Tanggapan atas Tanggapan Nadirsyah Hosen (Bagian 2)

Oleh: Yuana Ryan Tresna*

Akhirnya Nadirsyah Hosen (NH) memberikan respon terhadap tanggapan saya. Respon itu sudah saya pastikan benar dari NH setelah saya cek langsung ke twitter miliknya (meski saya bukan follower-nya).

Ada beberapa hal yang perlu saya tanggapi seperlunya saja:

Pertama, dalam judulnya NH menulis “Respon Balik Nadirsyah Hosen terhadap HTI”, tetapi yang dimention di dalam tulisannya adalah saya, Yuana Ryan Tresna (YRT). Saya menulis tidak mewakili HTI, tetapi sebagai anggota HTI yang sedikit terusik dengan kultwitnya. Terusik karena isinya penuh dengan propaganda. Apalagi setelah kultwit tersebut menjadi viral. Saya merasa terpanggil untuk memberikan beberapa catatan, agar cintanya NH (kalau beliau menulis karena cinta), tidak bertepuk sebelah tangan.

Kedua, rupanya NH tersinggung dengan ungkapan saya, sehingga menulis “YRT menganggap saya tidak ahli-ahli banget dalam bidang hadis, tafsir dan ushul al-fiqh. Juga disebutkan saya kurang piknik ke kitab-kitab hadis. Jawaban saya: gak apa-apa. No problem. Mari fokus pada argumen. Gak usah menyerang pribadi (argumentum ad hominem). Woles aja syekh bro :)”. Sebenarnya hal itu anggap saja sebagai kritik membangun bagi NH agar hati-hati dengan ungkapannya, apalagi sebagai tokoh di salah satu ormas besar. Karena faktanya kan begitu, kritik tapi kok tidak ilmiah. Saya hanya menyimpulkan dari beberapa tulisan NH seputar khilafah, pemimpin, dll., rasa-rasanya kok jauh dari predikatnya sebagai seorang ahli.

Ketiga, NH sepertinya tidak membaca detil tanggapan pertama saya dengan perlahan dan penuh ketulusan, terbukti dengan mengatakan,Inti dari kultwit saya adalah: Pertama, hadits seputar liwa dan royah ini beraneka ragam riwayat soal warnanya apa. Begitu juga fakta sejarah di masa dinasti umayyah dan abbasiyah juga berbeda soal warna ini. Kedua, bendera ISIS dan HTI yang ada tulisannya itu hanya rekaan (imajinasi) mereka saja karena riwayat soal bendera Rasul yang ada tulisannya itu statusnya tdk shahih. Ketiga, bendera Rasul dipakai buat perang, bukan sbg bendera negara. Skr HTI memakainya sbg bendera negara khilafah di dalam NKRI. Ini makar!”

Justru di tweetnya, NH menggugat keshahihan hadits rayah dan liwa hanya dengan menghadirkan beberapa hadits dari jalur yang bermasalah. Itu yang saya jawab dalam tanggapan pertama. InSyaAllah sudah clear. Ada banyak hadits shahih dan hasan yang menyatakan raya dan liwa Nabi itu berwarna hitam dan putih.

Raya dan liwa yang ditinggikan oleh HT berusaha merujuk pada hadits nabawiyah shalallahu ‘alaihi wa sallam, baik terkait warna, simbol, ukuran, maupun namanya. Kita merujuk hadits, atsar shahabat dan ijtihad ulama. Adapun yang terjadi pada masa Umayyah dan Abbasiyyah tidak kita bahas.

Saya juga sudah jelaskan bahwa rayah dan liwa bukan hanya digunakan saat perang, meski awalnya memang sebagai simbol dalam peperangan. Rayah dan liwa adalah simbol persatuan dan kepemimpinan.

Keempat, ada kesimpulan NH yang keliru ketika mengatakan,ternyata tanggapan YRT yg panjang lebar menguatkan point pertama yg saya kemukakan di atas: riwayat soal warna bendera ini beraneka ragam: hitam, putih, merah atau kuning. YRT mengakuinya.”

NH rupanya membaca agak tergesa-gesa. Pada tanggapan pertama, saya sudah jelaskan bahwa, “soal warna, hadits-hadits shahih menyebutkan bahwa warna rayah adalah hitam dan liwa’nya adalah putih. Adapun hadits-hadits yang menyebutkan warna lain seperti kuning dan merah, memang ada, tetapi kualitasnya dha’if dan ada yang sifatnya sementara.” Jadi sebenarnya sudah jelas. Apakah perlu saya tampilkan kembali haditsnya? Rasanya tidak perlu. Intinya: (1) Hadits riwayat Imam Abu Dawud, Baihaqi dan Ibnu Adi yang menyebutkan bahwa rayah Nabi berwarna kuning, hadits ini menurut shahib al-Badr al-Munir dha’if karena ada rawi dalam isnadnya yang majhul; (2) Hadits riwayat Imam Thabarani dan Abu Nu’aim al-Ashbahani yang menyebutkan bahwa rayah Nabi berwarna kuning, hadits ini dha’if karena ada rawi bernama Hudu bin Abdullah bin Sa’d yang dinyatakan tidak tsiqah oleh Ibnu Hibban dan nyaris tidak dikenal (لا يكاد يعرف) menurut al-Dzahabi; (3) Hadits dalam riwayat Thabarani yang menyebutkan bahwa warna rayah Nabi merah, Hadits ini dha’if karena ada rawi yang tidak dikenal menurut al-Haitsami dan Ibnu Hajar; (4) Adapun hadits riwayat Imam Ibnu Hibban yang juga menyebutkan rayah berwarna merah dan statusnya shahih, sebenarnya kasusnya sementara di awal-awal urusan ini ketika di masa jahiliyah, musuh awalnya menggunakan panji warna hitam saat perang.

