Hardiknas dan Wacana Pendidik Berkualitas

hardiknas

Oleh: Nindira Aryudhani, S.Pi, M.Si (Aktivis Muslimah HTI)

Muqodimah: Guru, Sang Pendidik

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) adalah hari besar bagi kalangan pendidik dan kaum terdidik. Merujuk pada sejarahnya, benak masyarakat takkan lepas dari sosok Ki Hadjar Dewantara. Tanggal 2 Mei sendiri sudah diketahui sebagai tanggal lahir beliau, yang kemudian diperingati sebagai Hardiknas. Ini tentu tak lepas dari jasa besar beliau [1].

Ki Hadjar Dewantara memang pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Beliau dikenal memiliki tiga semboyan dalam sistem pendidikan yang hingga kini begitu familiar dalam dunia pendidikan rakyat Indonesia. Semboyan itu berbunyi ing ngarso sung tuladha (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik), ing madyo mangun karso Karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan) [1].

Perayaan Hardiknas, meskipun bukan hari libur nasional, dilaksanakan secara luas di Indonesia. Mulai dari perayaan di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi. Dari tingkat kecamatan hingga pusat, disertai dengan penyampaian pidato bertema pendidikan oleh pejabat terkait [2].

Demikianlah, para guru adalah generasi pendidik. Sistem pendidikan sebenarnya tak melulu bicara output, dimana siswa/mahasiswa berperan sebagai peserta didik. Tapi juga memperhatikan kualitas sang pendidik, yang tak lain adalah para guru. Baik pendidik maupun anak didik, mereka sama-sama kaum terpelajar, yang oleh Allah SWT dikaruniai kedudukan sangat utama. Firman Allah SWT:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“… niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (TQS Al-Mujaadilah [58]: 11).

Bahkan aktivitas menuntut ilmu, disanjung oleh Rasulullah saw sebagai investasi akhirat, sebagaimana dalam sabdanya:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholih.” (HR. Muslim no. 1631).

 

Menjadi Guru adalah Panggilan Jiwa

Guru, mengemban amanah agung jika dilakukan semata untuk mendapat ridho Allah SWT. Guru adalah cahaya. Dan bukankah Nabi kita Muhammad SAW adalah seorang guru? [3]. Allah SWT berfirman:

﴿كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولاً مِّنكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْوَيُعَلِّمُكُمُالْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَوَيُعَلِّمُكُممَّا لَمْ تَكُونُواْ تَعْلَمُونَ﴾

Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Al-Hikmah (As-Sunah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (TQS Al-Baqarah [1]: 151).

Jadi, guru adalah pewaris dakwah para Nabi, pembina dan pencetak generasi masa depan yang mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan kita, kehidupan anak-anak kita, sikap dan perilaku anak-anak kita, bahkan kecenderungan dan aspirasi mereka. Imam Al-Ghazali memuliakan profesi guru. Beliau mengatakan, “Siapa saja yang berilmu dan mengajarkannya, maka ia disebut ‘orang besar’ di segenap penjuru langit” [3].

Ironisnya, peran guru saat ini dibelokkan oleh musuh-musuh Islam dengan beragam cara. Guru seringkali tak sejalan dengan misi suci pendidikan. Tak jarang, guru malah menjadi pihak yang mengosongkan benak pemuda muslim dari konsep-konsep aqidah Islam, agar laksana air tawar yang bisa diwarnai apa saja sesuai pengajaran musuh. Akibatnya, pemuda muslim membenci sejarah umatnya dan berburuk sangka bahwa Islam-lah yang menjadi penyebab kemunduran, kelemahan dan kehinaan umat [3].

Padahal di luar sana, realita sekularisasi kehidupan telah menjadikan anak didik tak selalu semanis dan sebaik prestasi mereka saat belajar di sekolah/kampus. Ini adalah bukti bahwa guru tak boleh sekedar menjadi profesi mencari nominal gaji. Lebih dari itu, guru adalah pendidik, sekaligus pembina. Karenanya, menjadi guru harus ada faktor “panggilan jiwa”. Semata demi menunaikan amanah agung tadi. Yakni menuju penyelamatan generasi penerus output sistem pendidikan.

Ini juga demi mewujudkan dunia pendidikan agar tak lekat dengan citra negatif dan pengaruh buruk di berbagai institusi masyarakat. Untuk itu, para guru harus memiliki curahan upaya dan inovasi, motivasi dan keikhlasan untuk melaksanakan kurikulum secara visioner. Semua dalam rangka membekali peserta didik tentang berbagai aspek terkait cara pandang terhadap kehidupan. Dan hal ini dapat terselenggara secara efektif melalui pendidikan yang kolektif dan sistemik.

