Ulama Banten Harus Dukung Khilafah

liqo ulama banten april 2017HTI Pres, Serang. KH Mansyur Muhyidin, ulama Banten asal Bojonegara, Kabupaten Serang, yang juga Penasihat Bandrong Banten mengajak seluruh kyai, ustadz, santri di Banten untuk mendukung perjuangan penegakan khilafah Islam ala minhajinnubuwwah. Tidak perlu ragu atau takut untuk mendakwahkan pentingnya penerapan syariat Islam dalam bingkai khilafah. Justru harus semangat dan penuh tanggung jawab. “Khilafah itu harus terus disosialisasikan. Agar semua masyarakat memahami dan tahu pentingnya khilafah. Pentingnya syariat islam,” tuturnya saat Tablig Akbar Rajab di Pondok Pesantren Massaratun Muhtajin, Kesultanan Banten Lama, Kasemen, Kota Serang, Ahad (15/4).

Tablig Akbar Rajab yang diselenggarakan Hizbut Tahrir Indonesia DPD I Provinsi Banten ini adalah edisi khusus Liqo Ulama Banten (LUB) yang biasa dilaksanakan rutin setiap bulan di kediaman KH Tb Fathul Adzim. Hadir sebagai mubalig antara lain KH Muhammad Ma’mun (Pimpinan Ponpes Darul Falah – Pandeglang), KH Yasin Muthahhar (Pimpinan Ponpes Al Abqory – Kota Serang/DPP HTI) dan KH Syamsudin Ramadhan (Lajnah Khusus Ulama DPP HTI). Sekitar 500-an peserta yang terdiri dari pimpinan ponpes, ustadz, serta para santri memenuhi majelis. Acara yang dimulai pukul 13.00 hingga 16.00 ini pun turut disimak aparat TNI dan polisi.

Sementara itu, KH Muhammad Ma’mun mengulas tentang dalil-dalil dalam al Quran dan al Hadits tentang kekhilafahan serta kewajiban umat Islam dipimpin seorang khalifah. Kyai yang juga tergabung dalam Korps Mubalig Jakarta ini pun menyampaikan akibat yang sangat membahayakan ketika Islam tidak diterapkan. “Tersebarluasnya miras salah satunya akibat Islam tidak mengatur negara ini. Anak-anak kita dalam keadaan terancam terpengaruh miras. Tidak ada yang bisa menghentikan. Pemerintah sekuler ini malah melegalkan,” tegasnya.

KH Ma’mun pun menyayangkan keadaan negara ini yang mayoritas muslim, bahkan dipimpin oleh presiden dan wakil presiden yang muslim, namun keadaannya seperti minoritas yang diperlakukan tidak adil. “Kita juga sangat prihatin, sebagian dari muslim masih menganggap khilafah sebagai lamunan,” ujarnya.

Mubalig lainnya, KH Yasin Muthahhar mengulas tentang kewajiban syar’i penegakan khilafah. Di awal ceramahnya, KH Yasin menegaskan tentang perjuangan Hizbut Tahrir yang berupaya menghidupkan sunah. “Khilafah itu dalam rangka menghidupkan syariat Islam. Menghidupkan sunah. Menyatukan umat Islam. Inti khilafah itu mempersatukan. Dan ini bagian dari perintah Rasulullah. Jadi harus didukung. Jangan dicurigai,” tuturnya. “Patut dicurigai atau didukung?” tanyanya. Seraya peserta menjawab serentak, “Didukung!”

Karena hari ini di dunia, umat Islam di berbagai negara mengalami kedzaliman. Lihat di Afrika, di Somalia kaum muslimin kelaparan. Di Myanmar terjadi pembantaian etnis. Di Yaman. Di Palestina. Di Suriah, baru-baru ini di bom Rusia. Di Banglades, mereka juga membunuhi muslim. Di mana-mana. “Ini terjadi karena tidak ada Khilafah yang mampu menjaga izzah Islam dan kaum muslimin,” tegasnya.

Kepada aparat yang hadir, kyai muda ini pun mengingatkan, agar tidak curiga kepada Hizbut Tahrir untuk menghancurkan NKRI. Hizbut tahrir memperjuangkan tegaknya khilafah dalam rangka menerapkan syariah. “Bapak Intel catet. Khilafah ini bukan untuk menghancurkan Indonesia. Khilafah itu untuk menyatukan umat islam. Untuk menyatukan kaum muslimin. Indonesia akan tetap menjadi Indonesia. Indonesia tidak akan bubar. Hizbut Tahrir tidak merusak. Islam tidak akan pernah merusak. Justru yang merusak itu palu arit.”

Perkara khilafah, lanjutnya, semua imam empat mahzab bersepakat bahwa wajib ditegakkan. Tidak ada ulama yang berselisih. Semua menyatakan wajib, baik Imam Syafi’i, Imam Hanafi, Imam Hambali, maupun Imam Maliki. “Ulama sudah sepakat,” tambah KH Yasin.

Sesi terakhir, KH Syamsudin Ramadhan menegaskan tentang kesepakatan ulama dari berbagai mazhab yang menegaskan wajibnya khilafah. Diingatkannya, bahwa ketika ulama tersebut sudah bersepakat tentang satu hal, maka tidak boleh ada yang mengingkarinya. “Jika pendapat ulama yang telah disepakati bersama itu diselisihi, maka ia sudah mungkar. Jika khilafah ditolak, maka dia mungkar,” tegasnya.

Berbeda jika pendapat ulama terhadap satu hal masih berselisih. Maka, hal ini disebut khilafiyah. Maka, tidak boleh ketika berbeda pendapat atas hal ini disebut kemungkaran. Namun, ketika perkara yang sudah disepakati ulama secara umum tetapi ditolak, maka wajib dijelaskan kepadanya untuk mengubah pendapatnya itu dan meninggalkan kemungkaran.

Dituturkannya juga sosok pendiri Hizbut Tahrir, yaitu Syeikh Taqiyudin An Nabhaniy dan Syeikh Abdul Qoddim Zallum. Keduanya adalah ulama besar yang diakui dari sisi nashab dan hashabnya. Bahkan, Syeikh Taqiyuddin adalah cucu dari Syeikh Yusuf An Nabhany yang dikenal secara luas oleh kalangan ahlussunah wal jamaah  dan mendapat julukan Asy-Syafii Ats-Tsaniy. “Jadi, Hizbut Tahrir itu bukan didirikan aktivis, tetapi didirikan ulama. Ulama ahlussunah wal jamaah yang mengikuti kecenderungan fiqhnya mazhab asy Syafiiyah,” jelasnya.

Acara yang disambut antusias peserta se-Provinsi Banten ini ditutup doa oleh ulama asal Kota Tangerang KH Dr Suhaemi atau biasa disebut Kyai Eces. (*)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>