. Pantai, tempat hiburan hingga kebun binatang didatangi warga. Duhai, tidak ada lagikah sanak-saudara atau tetangga yang layak untuk dikunjungi dan dimintai maafnya sehingga orang merasa lebih baik mengunjungi aneka satwa di kebun binatang?


Puasa Para Penguasa

Bagi para elit penguasa, Ramadhan adalah wahana mempertahankan dan menaikkan popularitas dengan cara mendekatkan diri kepada rakyat. Aneka kegiatan pun digelar; buka puasa bersama, tarawih keliling, shalat subuh keliling hingga membagi zakat dan shalat Idul Fitri bersama konstituen mereka.

Namun, semua terjadi nyaris profan (bersifat duniawi) dan artifisial.

Para penguasa dari pusat hingga daerah lupa bahwa membahagiakan masyarakat bukanlah dengan sekadar shalat berjamaah atau buka puasa bersama dengan mereka, tetapi melakukan pengaturan urusan rakyat sepenuh hati dan sekuat tenaga (ri’ayatusy syu’unil ummah) dengan syariah Islam. Apalah arti buka puasa bersama bila pada hari berikutnya rakyat dibiarkan kelaparan.

Pemerintah boleh sesumbar bahwa stok beras nasional cukup untuk lima bulan ke depan. Namun, pernahkah terpikir apakah semua rakyat dapat makan nasi setiap hari? Bukankah realitanya umat harus membelinya dengan harga yang terus-menerus naik setiap harinya, apalagi menjelang lebaran?

Begitu pula stok sembako yang berlimpah tidak ada artinya bila hanya segelintir orang yang sanggup membelinya. Di sisi lain, para penguasanya sudah merasa puas dengan membagi zakat kepada warga. Itu pun warga harus berebut dan terhina hanya untuk mendapatkan zakat yang tidak seberapa.

Inilah pola pikir Kapitalisme yang mengajarkan pentingnya produksi dan bukan distribusi. Yang penting stok ada. Persoalan kemampuan membeli diserahkan pada hukum pasar, tanpa perlu campur tangan penguasa.

Setiap lebaran tiba rakyat juga dibiarkan berjubel-jubel dalam transportasi massal yang harga tiketnya jadi berlipat tetapi pelayanannya tidak manusiawi, jauh dari rasa aman dan nyaman. Di kereta ekonomi orang duduk dan berdiri berdesakan hingga di lorong gerbong, bahkan dalam wc kereta sekalipun.

Pasca lebaran, kembali kota-kota besar, khususnya ibukota negara akan dibanjiri para pendatang baru. Mereka adalah warga pedesaan yang ingin mengadu nasib setelah hidup mereka jadi kian susah di daerah asalnya. Itu berarti tambahan persoalan di berbagai kota seperti kepadatan penduduk, kemacetan lalu lintas, pengangguran dan kriminalitas.

Terjadinya urbanisasi rutin setiap tahun pasca lebaran adalah gambaran kegagalan dan ketidakseriusan penguasa meningkatkan taraf hidup masyarakat di perkampungan. Banyak daerah yang tetap terbelakang baik sarana maupun prasarananya. Di beberapa daerah dekat perkotaan seperti di sekitar Kabupaten Bogor saja masih banyak warga yang buta huruf. Mengutip data Kemendiknas 2010, ketua PA Arist Merdeka Sirait menyebutkan masih terdapat 11,7 juta anak usia sekolah yang belum tersentuh pendidikan, dan diperkirakan 4,7 juta jiwa siswa SD dan SMP yang tergolong miskin terancam putus sekolah (Republika, 26/7).

Di sisi lain, korupsi terus melaju seolah tanpa bisa dihentikan oleh siapapun. Ketua DPR RI sekaligus fungsionaris partai penguasa, Marzuki Alie, justru malah meminta agar rakyat Indonesia memaafkan para koruptor dan mengusulkan pembubaran KPK. Marzuki lupa bahwa DPR sendiri adalah sarang koruptor, demikian pula anggota dan pengurus partainya telah terindikasi melakukan sejumlah tindakan korupsi. Mengapa ia tidak mengusulkan pembubaran juga untuk lembaga yang dia pimpin dan partainya sendiri?