Kelima, lagi-lagi NH keliru menyimpulkan, ketika NH mengatakan, “tanggapan YRT membenarkan bhw bendera Rasul hanya dipakai saat perang. Lagi-lagi membenarkan point saya di atas. Dan sama sekali tdk menunjukkan argumen bhw liwa dan royah ini dipakai sbg bendera negara oleh Rasul, khulafa al-rasyidin dan setelahnya. Membuktikannya gampang saja. Lihat di ahkamus sulthaniyah imam mawardi: apa ada bab khusus pembahasan ttg bendera negara? Gak ada, syekh bro!”.

Justru di tanggapan pertama saya katakan bahwa meski rayah dan liwa awalnya banyak digunakan sebagai panji-panji perang, tetapi rayah dan liwa juga merupakan simbol persatuan, kepemimpinan, keagungan dan dan tauhid (aqidah Islam). Abdul Hayyi Al-Kattani menjelaskan rahasia (sirr) tertentu yang ada di balik suatu bendera, yaitu jika suatu kaum berhimpun di bawah satu bendera, artinya bendera itu menjadi tanda persamaan pendapat kaum tersebut dan juga tanda persatuan hati mereka.

Keenam, NH mengajukan titik perbedaan dengan saya terkait hadits Abu Syaikh. Beliau mengatakan, “Perbedaannya saya dan YRT, beliau menganggap riwayat abu syekh dari ibn Abbas soal tulisan di bendera Rasul itu sahih. Pendapat beliau ini berbeda dg Ibn Hajar dalam Fathul Bari yg mengatakan sanadnya lemah sekali.”

Benar sekali bahwa hadits ini diperselisihkan. Hanya saja tidak boleh didha’ifkan secara mutlak. Para ulama hadits generasi terdahulu meski berbeda pendapat tetap bersikap toleran ketika ada yang mengajukan pendapat lain. Perbedaan dalam jarh dan ta’dil misalnya, hal yang lumrah terjadi. Masalahnya bukan di argumentasi para ulama dahulu yang berbeda, tetapi pada kesimpulan-kesimpulan NH yang tidak toleran, dan tidak mempersilahkan ada pendapat ulama lain yang berbeda.

Baiklah dari panjang lebar kutipan dari al-Hafizh Ibnu Hajar, poinnya adalah pada ungkapan berikut ini,

ولأبي الشيخ من حديث ابن عباس ” كان مكتوبا على رايته : لا إله إلا الله محمد رسول الله ” وسنده واه

Perlu kita sama-sama sepakati bahwa “واه” atau lemah atau banyak menduga adalah bentuk jarh dengan tingkatan yang ringan, bukan berat sekali.

Sekali lagi ini terkait tulisan dalam rayah. Hadits tentang rayah dan liwa (banyak sekali haditsnya, baik shahih maupun yang hasan) sudah kita anggap selesai. Ini masalah tulisan لا إله إلا الله محمد رسول الله, yang dalam hal ini ada beberapa riwayat:

(1) hadits riwayat Imam Thabarani dari Ibnu Abbas ra. statusnya dha’if karena ada rawi yang bernama أحمد بن محمد بن الحجاج بن رشدين  tertuduh dusta (متهم بالوضع);

(2) hadits riwayat Abu Syaikh al-Ashbahaniy dari Abu Hurairah ra. statusnya dha’if karena ada rawi yang bernama Muhammad bin Abi Humaid statusnya munkar oleh Imam Bukhari, tidak tsiqah menurut Imam Nasa’i, dan tidak ditulis haditsnya menurut Ibnu Ma’in:

(3) hadits riwayat Abu Syaikh al-Ashbahaniy dari Ibnu Abbas ra. diperselisihkan, dan saya -atas dasar pengetahuan yang sedikit ini- memilih pendapat yang mengatakan shahih. Pilihan itu bukan tanpa alasan, mari kita urai rawinya satu per satu:

-أحمد بن زنجوية بن مسى : قال الخطيب كان ثقة وقال الذهبي كان موثقا معروفا.

-محمد بن أبي السري العسقلاني : قال ابن معين ثقة وقال الذهبي ثقة.

-عباس بن طالب البصري : قال ابن عدي صدوق وذكره ابن حبان في “الثقات” وقال ابن حجر بصري صدوق.

-حيان بن عبيد الله بن حيان : قال أبو حاتم صدوق وذكره ابن حبان في “الثقات” وقال أبو بكر البزار  ليس به باس.

