HTI Sumbar: Panji Rasulullah, Panji Kemuliaan dan Kebangkitan Umat

Peserta Masirah Panji Rasulullah  memenuhi Halaman Masjid Agung Nurul Iman Padang

Peserta Masirah Panji Rasulullah memenuhi Halaman Masjid Agung Nurul Iman Padang

HTI Press, Padang. Ribuan warga Padang dan dari berbagai kota di Sumatera Barat membanjiri Masjid Agung Nurul Iman Padang, Minggu (16/4) pagi. Sementara itu Ratusan Masa Konvoi beriring dari 4 titik berbeda menuju lokasi masjid tersebut sambil mengibarkan Panji Rasulullah. Kehadiran mereka beramai-ramai dalam rangka memuliakan Panji Rasulullah saw.

Dalam agenda ini DPD I Hizbut Tahrir Indonesia Sumatera Barat berupaya semakin mendekatkan simbol-simbol Islam kepada umatnya sebab  Salah satu persoalan besar yang dihadapi oleh umat Islam dewasa ini adalah adanya lack of islamic knowlegde (rendahnya pemahaman atau pengetahuan umat akan Islam). Hal ini membuat terdapat jarak sangat lebar antara Islam di satu sisi dengan umat di sisi lain. Akibatnya, tidak sedikit umat Islam yang tidak mengenal, tidak paham bahkan merasa asing terhadap ajaran agamanya sendiri seperti salah satu simbol Islam yakni al Liwa dan ar Raya.

Alhamdulillah Masirah Panji Rasulullah berjalan dengan baik hingga kebaikanya sampai ke pintu-pintu rumah kaum muslimin. Terbukti 1.288 lembar Panji Rasulullah Liwa dan Raya habis dibawa sebagian peserta sebagai koleksi pribadi

Ketua panitia pelaksana Masirah Panji Rasulullah Yudi Muhsin mengaku bersyukur atas tingginya antusiasme dari kaum muslimin Kota Padang dan Beberapa Kota lainnya di Sumatera Barat dan berharap kita terus menjaga ghirah (semangat) Islam kita karena dengan menjaga ghirah inilah salah satunya akan membuat terpelihara istiqomah dalam berakidah, Ukhuwah dan dakwah.

Indonesia Khilafah Forum

Malam harinya di hari yang sama diadakan Indonesia Khilafah Forum, merupakan Forum khusus para ulama, tokoh dan mubaligh se-Sumatera Barat di Ball Room Hotel Dtk. Nagari Basa.

Pimpinan DPD I HTI Sumatera Barat Ardion Husni menyatakan sebagai muslim kita wajib mengenali ar-Râyah ini dengan baik, tanpa takut celaan orang-orang yang suka mencela, dan tidak terpengaruh dengan propaganda buruk yang mengatakan bahwa itu adalah simbol dari kelompok Teroris.

“Ar-raya adalah Panji Rasulullah, berwarna hitam, bertuliskan Lâ Ilâha illâ Allâh Muhammad Rasûlullâh dengan warna putih, berdasar hadits dari Ibnu ‘Abbas, “Raayahnya (panji) Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berwarna hitam, sedangkan panjinya (liwa’nya) berwarna putih.” Sementara Ibnu Jam’ah (dalam Mukhtashar as-Siirah) berkata, “Rasulullah Shallallohu ‘Alaihi Wasallam memiliki panji berwarna hitam, berbentuk persegi empat, terbuat dari kain wool. Panji itu diberi nama Al-‘Uqaab”ungkap Alumni UIN Imam Bonjol Ini.

“Kita harus sadar bahwa saat ini sesungguhnya kebencian terhadap Islam bukan hanya pada ajarannya tapi juga sudah sampai pada simbol-simbolnya. Menjadi kewajiban kita untuk memperkenalkan Panji Rasulullah ini dengan segala substansinya, serta dengan gagah menghadapi setiap makar yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam yang tak henti berusaha melenyapkan simbol-simbol itu dengan segenap spirit perjuangannya dari hadapan umat.” Tegas beliau.

Sementara itu Anggota DPD I HTI Sumatera Barat Khalid menyampaikan bahwa Liwa Rayah di Era Nabi Muhammad saw telah digunakan dalam beberapa tempat dan peristiwa baik di masa Rasulullah, Shabat hingga kekhilafahan terakhir Utsmaniyah.