Pada Ramadhan ini kita juga masih melihat sejumlah penguasa kaum Muslim terus membantai rakyatnya sendiri. Rezim Suriah, Libya, Mesir, Pakistan dan Afghanistan masih menjalankan operasi militer untuk menangkapi dan membunuh rakyat mereka sendiri. Hingga kini sudah sekitar 1400 orang tewas di tangan rezim Suriah Bashar Assad. Pembunuhan itu terus berkelanjutan tanpa sedikitpun teriakan protes apalagi penghentian oleh para penguasa Muslim lainnya. Mereka belagak tuli dan bisu menyaksikan ceceran darah kaum Muslim.


Puasa Bagian Ketaatan

Sekularisme telah berhasil mempedaya umat ini dalam menjalankan ibadah puasa; seolah umat telah menundukkan diri kepada Allah, padahal sebenarnya mereka tunduk pada hawa nafsu. Bagaimana bisa dikatakan seseorang masih berpuasa karena Allah jika lidahnya mencaci-maki orang-orang yang berjuang menegakkan syariah Allah dan Khilafah Rasyidah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya; apalagi bersekutu dengan musuh-musuh Allah untuk menghalangi tegaknya ‘izzul Islam wal muslimin?

Bagaimana umat ini bisa dikatakan menghormati bulan puasa jika menjaga kemuliaannya hanya sebatas Ramadhan? Menutup tempat-tempat hiburan yang keji dan mungkar tetapi hanya selama Ramadhan berjalan? Bukankah ketaatan pada Allah berlaku selama hayat dikandung badan?

Puasa adalah bagian dari serangkaian ketundukkan total kepada Allah SWT, bukan sesuatu yang terpisah dari rangkaian ketaatan yang lain. Memisahkan puasa dari hukum-hukum Allah SWT yang lain adalah sebuah perbuatan tercela. Allah SWT berfirman:

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Apakah kalian mengimani sebagian al-Kitab dan mengingkari sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada Hari Kiamat mereka dikembalikan ke dalam siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kalian perbuat (QS al-Baqarah [2]: 85).


Mereka yang berpuasa dengan sepenuh hati dan berusaha menaati Allah secara kaffah pasti akan merintih menyaksikan umat hari ini masih terbelenggu dengan hawa nafsu, didekap oleh sekularisme dan demokrasi, tetapi mereka merasa sudah menunaikan kewajiban Allah dengan sebaik-baiknya.

Sepantasnya umat ini tidak bergembira saat Idul Fitri tiba, karena dosa akibat terabaikannya syariah Allah masih terus terjadi dan umat masih terus terjajah secara pemikiran, ideologi, politik, ekonomi dan sosial. Sementara itu, para penguasanya terus menjadi alas kaki kaum imperialis terkutuk.

Sebagian salafus salih ditanya, “Kapankah kalian berhari raya?” Mereka menjawab, “Pada hari kami tidak bermaksiat kepada Allah SWT. Itulah hari raya kami. Hari raya itu bukan bagi orang-orang yang memakai pakaian kebesaran, tetapi bagi mereka yang mengimani azab akhirat. Bukan pula hari raya itu bagi mereka yang mengenakan pakaian yang indah, tetapi untuk mereka yang mengetahui jalan (Islam).” (Al-Kasykul, 1/82). [Iwan Januar]

Print Friendly

Baca juga :

  1. Agar Idul Fitri Lebih Bermakna
  2. Memelihara Spirit Ramadhan dan Idul Fitri
  3. Memelihara Spirit Ramadhan dan Idul Fitri [Pengantar]
  4. Idul Fitri dan Optimisme Perjuangan Khilafah
  5. Pengajian Sakinah HTI se-Kab Bantul Sukses Gelar ”Muhasabah Kubro” Introspeksi Pasca Idul Fitri

Comments

  1. Ya Allah, jika dalam setahun tidak bisa selamanya bulan ramadhan, maka tumbuhkanlan nuansa ramadhan sepanjang tahun

  • RSS
  • Like Page FB HTI
  • Google+
  • Download BB Launcher
  • Follow Twitter HTI
  • Youtube HTI

Switch to our mobile site