Tabligh Akbar HTI Lampung: Memaknai Hijrah Rasulullah SAW

HTI Press. “Apakah anda hafal nama-nama bulan pada tahun hijriyah?” tanya Ustadz Ust Ibnu Aziz Fathoni, S.Si., M.Pd.I dari DPP HTI pada para peserta tabligh akbar interaktif, Minggu 18 Desember 2011 di Masjid Taqwa Tanjung Karang, Bandar Lampung. “Sangat ironis banyak dari pemuda dan remaja kaum muslim lebih hafal mengurutkan nama-nama bulan pada tahun masehi dibandingkan dengan nama-nama bulan dalam Islam. Ungkapnya.

Acara Tabligh Interaktif bertema “Memaknai Hijrah Rasulullah S.A.W” ini diselenggarakan oleh DPD I HTI Lampung pada pukul 08.30  dengan MC Ust. Darmawan, Tilawah Ust. Azhari, Sambutan Ust. Abu Muhammad, dan Host Ust Fatoni, yang kebetulan namanya sama dengan pembicara.

Tema Tahun baru Islam Islam yang diusung pada tabligh akbar ini menarik antusiasme peserta yang berjumlah seratusan orang. “Gegap gempita tahun baru Islam berbeda dengan tahun baru Nasrani”, ujar Ustadz fathoni. “Merefleksikan makna hijrah Rasul S.A.W adalah perintah. Namun sayangnya kaum muslim lebih suka ikut-ikutan merayakan momen tahun baru masehi.” Tuturnya. Menurut Ustadz Fathoni, Hadist Nabi S.A.W menceritakan bahwa tak akan terjadi kiamat yang menimpa umat Muhammad sampai umat ini mengambil apa-apa yang ada dari umat-umat sebelumnya. Yang dimaksud adalah kebiasaan orang-orang Yahudi dan Nasrani. “Umat ini mengikuti mereka sedikit demi sedikit. Kalau nama bulan masehi hafal, tapi nama bulan dalam Islam tidak ada yang hafal. Bagaimana identitas keislaman mereka? Ini harus kita renungkan” katanya.

Sejarah sistem kalender Islam mengungkapkan peristiwa penting dibalik tahun baru Islam. Umar bin Al-Khattab memilih hijrah sebagai awal penanggalan. Kenapa hijrah begitu bermakna? Karena hijrah adalah perpindahan dari sesuatu yang buruk kepada sesuatu yang baik. Pindah dari negara kufur ke negara Islam. “Untuk menjaga agama, melindungi hak-hak dan kewajiban sebagai umat Islam” ujar Ustadz Fathoni.

Hijrah adalah perintah Allah SWT. Hijrah juga adalah sebuah perjuangan, karena banyak tantangan yang begitu berat harus dihadapi umat Islam, para sahabat Nabi S.A.W saat itu. Kloter pertama sayidina Hamzah. Umar ra, lalu terakhir Nabi S.A.W. Perjalanan juga tidak mulus, padang pasir tandus harus ditaklukan selama berhari-hari perjalanan. Siang panas membakar, kesulitan mencari air dan malam begitu dingin menusuk tulang. Meninggalkan sanak saudara, seluruh harta benda, belum lagi ancaman kaum Quraisy dan binatang buas di gurun. Dengan hijrah, Allah SWT mempersaudarakan kaum Anshor dengan Muhajirin. “Buktinya adalah lagu yang sering kita dengar; Thalaal badru alayna… itu adalah euforia kegembiraan. Setelah hijrah bukan berarti perjalanan dakwah mulus. Kaum muslim terlibat perang badar yang sangat menentukan kaum muslimin” ujarnya. Ada kejadian menarik di Madinah, negara Islam yang ditegakkan Rasulullah. Pada saat shalat ibadah, semua bisnis ditinggalkan, sampai-sampai pendatang dari Yaman terheran-heran, Islam dapat membuat orang merasa nyaman meninggalkan barang dagangan karena adzan Bilal, untuk bersama-sama shalat berjamaah. Pada saat futuh Makkah, semua berjalan damai. Rasul memaafkan dan tak membalas dendam, hijrah membawa kaum muslim kembali dengan kemenangan.