-أبو مجلز لاحق بن حميد:  تابعي ثقة.

Dari semua rawi tersebut yang diperdebatkan adalah Hayyan bin Ubaidillah. Ibnu Adi mencantumkan dalam “al-Dhu’afa”. Sebagian mengatakan hadits ini dha’if karena tafarrud, tetapi Ibnu Hibban menempatkan dalam “al-Tsiqqat’, Abu Hatim mengatakan shaduq, Abu Bakar al-Bazar mengatakan masyhur dan “laisa bihi ba’sa”. Tafarrudnya Hayyan bin Ubaidillah tidak memadharatkan hadits karena keadaannya tsiqah atau shaduq. Demikian juga ikhtilath nama antara Hayyan bin Ubaidillah (حيان) dan Haban bin Yassar (حبان) sudah dijelaskan oleh para ulama, semisal dalam Tarikh al-Kabir, Tahdzib al-kamal, al-Kamil fi al-Dhu’afa, Mizan al-I’tidal, dll. Penjelasannya akan panjang dan memakan ruang terbatas ini (karena saya jawab via whatsapp) .

Ketujuh, NH mengajukan pertanyaan seputar bentuk dan khat yang padahal sudah dijawab bahwa itu perkara teknis, “YRT menganggap cuma teknis soal perbedaan tulisan dan khat di bendera ISIS dan HTI. Justru ini poin saya: mana yg lebih sahih dan islami antara bendera ISIS dan HTI?”

Sependek pengetahuan saya, saya belum menemukan khabar tentang kepastian khat dan bentuk. Silahkan saja. Ini bukan soal imajinasi atau rekaan, tetapi soal pilihan yang dibolehkan. Seperti halnya ketika ada dalil umum yang tidak dijelaskan wasilahnya, maka berarti wasilah tersebut mubah-mubah saja. Jadi ini bukan isu utama. Saya kira persoalannya sederhana, tidak malah menjadi rumit pada perkara yang memang mubah. Yang paling penting itu bahwa rayah (hitam) dan liwa (putih) dengan tulisan  لا إله إلا الله محمد رسول الله adalah perkara yang masyru’. Saya sendiri berharap Prof NH juga sudi mengibarkannya di Australia sana. Kita sama di bawah panji tauhid.

Dari berbagai khabar dan atsar kita bisa simpulkan bahwa ukuran liwa lebih besar dari rayah, karena rayah biasa berpindah-pindah tangan diantara komandan perang. Sebenarnya para ulama sudah ada yang berijtihad soal ini, bentuk, ukuran, dst. Tapi itu ijtihad ulama, kalau dicantumkan di sini khawatir tidak diterima, karena beliau (NH) meminta dalilnya.

Kedelapan, NH terlihat sangat bersemangat dengan propaganda tuduhan makarnya, meski beliau hanya membuat simpulan atas imajinasinya sendiri, “Secara mengejutkan YRT menguatkan klaim saya bahwa HTI berbuat makar dg mengibarkan bendera HTI (jgn sebut bendera rasulullah karena ini imajinasi mrk saja). Bendera HTI dikibarkan di NKRI. Itu sama dg mengibarkan bendera OPM (organisasi papua merdeka) yg merupakan tandingan bendera Merah Putih. Kedok makar YRT terbuka luas ketika beliau justru mempertanyakan tdk ada hadits Nabi soal bendera merah putih milik NKRI. Berarti YRT tidak mengakui bendera merah putih milik Indonesia. Ini makar!”

Dengan mengatakan “bendera HTI”, NH masih tidak mengakui rayah dan liwa, padahal haditsnya sudah sangat jelas.

Bukti bahwa NH sedang menilai imajinasinya sendiri adalah bahwa tidak sedikitpun dalam tanggapan pertama saya yang menggugat bendera negara atau yang sejenisnya. Saya hanya melakukan sindiran (dalam balaghah disebut ta’ridh) dengan mengajukan ungkapan, “NH rupanya hanya kritik dalil (hadits) panji dan bendera Rasululah, tetapi tidak menggugat dalil bendera negara bangsa yang tidak punya dalil sedikitpun, walau hanya atsar yang dha’if”. Sindiran halus tersebut tadinya mengajak agar mukhatabnya mau instrospeksi; yang jelas ada dalilnya digugat, tapi yang tidak berdalil tidak NH gugat juga. Alih-alih instrospeksi, malah justru makin membabi buta.

Sebenarnya yang kami inginkan adalah penerapan syariah Islam. Hari ini, rayah dan liwa adalah simbol perjuangan, semangat, persatuan, dan tauhid. Masa iya orang yang meninggikan panji Rasul-Nya yang bertuliskan simbol tauhid disebut makar? Atau jangan-jangan NH sedang berbicara pada dirinya sendiri.

Mudah-mudahan berkenan membaca dan merenunginya dengan tulus, bukan karena rasa benci. Wallahu a’lam.

===

Penulis adalah Anggota Hizbut Tahrir, tinggal di Bandung; Pengajar Ushul al-Hadits di Ma’had Syaraful Haramain Bogor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>