 

Agar Guru Sesuai Tuntunan Islam

Menjadi seorang guru sesuai tuntunan Islam, hendaknya berawal dari sifat-sifat yang disabdakan Rasulullah SAW berikut [3]:

إنَّ اللهَ ومَلائِكَتَهُ وَأَهْلَالسَّمَواتِ والأرْضِ حَتَّى النَّمْلَةَ في حِجْرِهَا وَحَتَّى الحُوتَ لَيُصَلُّونَ على مُعَلِمِي النَّاسِ الخَيْرَ»

Sesungguhnya Allah, malaikat serta penghuni langit dan bumi sampai-sampai semut yang berada di sarangnya dan juga ikan senantiasa memintakan rahmat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR Tirmidzi).

Juga dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud r.a:

«لا حَسَدَ إلاَّ في اثنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاه اللهُ مَالاً فسَلَّطَهُ عَلى هَلَكتِهِ في الحَقَّ ورَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الحِكْمَةَ فَهُوَ يَقضِي بِها ويُعَلِمُّها»

Tidak ada hasad (iri) yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harta, ia menghabiskannya dalam kebaikan dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain.” (Shahih Muslim No.1352).

Jadi, sifat yang paling utama adalah taqwa dan ikhlas karena Allah. Seorang guru dengan ilmu dan penguasaan pendidikannya wajib hanya mencari ridho Allah, juga harus meniatkan pengajaran pada muridnya untuk kebaikan umat dan Islam. Imam al-Nawawi mengatakan: “Wajib bagi guru untuk mencari ridho Allah, dan tidak ditujukan untuk capaian duniawi. Mesti hadir dalam benaknya bahwa mendidik adalah ibadah, agar menjadi dorongan untuk memperbaiki niat, dan motivasi untuk menjaga dirinya dari kekhawatiran dan segala hal yang tidak disukainya, dan khawatir hilangnya keutamaan dan kebaikan yang besar.” [3].

Sementara itu, satu peran yang paling penting dari seorang guru adalah membentuk kepribadian muridnya. Para murid menunggu sosok ideal dari gurunya. Karenanya, wajib bagi guru untuk menjadi teladan yang baik bagi muridnya. Teladan yang baik adalah salah satu cara yang paling jitu dalam pembentukan kepribadian murid, menjadi panutan dalam kepribadian, penampilan, karakter, daya pengaruh serta moral [3].

Termasuk sifat penting bagi guru adalah sabar, bijaksana, dan panjang pemikiran. Hendaklah guru menyadari bahwa setiap murid mempunyai kemampuan dan kecenderungan yang berbeda-beda, punya keinginan, punya masalah dan perhatian yang berbeda. Guru juga harus menyadari bahwa pahala dari Allah tengah menanti dan bahwa murid-muridnya itu adalah amanah yang diletakkan di atas pundaknya. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai orang yang menyusahkan dan merendahkan orang lain. Akan tetapi, Allah mengutusku sebagai seorang pengajar (guru) dan pemberi kemudahan.” (HR Muslim) [3].

Sifat jujur dan komitmen juga mesti menghiasi pribadi guru. Ketika guru berjanji pada muridnya ia wajib menepatinya, atau meminta maaf ketika tidak bisa memenuhinya agar integritasnya terjaga saat ia meminta muridnya untuk melakukan sesuatu atau meminta untuk meninggalkan sesuatu. Guru juga harus bersifat rendah hati. Hal inilah yang menjadikan ia memiliki kebesaran jiwa, rendah hati dan tidak lancang mengeluarkan fatwa tanpa dilandasi ilmu. Wajib pula bagi guru untuk terampil dalam materi pengajaran yang dipelajarinya, dan menarik dalam cara penyampaian ilmu kepada anak didiknya [3].

Seorang guru yang semangat dan ikhlas tidak akan menghentikan tugas dan perannya sebatas apa yang sudah diberikan di kelas. Ia sadar, dirinya memiliki daya pengaruh terhadap muridnya dan masyarakat. Guru senantiasa berkata benar dan istiqomah. Ini sebagaimana guru-guru kita, para ulama dan para imam yang mengemban ilmu dan mengajarkan aqidah, ilmu, amal, metode dan dakwah [3].

 

Tantangan Guru Di Era Kapitalistik

Kapitalisme telah sangat garang menghilangkan sifat taqwa dan ikhlas kaum guru. Akibatnya, ini akan memunculkan kemunafikan, kemalasan dan kelalaian. Tak heran jika kemudian mereka menghasilkan anak didik dengan tsaqofah yang dangkal, aqidah yang lemah, tidak peka dan tidak paham masalah umat. Alih-alih menjadi pelopor dalam kebangkitan umat, yang ada justru menjadi beban [3].

