Jawaban Tuntas dan Memadai untuk Orang yang Mengatakan Kita Tidak Terikat dengan Thariqah Rasul saw dalam Meraih Pemerintahan dan Membangun Daulah

 بسم الله الرحمن الرحيم

Silsilah Jawaban asy-Syaikh al-‘Alim Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah Amir Hizbut Tahrir Atas Pertanyaan di Akun Facebook Beliau “Fiqhiyun”

Jawaban Pertanyaan:

Jawaban Tuntas dan Memadai Untuk Orang yang Mengatakan Kita Tidak Terikat dengan Thariqah Rasul saw dalam Meraih Pemerintahan dan Membangun Daulah

Kepada Ahmad Abu ‘Aid

 

Soal:

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu… Syaikhunâ .. Apakah mungkin memberi saya jawaban tuntas terhadap orang-orang yang mengatakan bahwa kita tidak terikat dengan thariqah Rasul saw dalam meraih pemerintahan dan membangun daulah…?

 

Jawab:

Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuhu.

Secara ringkas, jawaban tuntasnya begini:

  1. Tanyakan kepada orang yang mengatakan bahwa kita tidak terikat dengan thariqah Rasul saw dalam meraih pemerintahan:

Katakan padanya, jika Anda ingin berwudhu, dalil mana yang Anda cari untuk mengetahui wudhu? Apakah Anda mencari dari dalil-dalil wudhu atau mencari dari dalil-dalil haji, misalnya? Tentu dia akan mengatakan, akan mencari dari dalil-dalil wudhu…

Kemudian tanyakan kepadanya, dan jika Anda ingin mengetahui hukum puasa, apakah Anda akan mencari dari dalil-dalil tentang puasa, atau dari dalil-dalil tentang jihad? Tentu dia akan menjawab, saya akan mencari dari dalil-dalil puasa untuk mengetahui hukum-hukum puasa.

Kemudian, jika Anda ingin mengetahui hukum-hukum shalat, apakah Anda akan mencari dari dalil-dalil shalat atau dari dalil-dalil zakat? Tentu dia akan menjawab, akan mencari dari dalil-dalil shalat.

 

Begitulah, tentang suatu masalah yang ingin diketahui hukumnya, maka akan dicari dalil-dalilnya di dalam syara’.

Sekarang, tanyakan tentang tata cara menegakkan daulah, bukankah dicari dari dalil-dalil syara’ yang dinyatakan dari Rasul saw tentang tatacara menegakkan daulah? Dan bukan dari dalil-dalil jihad atau shalat atau zakat, misalnya…; akan tetapi dicari dari dalil-dalil penegakan daulah. Rasul saw menegakkan daulah satu kali dengan thariqah thalab an-nushrah pada tahapan at-tafâ’ul. Jadi thariqah menegakkan daulah adalah thalab an-nushrah.

Pertanyaannya sekarang, apakah thalab an-nushrah itu fardhu, mandub atau mubah…? Thalab an-nushrah adalah fardhu. Kita terikat degan thariqah ini dalam menegakkan daulah. Dengan pengkajian masalah ini kita temukan sebagai berikut:

Thalab an-nushrah adalah fardhu. Dalilnya bahwa Rasul saw tidak mengubah thariqah ini meskipun ada kesulitan yang beliau hadapi dalam meminta nushrah tersebut. Beliau memintanya dari Tsaqaif dan responnya buruk, bahkan membuat kedua kaki beliau berdarah-darah… Meski begitu, Rasulullah saw tidak mengubahnya ke thariqah lainnya. Beliau Saw tetap melanjutkan thalab an-nushrah kepada kabilah-kabilah lain. Beliau memintanya dari Bani Syaiban, dan dari Bani ‘Amir… dll. Beliau memintanya sebanyak belasan kali, tetapi mereka tidak menjawab. Meski demikian, Rasul saw tidak mengubah ke thariqah lainnya betapapun kesulitan yang ada di dalamnya. Di dalam ushul fikih, pengulangan thalab disertai dengan kesulitan merupakan qarinah bahwa thalab ini adalah fardhu.

Artinya, thalab an-nushrah adalah fardhu… dan bahwa thalab an-nushrah adalah thariqah satu-satunya yang diikuti oleh Rasul saw dalam menegakkan daulah. Beliau terus melakukannya sampai Allah memuliakan beliau dengan kaum Anshar, lalu mereka membaiat beliau dengan baiat ‘Aqabah kedua dan berikutnya beliau hijrah ke Madinah dan menegakkan daulah.

Inilah penjelasan ringkas bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya. Adapun bagi orang-orang yang sombong, maka hujjah mereka runtuh sebab mereka setuju mencari dari dalil-dalil wudhu untuk berwudhu, dan setuju mencari dari dalil-dalil puasa untuk berpuasa, dan setuju mencari dari dalil-dalil shalat untuk menunaikan shalat… dan tidak mencari dari dalil-dalil perbuatan lainnya selain yang ingin dia lakukan. Yang wajib, jika dia berakal, adalah setuju mencari dari dalil-dalil penegakan daulah jika dia ingin menegakkan daulah. Dan tidak ada dalil-dalil yang dijelaskan oleh Rasul saw dengan perbuatan dan ucapan beliau kecuali thalab an-nushrah yang Rasul lakukan di akhir-akhir tahapan at-tafâ’ul… Dan thariqah ini adalah fardhu. Ini secara ringkas jawaban tuntas dan memadai atas wajibnya thariqah yang kita tempuh dalam menegakkan daulah.

Dan sebagai penutup, saya ucapkan salam kepada Anda. Dan saya memohon kepada Allah SWT agar membukakan melalui kedua tangan Anda pintu-pintu kebaikan.

 

Saudaramu

 

Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah

 

2 Jumadul Ula 1438 H

30 Januari 2017 M

http://hizb-ut-tahrir.info/ar/index.php/ameer-hizb/ameer-cmo-site/41909.html#sthash.78DSHjse.dpuf

https://web.facebook.com/AmeerhtAtabinKhalil/photos/a.122855544578192.1073741828.122848424578904/581255302071545/?type=3&theater

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>