Pengantar [Bahaya Nasionalisme dan Separatisme]

Assalâmu‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh.

Pembaca yang budiman, nasionalisme sejauh ini dianggap sebagai paham yang harus terus ditanamkan dan dipelihara di tengah-tengah warga negara. Nasionalisme (paham kebangsaan) diyakini sebagai faktor yang bisa memperkuat negara sekaligus dapat mempersatukan seluruh elemen warga negara yang terdiri dari banyak suku bangsa seperti Indonesia.

Tentu, klaim atau asumsi di atas selayaknya dipertanyakan. Pasalnya, nasionalisme sering justru berperan sebaliknya. Indonesia sering berkonflik dengan Malaysia, misalnya—dari mulai rebutan wilayah perbatasan hingga klaim budaya—justru karena nasionalisme masing-masing. Timor Timur lepas dari Indonesia juga menjadi bukti bahwa nasionalisme gagal menjaga kesatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Munculnya gerakan separatis di Papua atau di Aceh adalah bukti lain kegagalan nasionalisme sebagai faktor perekat antar warga negara. Belum lagi konflik sosial bahkan tawuran antarwarga di tengah masyarakat dari mulai akibat urusan Pilkada hingga urusan sepakbola. Semua itu sejatinya menunjukkan betapa rapuh dan lemahnya nasionalisme menjadi faktor pemersatu dan perekat antarwarga negara.

Lebih dari itu, dalam konteks Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim, nasionalisme hakikatnya telah ‘membunuh’ jiwa dan semangat ukhuwah islamiyah yang bersifat universal. Karena faktor nasionalisme, kita dicegah untuk peduli terhadap saudara-saudara kita yang tertindas dan mengalami pembantaian massal di Palestina, Kashmir, Moro, Rohingnya, Afganistan, Irak, Suriah dan di berbagai belahan bumi yang lain. Nasionalisme benar-benar membuat kita gagap dalam merespon setiap peristiwa kekejian yang menimpa umat Islam di luar negeri.

Jika demikian faktanya, masihkan kita percaya dengan nasionalisme? Masih relevankah nasionalisme dijadikan faktor perekat antarwarga negara? Apa dampak lebih lanjut jika nasionalisme tetap dipertahankan oleh umat Islam? Bagaimana pula sesungguhnya Islam memandang nasionalisme? Beberapa pertanyaan inilah di antaranya yang akan dijawab secara lugas dan cerdas dalam tema utama al-waie edisi kali ini. Dengan itu diharapkan umat dapat menyadari berbagai kebusukan nasionalisme sehingga mereka mau segera mencampakkannya. Dengan itu pula mereka diharapkan mau kembali konsep ukhuwah islamiyah yang bersifat universal, yang hanya mungkin bisa diwujudkan dalam sistem Khilafah yang bersifat global. Selamat membaca!

Wassalâmu‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh.

 

Baca juga :

  1. Nasionalisme dan Separatisme Haram!
  2. Ust Fanani: Tolak Demokrasi, Nasionalisme, dan Separatisme!
  3. Bahaya partai Terbuka [Pengantar]
  4. Nasionalisme Bertentangan dengan Islam
  5. Rezim Iran Mengadopsi Nasionalisme Persia Bertopeng Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


1 − 1 =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Switch to our mobile site

WordPress Appliance - Powered by TurnKey Linux