“Panji Rasulullah ini juga menginspirasi simbol kesultanan di Nusantara diantaranya Model Rayah di Kesultanan Yogyakarta, Pola Liwa Rayah di Panji Kesultanan Cirebon, Syahadat pada panji Kesultanan Bugis, Syahadat di panji Aceh yang tersimpan di Museum Negeri Aceh, PolaWarna Liwa Rayah di Panji Aceh di Museum Negeri Banda Aceh” tutup Khalid.

Kemudian Djamal Husni yang juga Pimpinan DPD I HTI Sumatera Barat  menyampaikan bahwa Indonesia telah diperbudak Neoliberalise dan Neoimperialisme, Dampak dari neoliberalisme dan neoimperialisme tersebut telah menyebabkan terjadinya berbagai macam malapetaka kehidupan, seperti: tingginya angka kemiskinan, lebarnya kesenjangan ekonomi, kerusakan moral, korupsi yang makin menjadi-jadi dan kriminalitas yang kian merajalela. Banyak pejabat dan anggota legislatif  di Indonesia yang menjadi tersangka korupsi.

Terjadinya eksploitasi SDA di Indonesia dan dunia Islam juga menunjukkan bagaimana kekayaan alam yang melimpah, yang semestinya untuk kesejahteraan rakyat, telah dihisap oleh korporasi domestik maupun asing. Kenyataan buruk itu makin diperparah oleh kebijakan-kebijakan ekonomi yang tidak pro rakyat, seperti kenaikan harga BBM, elpiji, tarif listrik dan lain-lain. Untuk menghadapi berbagai permasalahan yang sangat kompleks tersebut, Indonesia dan dunia Islam hanya memiliki satu solusi, yaitu harus segera kembali kepada Islam, Syariah dan Khilafah.

Perwakilan DPP Hizbut Tahrir Indonesia Kusman Sadik menuturkan  bahwa menegakkan khilafah merupakan kewajiban syar’i. Artinya, wajibnya menegakkan khilafah didasarkan dalil-dalil syara’. Kewajiban mengangkat seorang khalifah yang menerapkan Islam secara kaffah merupakan perkara mujma’ ‘alayhi, perkara yang disepakati oleh para ulama mu’tabar.

“Lihatlah apa yang dilakukan oleh para sahabat. Tak lama setelah Rasulullah saw wafat, para sahabat segera berkumpul di Saqifah Bani Saidah. Mereka menyibukkan diri dalam urusan pengangkatan khalifah, pemimpin yang menjadi pengganti Nabi saw sebagai kepala negara. Bahkan, mereka lebih mendahulukan urusan tersebut daripada mengurus dan memakamkan jenazah Rasulullah saw. Padahal, siapa pun tahu,  mengurus dan memakamkan jenazah termasuk perkara yang harus disegerakan” jelas beliau.

“Maka sungguh aneh jika ada sebagian orang yang mengaku Mukmin menolak khilafah. Apalagi menganggap khilafah sebagai ancaman menakutkan. Padahal, yang jelas nyata menjadi biang aneka bencana di negeri ini adalah Sekularisme,  Kapitalisme, Sosialisme, Komunisme dan semua sistem turunannya.”

Jelaslah bahwa aneka problema di negeri ini terjadi bukan karena Islam. Bukan karena syariah dan khilafah! Namun karena Sekularisme dan semua sistem turunannya.

Bagaimana mungkin Khilafah disebut sebagai ancaman, padahal Khilafah adalah institusi yang menerapkan Islam secara kaffah. Jika menuduh khilafah sebagai ancaman, bukankah sama halnya menuduh Islam sebagaimana ancaman. Setujukah saudara-saudara Islam disebut sebagai ancaman?

Maka, tak ada perlu ditakutkan dengan Khilafah. Sebaliknya, Khilafah adalah solusi hakiki bagi negeri ini dan seluruh negeri lainnya. Sebaliknya, dengan tegaknya Khilafah, berkah dari langit dan bumi akan diturunkan. Allah Swt: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi(QS al-A’raf [7]: 96). *[] MI Sumbar

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>