Alhamdulillah Acara Masirah Panji Rasullullah Tanjungpinang Berhasil Dilaksanakan, Meski Ada Upaya Penghadangan

Peserta 1HTI Press, Tanjungpinang. HTI DPD Tanjungpinang pada Ahad (16/4) kembali adakan acara di bulan Rajab 1438 H. Acara ini berhasil dilaksanakan dengan tertib dan lancar, meski sebelumnya ada upaya penghadangan dan pelarangan agar acara yang diadakan HTI Kota Tanjungpinang dibatalkan.

Acara bulan Rajab 1438H  yang merupakan bagian dari rangkaian Masirah Panji Rasulullah SAW ini dikemas dalam Pawai dan Tabligh Akbar  dengan Tema “Bersama Umat Dalam Naungan Panji Rasulullah SAW” yang dihadiri baik dari simpatisan dan juga ratusan umat Islam dari berbagai kalangan Mulai dari para Mubaligh,  perwakilan ormas Islam,  ibu rumah tangga, ibu-ibu MT, dosen, guru, hingga insan media dari tabloid Kepri berkumpul menjadi satu mengibarkan bendera kebanggaan kaum muslim yaitu Panji Rasulullah SAW.

Peserta didominasi oleh kalangan para Mubaligh dan ibu-ibu MT dimana semangat mereka tak kalah seperti anak muda, berduyun-duyun untuk menghadiri agenda akbar yang sering diselenggarakan setiap bulan Rajab oleh Hizbut Tahrir Indonesia DPD II Tanjungpinang, para peserta disambut dengan hangat oleh panitia, suasana begitu kental dengan ukhuwah, semangat sangat membara dirasakan oleh peserta. Baik tua dan muda semua berkumpul meneriakkan takbir dan Khilafah. Merindukan kepemimpinan Islam yang menaungi semua kalangan di bawah panji agung yang berisi kalimat tauhid bendera laa ila ha illallah.

Tabligh Akbar  ini menghadirkan pemateri Mulyo Basuki, Burhanudin, Frianto dan diakhiri oleh Arim Nasim dari  DPP HTI. Adapun sebagai hostnya Ramadhan. Tabligh Akbar  ini berlangsung aman dan tertib meskipun dikawal ketat pihak kepolisian akibat ancaman dari ormas tertentu dan didukung oleh Laskar Pembela Islam (LPI) turut mengawal acara masirah panji Rasulullah saw tersebut. Penceramah dalam  Tabligh Akbar  ini mengenalkan Panji Rasulullah SAW. Selama ini kaum muslim masih banyak yang belum mengetahui bahwa Rasulullah SAW mempunyai sesuatu yang dikibarkan yang bernama Al Liwa dan Ar Rayaa itu adalah bendera dan panji milik kaum muslim. Al Liwa berwarna putih dengan tulisan arab “laa ilaaha illallah muhammadur rasulullah” dengan warna hitam,dan Ar Rayaa berwarna Hitam dengan tulisan putih. yang sebenarnya kalimat itu adalah kalimat Tahlil yang dibaca saat umat muslim melakukan zikir.

Selain acara di Masjid, digelar pula acara Indonesia Khilafah Forum (IKF) di Aula Asrama Haji Kota Tamjungpinang dengan tema “Khilafah Kewajiban Syar’i, Jalan Menuju Kebangkitan”. Acara ini adalah forum dialog para ulama,  tokoh dan intelektual untuk membahas berbagai persoalan umat terkini.

Ada sejumlah tokoh muslimah yang memberikan tanggapan positif mengenai agenda ini meskipun sempat dilakukan penghadangan, seorang tokoh DPRD PROVINSI KEPRI bernama ibu Elyza Riany menyatakan bahwa sungguh dirinya sangat menyesal baru mengetahui panji Rasul sedewasa ini padahal bendera ini adalah bendera milik kaum muslim, bukan bendera kelompok tertentu yang menyebarkan teror dan kebencian.

Rasanya ingin menangis jika nanti di Yaumil Akhir sama sekali tidak dapat naungan dari Allah SWT jika kalimat haq di bendera ini di fitnah sebagai bendera teroris. Lain halnya Ibu Elyza, pernyataan datang dari pimpinan tabloid Puan Kepulauan Riau yaitu ibu Anis Anorita beliau menuturkan bahwa saat ini Syari’ah Islam adalah topik yang hangat dibicarakan oleh berbagai media dan menjadi sebuah ancaman untuk diterapkannya. Padahal Indonesia menyatakan merdeka 70 tahun lamanya, mengapa hingga kini mati lampu tetap ada? Jadi, sebenarnya apa yang menjadi masalah dengan Syari’ah Islam jika sistem yang ada saat ini benar-benar gagal menyejahterakan umat. Mestinya kita mengambil peran untuk turut serta dalam memperjuangkannya.

Masya Allah, dari hari ke hari kita semua menyadari bahwa adanya dakwah yang disertai niat tulus dan ikhlas membuat umat sadar, betapa rindunya umat kepada sistem yang menghantarkan kesejahteraan, menghapuskan kemiskinan, melepas jerat belenggu kebodohan dan mengangkat derajat wanita dengan kehormatan. Naungan yang pernah terbentang luas yang dimulai dari setapak kota suci Madinah hingga 2/3 luasnya dunia adalah rahmat tercurahkan selama beratus tahun lamanya menjunjung tauhid di atas segala-galanya di bawah bendera yang memerangi musuh-musuh Allah, menyatukan ras, warna dan bahasa untuk menjalin ukhuwah tanpa batas. Kami semua rindu Khilafah. Allahu akbarr!!  []MI Tanjungpinang/Rahmad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>