Dengan kekuatan Islam, negara menyebarluaskan Islam ke negara-negara tetangga. Dengan utusan-utusan, delegasi-delegasi yang diutus Rasul S.A.W mengajak pada Islam. Dakwah menjadi terbuka ke seluruh penjuru dan lebih mudah. “Ini terjadi setelah hijrah Beliau ke Madinah, dengan perjalanan yang cukup sulit. Hijrah adalah perubahan, dari kondisi buruk menjadi baik” lanjut UstadzFathoni. Syaikh Ahmad Athiyat juga mengatakan, manusia tak akan berpikir tentang perubahan, kecuali memiliki kesadaran atas fakta yang rusak, kesadaran atas solusi pengganti. Bagaimana caranya agar preman mau ngaji, wanita cantik mau berjilbab, dan lain-lain. Pendidikan kita sekarang ini sekuler, demoralisasi, politik disintegrasi. Hukum bersimpuh pada uang, liberalisasi & globalisasi menjadi tragedi.

Slide-slide presentasi dengan potongan film yang ditampilkan pembicara menyajikan fakta-fakta kerusakan yang terjadi pada masyarakat. Umat terancam perpecahan. Kriminalitas merajalela. Ada koran kriminal terbit pagi dan sore. Slide film menyajikan rangkuman problematika yang menimpa kaum muslim keseluruhan. Keruntuhan khilafah. Peperangan yang dilancarkan barat ke negeri kaum muslim. Perang saudara. Aneksasi Palestina oleh Yahudi. Umat Islam akan dikepung oleh umat-umat yang lain seperti orang mengerumuni hidangan. Pelarangan jilbab di eropa. “Pertanyaannya adalah, apakah demokrasi itu berketuhanan sedangkan melaksanakan perintah Allah SWT dengan berjilbab saja dilarang?” tanya Ustadz fathoni pada peserta.

Kerusakan ada yang bisa diidentifikasi oleh pancaindera (longsor, banjir, gempa, dll). Namun ada yang hanya bisa diidentifikasi oleh pemikiran (berpakaian tidak syar’i, berbisnis riba, pergaulan bebas, dll). Kerusakan berbuah maksiat. Maksiat berbuah bencana. Maksiat adalah perbuatan yang menyelisihi perintah dan larangan Allah SWT. Tidak shalat, tidak zakat, tidak shaum, pelacuran, kriminalitas, itu maksiat individu/masyarakat. Ada maksiat berjamaah/struktural. Mencampakkan hukum Islam dan menerapkan hukum sekuler adalah kemaksiatan berjamaah.

Takutlah karena azab Allah tak hanya menimpa orang jahat, tapi juga orang sholeh.  Kalau tidak bisa mencela kerusakan walaupun dengan hati, maka dia tidak punya keimanan. Jalan keluar dari kondisi ini? Ya kembali taubat, menjadi muslim cerdas itu tak menunggu musibah untuk tersadarkan. Cukup mengambil ibrah dari apa yang terjadi. Tidak diazab dulu baru ngeh. “Kembali kemana, apakah sosialisme komunisme? Kapitalisme? Tentu saja tidak, tidak ada kehidupan tanpa Islam. Akan lebih baik, adil sejahtera dengan penerapan sistem Islam. Bersyariah berbuah berkah, menolak syariah dan khilafah adalah musibah! Hijrah adalah perubahan dari kondisi buruk ke baik dan perubahan itu adalah dengan Islam, syariah dan khilafah. Tak ada yang lain” jelasnya.[]

Baca juga :

  1. Memahamkan Makna Hijrah Sebenarnya, HTI Riau Gelar Pawai dan Tabligh Akbar
  2. Tabligh Akbar Muharram Kota Padang: Musibah dan Hijrah untuk Tegaknya Syariah dan Khilafah
  3. MHTI Lampung Gelar Tabligh Akbar “Umat Islam, Umat Terbaik”
  4. Hijrah Menuju Sistem Islam
  5. MHTI Lampung Gelar Tabligh Akbar: “Islam Memuliakan Wanita”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


+ 4 = 12

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Switch to our mobile site