Wafatnya al-Alim al-Jalil Muhammad al-Rawi

Muhammad al rawi wafatPada hari  Jum’at pagi, 7 Ramadhan 1438 H, atau 2 Juni 2017, telah wafat al-Alim al-Jalil Muhammad al-Rawi, dan jenazahnya dishalatkan di Al-Azhar al-Syarif setelah shalat Jum’at.

*** *** ***

Pertama, di tengah hiruk pikuknya berbagai peristiwa yang menimpa kaum Muslim saat ini, mulai dari kunjungan Trump ke Arab Saudi, memberinya berbagai fasilitas istimewa dan ketergantungan pada perintahnya, hingga pemboikotan Qatar, dan eskalasi permusuhan kepadanya, maka betapa besar kebutuhan kaum Muslim saat ini kepada para ulama yang rabbaniyin seperti Asy-Syeikh al-Alim Muhammad Rawi yarhamuhullah, semoga Allah merahmatinya untuk dengan lantang menyuarakan kebenaran dan membimbing masyarakat kepadanya. Allah SWT berfirman: “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya.” (TQS. Ali Imran [3] : 187). Dan begitulah sikap al-Alim al-Jalil Muhammad al-Rawi terhadap kebenaran.

Kedua, saya berikan Anda contoh dari sekian banyak contoh, misalnya, yang harus menjadi karakter ulama kaum Muslim saat ini, di mana Ibnul Arzaq berkata dalam kitab Badā’iu al-Silki fi Thabā’ii al-Mulki, dengan mengutip dari surat al-Tharthusyi kepada Ali bin Yusuf bin Tasyfin:

Wahai Abu Ayyub, bahwa Anda diuji dengan perkara (kekuasaan) yang jika itu dipikul oleh langit, maka ia akan pecah, jika dipikul oleh bintang-bintang, maka ia akan keruh, jika itu dipikul oleh gunung dan bumi, maka keduanya akan berguncang. Ketahuilah, wahai Abu Ayyub bahwa tidaklah seorang melakukan perzinahan di wilayah kekuasaan Anda dan selama kekuasaan Anda sepanjang umur Anda, maka Anda bertanggung jawab, dituntut dan menanggung dosanya; tidaklah seorang meminum setetes yang memabukkan di dalam kekuasaan Anda, kecuali Anda bertanggung jawab atasnya; tidaklah kehormatan seorang Muslim diperkosa di dalam kekuasaan Anda, kecuali Anda dituntut atasnya; dan tidaklah transaksi riba terjadi di dalam kekuasaan Anda, maka Anda akan dihukum (disiksa) karenanya, sebab Anda mampu mengubahnya.

Hal itu terjadi di zaman Yusuf bin Tasyfin, lalu bagaimana menurut Anda dengan zaman kita sekarang ini!

Ketiga, Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama.” (TQS. Fathir [35] : 28). Para ulama memiliki keutamaan dan keistimewaan yang lebih tinggi di sisi Allah daripada hamba-hamba Allah yang lainnya, yaitu besarnya ketakutan mereka kepada Allah. Dan ketakutan itulah merupakan sifat-sifat ulama yang paling menonjol. Sehingga seorang ulama hendaklah tidak takut kecuali kepada Allah, yang di dalam kekuasaan-Nya ajal (kematian), rizki, manfaat dan bahaya. Dengan demikian, dalam pandangannya para penguasa serta para algojonya itu semuanya kecil. “Sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku.” (TQS. Al-Maidah [5] : 3). Jika demikian keadaannya, hendaklah ulama tampil ke depan di tengah-tengah masyarakat untuk menyampaikan kepada mereka induk semua kewajiban (yaitu berjuang menegakkan Khilafah Rasyidah kedua ‘ala minhājin nubuwah), tentang puncak segala kebaikan (yaitu menerapkan hukum-hukum Allah), dan tentang puncak segala kemungkaran (yaitu menerapkan hukum selain hukum-hukum Allah).

Terakhir, ingatlah bahwa seorang ulama tidak diukur dengan banyaknya ilmu dan pengetahuan yang dikuasainya, namun kesesuaiannya dalam memanfaatkan ilmu dan pengetahuannya terhadap isu-isu penting kontemporer. Imam Ahmad bin Hanbal menentang masalah kemakhlukan al-Qur’an, Abdullah bin Abbas menentang Khawarij, dan Said bin Jubair menentang al-Hajjaj, Izuddin bin Abdussalam menentang Mamalik, Ibnu Taymiyyah berperang melawan Tatar … Begitu juga dengan Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, Sayyid Qutb, al-Mawardi dan Muhammad al-Rawi …

Semoga Allah merahmatimu wahai al-Alim al-Jalil Muhammad al-Rawi, dan menjadikanmu  (tersimpan) dalam ‘Illiyyin. Dan saya akan tetap terus berulang-ulang dalam mengingatmu dan mengingat orang-orang yang sepertimu. Seorang penyair berkata: “Aku mencintai orang-orang shalih sekalipun aku bukan dari mereka *** sebab aku berharap mendapatkan syafaat karena cinta pada mereka.” [Ghassan al-Kaswani – Baitul Maqdis]

Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 9/6/2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>