Sistem kapitalisme tegak dengan segala pemahamannya yang bertentangan dengan hukum-hukum Islam, bahkan menghancurkan aqidah Islam. Kapitalisme juga menebar kerusakan, sekularisme, liberalisme, dan pemahaman kapitalistik lainnya yang busuk. Menjadi kewajiban para guru untuk menampakkan kerusakan ini dan memerangi ide-ide dan menjelaskan kepalsuan dan bahayanya.  Berkata Abdullah bin Mas’ud ra: “Ilmu tidak diukur oleh banyaknya perkataan, tetapi oleh rasa takut (kepada Allah).” [3].

Sungguh, kaum guru wajib mengajarkan metode berfikir yang benar, tidak ridho terhadap hal-hal yang bertentangan dengan syari’at, meninggikan kebenaran, tidak lembek dan munafik.  Dan hendaknya ia menanamkan dalam hati bahwa umur dan rezeki di tangan Allah, mereka tidak takut dengan celaan orang-orang yang mencela, dan tidak mengajarkan rasa takut dan sikap pengecut [3].

Jadi, guru bukanlah sebatas gudang ilmu, tempat murid-murid menimba ilmu pengetahuan. Namun, ia adalah suri tauladan. Teladan adalah unsur penting dalam penilaian baik dan buruknya guru. Jika ia jujur, amanah, mulia, berani, menjaga diri, berhias dengan akhlak-akhlak yang baik, maka murid-muridnya akan tumbuh menjadi orang yang jujur, amanah, berakhlak mulia, berani dan menjaga diri. Sebaliknya, jika guru berbohong,khianat, munafik, pengecut, maka murid pun akan tumbuh dengan sifat dan akhlak tersebut [3].

Posisi dan peran guru sangat kritis. Lihatlah berapa orang yang sudah dibuat baik olehnya dan berapa yang telah dibuat rusak. Berapa yang diberi pengaruh positif dan berapa yang negatif. Pendidikan dengan teladan lebih efektif dan kuat pengaruhnya dibanding perkatan teoritis semata. Firman Allah SWT dalam QS Al-Baqarah [1] ayat 44:

﴿أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ﴾

Mengapa kalian menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kalian melupakan diri (kewajiban) sendiri, padahal kalian membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidakkah kalian berpikir?

Peran guru tidak boleh terpisah dari umat dan masyarakat. Guru adalah agen perubahan, kaum cerdas dan aktif, ulama dan pejuang, penyeru pada kebaikan dan pencegah kemungkaran, serta penegak kebenaran. Guru juga memiliki pengaruh besar, peran, dan kedudukan yang kini telah hilang akibat hilangnya wibawa Islam setelah runtuhnya Khilafah Islamiyyah. Dan semua itu tidak akan kembali kecuali dengan kembalinya Islam yang kuat dan disegani seperti dulu, dan hal ini mudah bagi Allah untuk mewujudkannya [3].

 

Khatimah

Pesan Sayyidina Ali ra untuk Kumail ibnu Ziyad An-Nakha’i. Kumail bin Ziyad berkata: “Wahai Kumail bin Ziyad, hati ibarat kantong, maka yang paling baik adalah yang paling bisa menjaga ingatan. Ingatlah apa yang saya katakan kepadamu, manusia itu ada tiga macam: pertama adalah ulama Robbani. Kedua adalah orang yang berjalan di atas jalan keselamatan. Dan ketiga adalah manusia liar yang tidak mengenal aturan, yang mengikuti setiap penyeru, terhempas kemana arah angin bertiup, tidak diterangi oleh cahaya ilmu serta tidak bersandar pada tiang yang kokoh. Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu akan menjagamu, sedangkan harta engkaulah yang menjaganya. Ilmu itu berkembang jika diamalkan sedangkan harta menjadi berkurang jika dibelanjakan. Ilmu itu penguasa sedangkan harta adalah yang dikuasai. Para penumpuk harta telah mati semasa mereka hidup, sedangkan para ulama tetap hidup sepanjang zaman. Diri mereka telah wafat akan tetapi karya baik mereka senantiasa terpatri dalam hati.” [3].

Jadi jelas, hanya tuntunan Islam yang mampu mewujudkan guru menjadi generasi pendidik berkualitas. Yang dengannya, atas izin Allah SWT akan dihasilkan anak didik yang juga berkualitas. Wallaahu a’lam bish showab [].

 

Pustaka:

[1] http://nationalgeographic.co.id/berita/2016/05/mengenang-kembali-sejarah-hari-pendidikan-nasional-di-indonesia

[2] https://id.m.wikipedia.org/wiki/Hari_Pendidikan_Nasional?_e_pi_=7%2CPAGE_ID10%2C8553112079

[3] http://hizbut-tahrir.or.id/2017/03/09/bagaimana-menjadi-seorang-guru-dalam-islam/

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>