Memahami Khilafah Islamiyah Menurut Kitab Kuning

HTI Press, Pangkalpinang. Terbitnya buku “Panduan Lurus Memahami Khilafah Islamiyah Menurut Kitab Kuning” karya Ustadz Fathiy Syamsuddin Ramadhan An-Nawiy mendapat sambutan hangat kaum muslimin Pulau Bangka.

Hal ini tampak dengan antusiasnya mereka dari berbagai latar belakang menghadiri bedah buku tersebut di empat tempat digelar.

Bedah buku yang diselenggarakan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Bangka Belitung di gelar di empat tempat dari Sabtu-Minggu, 15-16 Februari 2014, di Pesantren Al Muhajirin Koba, Masjid Al-Ittihat Sungailiat, Masjid Muhajirin Pangkalpinang dan Masjid Baitul Hikmah Muntok.

Selain menghadirkan penulis, panitia juga menghadirkan sebagai pembedah  Wahyudi Al-Marokky (Direktur Pamong Institute Jakarta), DR Suparta, M.Ag (Dosen STAIN SAS), KH. Ahmad Sofiyan (MUI Bangka), KH Zulyaden dan KH Ahmad Hijazi (Ponpes Al Islam-Kemuja), Thamnrin Abbas (Hakim Pengadilan Agama Muntok) dan Abdul Rohim (Kemenag Bangka Barat).

Syamsudin menjelaskan  aktivitas menegakkan Khilafah Islamiyyah merupakan kewajiban paling penting dari sekian banyak kewajiban penting lainnya di dalam agama Islam.  Sebab, para shahabat lebih menyibukkan diri mereka pada kewajiban agung ini dibandingkan kewajiban mengubur jenazah Nabi SAW.

Maka seorang mukmin harus “lebih menyibukkan dan memfokuskan dirinya “ pada kewajiban ini, dan menjadikannya persoalan utama. Pasalnya, Khilafah Islamiyah adalah satu-satunya thariqah syar’iyyah (metode syar’i) untuk menerapkan Islam secara sempurna sekaligus melanggengkan kepemimpinan kaum Muslim di seluruh dunia.

“Metode perjuangan untuk menegakkan kembali Khilafah Islamiyyah berdasarkan perintah dan larangan Allah SWT yakni Tholabun Nushrah yaitu aktivitas meminta nushrah atau dukungan dari ahlul quwwah agar mereka memberikan dukungan (nushrah) untuk menopang tegaknya Daulah Khilafah Islamiyyah.  “Nabi saw di dalam riwayat, telah menempuh thalabun nushrah sebagai thariqah untuk menegakkan Daulah Islamiyyah di Madinah Munawarah”.

Buku ini juga menjelaskan pemikiran Islam yang jernih, khususnya pandangan ulama-ulama mu’tabar tentang Khilafah Islamiyyah dan hal-hal yang berhubungan dengannya. Diharapkan fitnah dan propaganda murahan para cecunguk itu terjungkal di bawah hujjah yang benar dan kuat.

Meski ada beberapa catatan, KH Ahmad Sofiyan menilai buku ini sangat berkualitas. Isinya merupakan kumpulan pendapat para ulama besar empat mazhab yang tak diragukan lagi kredibilitasnya. “Seluruh ulama besar sepakat akan wajibnya menegakkan Khilafah,” katanya. Hal senada pula yang diungkapkan KH Zulyaden dan KH Ahmad Hijazi.

Sementara Suparta menjelaskan tentang definisi kitab kuning yaitu kitab referensi klasik yang banyak menjadi rujukan para ulama. Beliau menjelaskan kitab-kitab berabad-abad yang lalu sekitar 13 kitab kuning menjadi rujukan dari buku yang di bedah. “Banyak nash-nash yang menjelaskan tentang kewajiban mengangkat seorang khalifah,” ujarnya.

Menurutnya, tak sedikit kalangan cendekiawan muslim yang tidak paham Khilafah Islamiyah. Bahkan bukan pemikiran Islam yang diadopsi, tapi justru pemikiran sekuler yang datangnya dari Barat. “Inilah yang menjadi keprihatinan kita. Harusnya mereka bias menjadi ujung tombak untuk mencerahkan umat dengan pemikiran Islam ini justru sebaliknya.”

Sedangkan Wahyudi menilai buku setebal 638 halaman tersebut dapat memandu kita untuk membahas tuntas dan mengungkap lengkap tentang sistem Pemerintahan Islam (Khilafah Islamiyyah) di tengah kegagalan sistem demokrasi.

“Jika Kita hendak memahami Khilafah dan memperjuangkannya dengan lurus, maka harus meninggalkan berbagai paham yang bertentangan dengan Islam dan  satu-satunya sistem pemerintahan yang didesain untuk menerapkan Syariat Islam adalah Khilafah, sementara demokrasi sama sekali tidak didesain untuk menerapkan Syariat Islam. “Jadi jika ada yang ingin menerapkan Syariat Islam dalam demokrasi maka ada dua kemungkinan, dia tidak paham demokrasi atau dia tidak tahu Khilafah.”

Tak hanya itu, salah seorang peserta bedah buku di Pesantren Al Muhajirin Koba, Wakapolres Bangka Tengah, Kompol Agung Budi Purnomo menilai sebagai ummat Islam harus kembali kepada Alquran dan Sunnah. Untuk itu dia mengajak agar proses penyadaran dilakukan di semua lini termasuk aparat dan para penguasa dan birokrasi. “Khilafah memang perlu,” tegasnya. []FH

Baca juga :

  1. Bedah Buku “Panduan Lurus Memahami Khilafah Islamiyah Menurut Kitab Kuning”
  2. Menerapkan Syariah Islam Melalui Khilafah Islamiyah
  3. Ulama Ciamis, Siap Mengaji Kitab Ajhizah Daulah Al-Khilafah
  4. Laporan Langsung dari Tunisia : Al mar’ah turiid khilafah Islamiyah, kaum perempuan menginginkan Khilafah Islamiyyah
  5. Khilafah Menurut Ahlus Sunnah Wal Jamaah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


8 − 2 =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Switch to our mobile site

WordPress Appliance - Powered by TurnKey Linux